Najis mutawassithah atau yang sering ditulis najis mutawasitah adalah najis sedang. Kedudukannya berada di antara najis ringan (mukhaffafah) dan najis berat (mughallazhah).
Pembahasan utamanya bukan sekadar “najis ini sedang”, tetapi juga bentuknya. Najis mutawassithah terbagi menjadi dua: najis ‘ainiyah yang masih memiliki tanda fisik, serta najis hukmiyah yang zatnya sudah tidak tampak tetapi hukum najisnya masih ada.
Pembahasan ini perlu dibaca bersama panduan lengkap najis dalam Islam dan penjelasan tentang perbedaan najis dan hadats. Keduanya menerangkan posisi najis sedang di antara pembagian najis yang lain.
Pengertian Najis Mutawassithah

Najis mutawassithah adalah najis selain najis mukhaffafah dan najis mughallazhah. Ia kerap disebut najis sedang karena berada di antara dua tingkatan tersebut dalam pembahasan cara penyuciannya.
Al-Khatib al-Syirbini menyebut urine dan kotoran sebagai contoh pembicaraan najis pertengahan:
«أَرَادَ بِهِ النَّجَاسَةَ الْمُتَوَسِّطَةَ كَالْبَوْلِ وَالْغَائِطِ»
Artinya: “Yang dimaksud ialah najis pertengahan, seperti urine dan kotoran.”[1]
Istilah “sedang” tidak berarti najis ini boleh diabaikan. Najis harus dihilangkan dari badan, pakaian, dan tempat shalat ketika menjadi penghalang sahnya shalat.
Najis Mutawassithah Dibagi Menjadi Dua

Dalam pembahasan penyucian, najis sedang dilihat dari keadaannya pada benda yang terkena. Najis itu mungkin masih dapat dikenali, atau mungkin sudah tidak tampak tetapi tempatnya diketahui pernah terkena najis.
Zakariyya al-Anshari menjelaskan:
«ثُمَّ النَّجَاسَةُ إِمَّا عَيْنِيَّةٌ، وَهِيَ الَّتِي تُحَسُّ، أَوْ حُكْمِيَّةٌ، وَهِيَ بِخِلَافِهَا كَبَوْلٍ جَفَّ، وَلَمْ يُوجَدْ لَهُ أَثَرٌ، وَلَا رِيحٌ»
Artinya: “Najis adakalanya ‘ainiyah, yaitu yang masih dapat diketahui keberadaannya; dan adakalanya hukmiyah, yaitu kebalikannya, seperti urine yang telah kering, tidak didapati bekasnya, dan tidak pula baunya.”[2]
| Jenis | Keadaan najis | Pokok penyucian |
|---|---|---|
| Najis ‘ainiyah | Zat atau sifat najis masih ada, seperti warna atau bau | Hilangkan zat najis dan sifat yang wajib dihilangkan |
| Najis hukmiyah | Zat, warna, dan bau sudah tidak tampak, tetapi tempatnya diyakini terkena najis | Alirkan air pada tempat yang terkena |
Najis ‘Ainiyah: Najis yang Masih Berwujud atau Berbekas
Najis ainiyah adalah najis yang masih dapat dikenali melalui zatnya atau salah satu sifatnya. Dalam praktik, yang tampak biasanya benda najis, warna, atau bau.
Contohnya ialah kotoran yang masih menempel pada sandal, urine yang masih basah pada kain, muntah pada lantai, atau darah haid yang masih meninggalkan warna. Semua itu perlu diperlakukan sebagai najis yang masih berbekas.
Darah haid yang telah kering termasuk jenis najis mutawassithah. Apabila warnanya masih terlihat pada kain, ia tetap tergolong najis ‘ainiyah; keringnya benda najis tidak dengan sendirinya menjadikannya suci.
Najis Hukmiyah: Najis yang Tinggal Hukumnya
Najis hukmiyah adalah najis yang zat, warna, dan baunya sudah tidak ada. Namun, status najis tetap ada karena seseorang mengetahui secara pasti bahwa tempat tersebut pernah terkena najis dan belum disucikan.
Contohnya, urine pernah mengenai lantai lalu kering tanpa menyisakan warna atau bau. Ini termasuk contoh najis mutawasitah hukmiyah; cara menyucikannya lebih sederhana daripada najis ‘ainiyah.
Jangan menjadikan rasa ragu sebagai dasar menetapkan najis hukmiyah. Hukum tersebut berlaku ketika ada keyakinan atau bukti yang jelas bahwa tempat itu terkena najis.
Contoh Najis Mutawassithah
Berikut contoh najis mutawasitah yang lazim disebut dalam fikih Syafi’i, selama tidak masuk pengecualian atau kategori khusus lain:
- Urine dan kotoran.
- Darah, nanah, dan muntah.
- Madzi dan wadi.
- Khamr menurut Mazhab Syafi’i.
- Bangkai selain yang dikecualikan oleh syariat.
