Kisah Nabi Sulaiman dan Semut: Nasihat Menggetarkan di Wadi An-Naml

Pernahkah kita membayangkan seorang raja agung yang kekuasaannya meliputi manusia, jin, dan burung, justru terdiam dan tersenyum mendengar ucapan seekor serangga kecil? Kisah Nabi Sulaiman dan semut adalah salah satu momen paling menakjubkan dalam sejarah para nabi. Peristiwa ini bukan sekadar menunjukkan mukjizat sang Nabi, melainkan menyimpan pesan mendalam tentang keadilan, kepemimpinan, dan hakikat kehidupan dunia.

Kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ini diuraikan dengan sangat indah oleh para mufasir. Berdasarkan rujukan dari kitab Al-Bahr Al-Madid fi Tafsir Al-Qur’an Al-Majid (Juz 4, Halaman 184-186) karya Syekh Ibnu ‘Ajibah, terdapat berbagai detail menarik dan dialog sarat hikmah yang jarang diketahui banyak orang. Mari kita selami perjalanan sang penakluk angin saat melintasi Lembah Semut (Wadi An-Naml).

Latar Belakang Kisah: Pasukan Udara di Atas Wadi An-Naml

Semut Thahiyah memberi peringatan kepada koloninya untuk masuk ke sarang di Wadi An-Naml.
Kisah Nabi Sulaiman dan Semut

Perjalanan megah Nabi Sulaiman عليه السلام bersama pasukannya tidak dilakukan melalui jalur darat biasa, melainkan melalui udara. Syekh Ibnu ‘Ajibah menjelaskan bahwa dalam ayat disebutkan hatta idza ataw ‘ala wadi an-naml (Hingga apabila mereka sampai di lembah semut). Penggunaan kata ‘ala (di atas) menunjukkan bahwa kedatangan Nabi Sulaiman dan pasukannya adalah dari arah atas, yakni terbang di udara menggunakan hembusan angin. Mereka merencanakan untuk turun di titik tertinggi lembah tersebut.

Di manakah letak Wadi An-Naml atau Lembah Semut ini? Terdapat beberapa pendapat di kalangan ulama salaf:

  • Menurut Muqatil, lembah tersebut berada di negeri Syam (Suriah dan sekitarnya) dan memang sangat dipenuhi oleh kawanan semut.
  • Menurut Ka’b, lokasinya berada di Tha’if. Beliau menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman melintasi Wadi As-Sadir, salah satu lembah di wilayah Tha’if.
  • Ada pula pendapat yang menyatakan bahwa itu adalah lembah tempat tinggal bangsa jin, dan semut-semut di sana dijadikan sebagai kendaraan (tunggangan) para jin. Nauf Al-Himyari menyebutkan bahwa semut-semut di lembah Nabi Sulaiman tersebut memiliki ukuran sebesar lalat.

Kepanikan Sang Semut dan Peringatan untuk Kaumnya

Melihat kedatangan pasukan yang luar biasa besar dari udara, seekor semut menyadari bahaya yang mengancam koloninya. Ka’b mendeskripsikan bahwa semut tersebut berjalan dengan kondisi pincang (tarjaa) dan melangkah tertatih-tatih seperti serigala. Ulama seperti Adh-Dhahhak menyebutkan nama semut tersebut adalah Thahiyah. Pendapat lain mengatakan namanya adalah Mundzirah (Pemberi Peringatan) atau Jarmi.

Begitu melihat rombongan tersebut, semut itu lari dan berteriak memberikan peringatan keras kepada kawanannya, sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an:
“Berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (QS. An-Naml: 18).

Ada keunikan linguistik dalam panggilan semut ini. Al-Qur’an menggunakan sapaan untuk makhluk berakal (udkhulu masakinakum – bukan udkhulna). Syekh Ibnu ‘Ajibah menjelaskan, karena semut ini sedang berbicara memberi instruksi layaknya manusia berakal, maka kata ganti yang digunakan pun disamakan dengan makhluk berakal.