Zakariyya al-Anshari menyebut beberapa contoh tersebut dalam pembahasan benda najis:
«فَرْعُ الْمُسْتَحِيلِ فِي الْبَاطِنِ نَجِسٌ كَدَمٍ … وَقَيْحٍ … وَقَيْءٍ … وَعَذِرَةٍ وَبَوْلٍ وَرَوْثٍ … وَمَذْيٍ وَوَدْيٍ»
Artinya: “Sesuatu yang berubah di dalam tubuh dihukumi najis, seperti darah, nanah, muntah, kotoran, urine, kotoran hewan, madzi, dan wadi.”[3]
Daftar tersebut tidak berarti setiap keadaan selalu sama. Misalnya, ada pembahasan tersendiri tentang najis yang dimaafkan dalam jumlah kecil. Artikel ini membahas kaidah umum cara membersihkan najis mutawasitah pada benda yang benar-benar terkena najis.
Cara Mensucikan Najis ‘Ainiyah

Najis ‘ainiyah disucikan dengan menghilangkan zat najis serta sifatnya menurut rincian yang ditetapkan fikih. Air yang dipakai ialah air mutlak, yaitu air suci yang dapat mensucikan.
«وَيُطَهَّرُ مُتَنَجِّسٌ بِعَيْنِيَّةٍ بِغَسْلٍ مُزِيلٍ لِلطَّعْمِ … وَكَذَا مُزِيلٍ لِلَّوْنِ وَرِيحٍ سَهْلَيْنِ»
Artinya: “Benda yang terkena najis ‘ainiyah menjadi suci dengan cucian yang menghilangkan rasa najis; demikian pula warna dan bau yang mudah dihilangkan.”[4]
Langkah praktisnya sebagai berikut:
- Buang atau singkirkan zat najis yang masih ada, misalnya kotoran, muntah, atau gumpalan darah.
- Siram bagian yang terkena dengan air mutlak sampai air mengenai seluruh tempat najis.
- Hilangkan rasa najis menurut ukuran hukum. Dalam praktik sehari-hari, jangan pernah mencicipi benda najis; pembahasan rasa di kitab menjelaskan bahwa tersisanya rasa menunjukkan zat najis masih ada.
- Hilangkan warna dan bau apabila mudah hilang. Bila keduanya masih tersisa bersama-sama, benda tersebut belum suci.
- Ada keringanan bila hanya satu sifat yang tersisa. Jika hanya warna atau hanya bau yang tertinggal dan benar-benar sulit dihilangkan setelah usaha yang wajar, benda itu dihukumi suci.[4]
Satu kali basuhan yang benar-benar menghilangkan najis sudah memenuhi kewajiban. Mencuci hingga tiga kali adalah sunnah sebagai bentuk kehati-hatian, bukan syarat wajib untuk najis sedang.[5]
Cara Mensucikan Najis Hukmiyah

Najis hukmiyah tidak menuntut pencarian zat atau warna yang memang sudah tidak ada. Yang diperlukan ialah mengalirkan air pada bagian yang diketahui terkena najis.
«وَيُطَهَّرُ الْمُتَنَجِّسُ فِي الْحُكْمِيَّةِ بِجَرَيَانِ الْمَاءِ عَلَيْهِ، وَلَوْ لَمْ يُعْصَرْ»
Artinya: “Benda yang terkena najis hukmiyah menjadi suci dengan mengalirkan air padanya, meskipun tidak diperas.”[6]
Karena itu, pakaian yang terkena urine lalu sudah kering dapat disucikan dengan mengalirkan air ke area tersebut. Memeras pakaian tidak menjadi syarat sah, walaupun boleh dilakukan agar lebih mudah mengering.
Apabila air yang dipakai sedikit, air perlu didatangkan kepada tempat najis. Jangan membalik caranya dengan memasukkan benda bernajis ke dalam wadah kecil berisi air.
«وَالْمَاءُ الْوَارِدُ عَلَى الْمُتَنَجِّسِ طَهُورٌ مَا لَمْ يَتَغَيَّرْ أَوْ يَنْفَصِلْ عَنْهُ»
Artinya: “Air yang datang mengenai benda terkena najis adalah suci lagi mensucikan selama tidak berubah atau belum terpisah darinya.”[7]
Penerapan pada Pakaian, Lantai, dan Benda Licin
Pakaian dan Kain
Untuk pakaian yang terkena najis ‘ainiyah, singkirkan dahulu zat najisnya lalu basuh bagian yang terkena. Untuk najis hukmiyah, alirkan air pada lokasi yang diyakini terkena najis.
Tidak perlu mencuci seluruh pakaian jika najis hanya mengenai satu bagian yang jelas. Cukup bersihkan lokasi najis itu sampai memenuhi ketentuan penyucian.