Kecerdasan Semut dalam Berprasangka Baik

Ucapan semut, “agar kamu tidak diinjak…” sekilas terdengar seperti larangan bagi pasukan Nabi Sulaiman. Namun hakikatnya, itu adalah larangan dari sang semut kepada kaumnya agar tidak menampakkan diri di luar.

Hebatnya, sang semut menutup kalimatnya dengan wahum la yasy’urun (sedangkan mereka tidak menyadari). Ini adalah bentuk uzur (pemakluman) dari sang semut. Ia menyifati Nabi Sulaiman dan pasukannya dengan sifat adil. Seolah sang semut berkata: “Jika mereka sadar dan melihat kita, mereka tentu tidak akan menginjak kita karena mereka orang-orang yang adil.”

Perdebatan Menarik: Semut Jantan atau Betina?

Kaligrafi Arab Qalat Namlatun yang menunjukkan keajaiban linguistik semut betina dalam Al-Qur'an.
Kisah Nabi Sulaiman dan Semut

Mengenai jenis kelamin semut ini, terdapat kisah masyhur yang melibatkan Imam Qatadah dan Imam Abu Hanifah saat masih muda.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Imam Qatadah datang ke kota Kufah. Orang-orang berkerumun, dan beliau berkata menantang, “Tanyalah kepadaku tentang apa saja yang kalian kehendaki!”

Abu Hanifah muda maju dan bertanya, “Tentang semut Nabi Sulaiman, apakah ia jantan atau betina?”
Mendapat pertanyaan tajam itu, Imam Qatadah terdiam. Abu Hanifah kemudian menjawab sendiri pertanyaannya, “Semut itu adalah betina.”

Seseorang bertanya, “Dari mana engkau mengetahuinya?”
Abu Hanifah menjawab cerdas, “Dari firman Allah Ta’ala: ‘Qalat namlatun’ (berkatalah seekor semut betina). Seandainya semut itu jantan, niscaya Allah akan berfirman: ‘Qala namlatun’.”

Dialog Spiritual: Nasihat Menggetarkan dari Sang Semut

Dengan kekuasaan Allah, angin membawa suara peringatan semut tersebut hingga terdengar oleh Nabi Sulaiman dari jarak tiga mil. Diriwayatkan dalam catatan tafsir bahwa sempat terjadi perbincangan batin antara Nabi Sulaiman dengan semut tersebut.

Nabi Sulaiman bertanya, “Mengapa engkau memperingatkan kaum semut, apakah engkau takut pada kezalimanku? Tidakkah engkau tahu bahwa aku adalah Nabi yang adil?”

Semut pun menjawab, “Tidakkah engkau mendengar ucapanku: ‘sedangkan mereka tidak menyadari’? Lagipula, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa pasukanmu akan menghancurkan nyawa kami (hatm an-nufus). Yang kutakutkan adalah hancurnya hati kaumku (hatm al-qulub). Aku khawatir semut-semutku akan melihat kemegahan kerajaanmu, lalu mereka sibuk memandangimu dan lalai dari bertasbih kepada Allah.”

Mendengar hal itu, Nabi Sulaiman terkesima. Beliau meminta, “Berilah aku nasihat!”

Semut berkata, “Tahukah engkau mengapa ayahmu diberi nama Dawud?”
Nabi Sulaiman menjawab, “Tidak.”
Semut menjelaskan, “Karena beliau mengobati lukanya (dawwa harajahu – menyembuhkan dirinya dari penyesalan).”

Semut bertanya lagi, “Tahukah engkau mengapa engkau diberi nama Sulaiman?”
“Tidak,” jawab Nabi Sulaiman.
Semut memaparkan, “Karena engkau adalah Salim (bersih/selamat). Engkau tidak terlena dengan segala kekayaan yang diberikan kepadamu, karena keselamatan hatimu.”