Lantai atau Tanah
Najis pada lantai disucikan dengan menuangkan air hingga air tersebut menguasai area najis. Rinciannya disebut dalam kitab:
«وَلَوْ صُبَّ عَلَى مَوْضِعِ بَوْلٍ أَوْ خَمْرٍ أَوْ نَحْوِهِمَا مِنْ أَرْضٍ مَا أَغْمَرَهُ طَهُرَ، وَلَوْ لَمْ يَنْضُبْ»
Artinya: “Apabila dituangkan pada tempat urine, khamr, atau semisal keduanya di tanah air yang menggenanginya, tempat itu menjadi suci, meskipun airnya tidak meresap.”[8]
Prinsip ini dapat diterapkan pada lantai yang terkena najis: hilangkan dahulu zatnya bila ada, lalu siram area tersebut hingga air meliputinya.
Benda Licin
Permukaan licin seperti kaca, keramik, pisau, atau logam tidak cukup hanya dilap ketika terkena najis. Ia tetap perlu dicuci dengan air.
«وَالصَّقِيلُ مِنْ سَيْفٍ، وَسِكِّينٍ، وَنَحْوِهِمَا كَغَيْرِهِ فِي أَنَّهُ لَا يَطْهُرُ إِلَّا بِغَسْلِهِ فَلَا يَطْهُرُ بِمَسْحِهِ»
Artinya: “Benda licin seperti pedang, pisau, dan sejenisnya sama seperti benda lain: tidak suci kecuali dengan dicuci, maka tidak suci hanya dengan dilap.”[6]
Perbedaan Najis Sedang dengan Najis Ringan dan Berat
| Tingkatan | Contoh pokok | Cara penyucian |
|---|---|---|
| Mukhaffafah | Urine bayi laki-laki yang belum mengonsumsi makanan untuk nutrisi, dengan syaratnya | Percikkan air hingga menguasai tempat najis |
| Mutawassithah | Urine, kotoran, darah, muntah, madzi, dan wadi | Hilangkan zat najis bila masih ada; untuk hukmiyah cukup alirkan air |
| Mughallazhah | Anjing, babi, dan turunannya | Tujuh kali basuhan, salah satunya dengan tanah |
Perbedaan ini menjawab pertanyaan najis sedang dicuci dengan apa: najis sedang dicuci memakai air mutlak, tanpa syarat tujuh basuhan. Untuk langkah yang lebih terperinci, baca cara membersihkan najis sedang.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
- Mengira najis yang telah kering otomatis suci.
- Menganggap tisu kering saja sudah cukup untuk menyucikan pakaian atau tempat shalat.
- Menyamakan najis sedang dengan najis anjing atau babi sehingga mensyaratkan tujuh basuhan.
- Memakai percikan air untuk seluruh najis sedang; cara percik khusus berlaku pada najis mukhaffafah dengan syaratnya.
- Menetapkan najis karena waswas, padahal tidak ada keyakinan bahwa benda tersebut benar-benar terkena najis.
Catatan Kaki
[1]: Muhammad al-Khatib al-Syirbini, Al-Iqna’ fi Hall Alfaz Abi Syuja’, Juz 1, Hal. 89.
[2]: Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal. 19.
[3]: Ibid., Hal. 12–13.
[4]: Ibid., Hal. 19.
[5]: Muhammad al-Khatib al-Syirbini, Al-Iqna’ fi Hall Alfaz Abi Syuja’, Juz 1, Hal. 93–94.
[6]: Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal. 19.
FAQ
Apa itu najis mutawassithah?
Sebutkan tiga contoh najis mutawassithah.
Tiga contoh yang mudah dikenali ialah urine, kotoran, dan darah. Contoh lain ialah muntah, nanah, madzi, dan wadi.
Setiap contoh perlu dilihat lagi keadaannya: masih berwujud atau sudah tinggal hukumnya.
Darah haid yang telah kering termasuk najis apa?
Darah haid yang telah kering tetap termasuk najis mutawassithah. Bila warnanya masih ada, ia tergolong najis ‘ainiyah dan warnanya diusahakan hilang apabila mudah dihilangkan.[4]
Bila tidak tersisa zat, warna, maupun bau, tetapi tempatnya diketahui pernah terkena darah dan belum disucikan, ia diperlakukan sebagai najis hukmiyah.
Berapa kali mencuci najis mutawassithah?
Apakah najis sedang cukup dibersihkan dengan tisu?
Tidak. Tisu dapat dipakai untuk mengangkat zat najis yang tampak, tetapi penyucian tetap memerlukan air mutlak.
Untuk najis hukmiyah, alirkan air pada bagian yang terkena najis. Untuk najis ‘ainiyah, hilangkan dahulu zatnya lalu basuh tempat tersebut.
Referensi
- al-Shirbīnī, Shams al-Dīn Muḥammad ibn Aḥmad. Al-Iqnāʿ fī Ḥall Alfāẓ Abī Shujāʿ. Edited by Maktab al-Buḥūth wa al-Dirāsāt, Dār al-Fikr. Beirut: Dār al-Fikr, vol. 1, p. 89-94.
- Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 12-20.