Semut kembali melontarkan pertanyaan, “Tahukah engkau mengapa Allah menundukkan angin untukmu?”
“Tidak.”
Semut pun memberikan pukulan rohani yang telak, “Allah ingin memberitahumu bahwa dunia ini seluruhnya hanyalah ibarat hembusan angin semata.”

Doa Syukur di Puncak Kejayaan

Kaligrafi doa syukur Nabi Sulaiman di atas pemandangan padang pasir dengan angin berhembus.
Kisah Nabi Sulaiman dan Semut

Mendengar kepintaran dan nasihat mendalam tersebut, Nabi Sulaiman menunjukkan reaksi luar biasa: “Maka dia tersenyum dengan tertawa…” (QS. An-Naml: 19).

Syekh Ibnu ‘Ajibah menerangkan bahwa kebanyakan tertawanya para Nabi adalah berupa senyuman. Nabi Sulaiman takjub akan kepedulian sang semut terhadap kemaslahatan kaumnya dan gembira karena keadilannya diakui makhluk sekecil semut. Beliau menghentikan pasukan angin sejenak agar semut-semut tidak ketakutan hingga mereka masuk ke dalam sarang.

Di momen keajaiban itu, Nabi Sulaiman memanjatkan doa:
“Ya Tuhanku, awzi’ni (berilah aku ilham/tahanlah diriku) untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku…”

Kata awzi’ni pada asalnya berarti “mencegah/menahan”, bermakna: Tahanlah diriku dari segala sesuatu kecuali dari mensyukuri nikmat-Mu. Beliau sadar betul bahwa keselamatan hakiki dan surga hanyalah karena rahmat Allah, bukan semata karena kehebatan amalnya.

Hikmah dan Pelajaran Berharga

Dari narasi tafsir Al-Bahr Al-Madid di atas, terdapat lima pelajaran esensial bagi kehidupan kita:

  1. Pemimpin yang Melindungi Bawahannya: Semut Thahiyah berani mengambil risiko memperingatkan kawanannya. Ini adalah teladan kepemimpinan sejati.
  2. Keindahan Berprasangka Baik (Husnuzhan): Semut tidak menuduh Nabi Sulaiman berniat membunuh, melainkan memberi uzur dengan berkata “mereka tidak menyadari”.
  3. Kefanaan Dunia: Nasihat semut bahwa “dunia ibarat angin” adalah pengingat keras bahwa kemegahan setinggi apa pun pada akhirnya akan berlalu.
  4. Bahaya Gemerlap Dunia bagi Hati: Kekhawatiran semut bahwa kaumnya akan lalai bertasbih karena kagum melihat kemegahan militer sangat relevan. Sering kali hati kita rusak (hatm al-qulub) dan lupa beribadah karena terlalu silau mengagumi harta orang lain.
  5. Syukur di Saat Berjaya: Bukannya sombong saat ditakuti, Nabi Sulaiman justru berdoa memohon taufik untuk terus bersyukur.

Kemuliaan semut inilah yang kelak membuat Rasulullah ﷺ melarang umatnya membunuh empat hewan: burung hud-hud, burung surad, lebah, dan semut (Riwayat Ibnu Abbas). Semoga kisah Nabi Sulaiman dan semut ini menginspirasi kita untuk terus menjaga kejernihan hati dan memandang dunia dengan kacamata kerendahan hati. Wallahu a’lam bish-shawab.

⚠️ Catatan Verifikasi: Dialog spesifik mengenai nasihat tentang nama Dawud, Sulaiman, dan kefanaan angin bersumber dari penjelasan kitab tafsir (pendekatan hikmah) yang biasa digunakan ulama untuk ibrah kerohanian, bukan dari teks eksplisit Al-Qur’an itu sendiri.

Aḥmad ibn Muḥammad ibn al-Mahdī ibn ʿAjībah, Al-Baḥr al-Madīd fī Tafsīr al-Qurʾān al-Majīd, tahkik Aḥmad ʿAbd Allāh al-Qurashī Raslān (Kairo: Dr. Ḥasan ʿAbbās Zakī, 1419 H), jil. 4, hlm. 184-186.

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.