Seorang ayah duduk termenung. Anak-anaknya banyak, kebutuhan menumpuk, dan pintu rezeki terasa kian sempit. Dalam keputusasaan, terlintas di benaknya sebuah pikiran yang berat: pergi saja, menghilang dari semua beban ini.
Namun di tengah jalan, ia bertemu seseorang yang menawarinya pekerjaan sederhana. Dari pekerjaan sederhana itulah Allah membukakan pelajaran besar baginya, dan bagi kita semua. Kisah hikmah rezeki dari Allah ini dinukil oleh Imam Al-Qusyairi dalam kitabnya tentang Asmaul Husna, dan relevan bagi siapa pun yang pernah cemas memikirkan nafkah.
Artikel ini mengajak Anda menyimak kisahnya, memetik pelajarannya, dan menerapkannya dalam hidup sehari-hari.
Sumber dan Status Kisah Ini
Kisah ini disebutkan oleh Abul Qasim Al-Qusyairi dalam Syarh Asma’ Allah al-Husna (juz 1, hlm. 167), pada pembahasan nama Allah Al-Jabbar, dalam fasal bertajuk “Serahkanlah urusanmu kepada Al-Jabbar”.
Perlu dicatat, Al-Qusyairi menyampaikannya dengan redaksi wa qad hukiya (“dan telah dikisahkan”). Artinya, ini adalah hikayat, bukan hadis Nabi ﷺ dan bukan riwayat yang disebutkan sanadnya dalam kutipan ini. Karena itu, kita mengambilnya sebagai pelajaran dan renungan, bukan sebagai dalil hukum. Pelajaran pokoknya sendiri sejalan dengan ajaran Al-Qur’an tentang rezeki.
Kisah Seorang Ayah yang Hampir Menyerah
Dikisahkan ada seorang laki-laki yang memiliki banyak tanggungan keluarga. Kondisi ekonominya semakin sulit hingga ia berniat pergi meninggalkan mereka.
Di tengah niat itu, seseorang menyongsongnya dan menawarkan upah satu dinar. Tugasnya sederhana: memberi minum seekor burung di dalam sangkar sampai burung itu kenyang. Laki-laki itu menganggap tawaran tersebut sangat murah dan mudah, lalu menerimanya.
Orang itu menunjukkan sebuah sumur. Si ayah pun mulai menimba air dan memberi minum burung tersebut.
Seharian Menimba, Burung Tak Kunjung Puas

Sepanjang hari ia menimba dan memberi minum. Namun sampai sore tiba, burung itu belum juga merasa puas. Dadanya mulai sesak oleh lelah dan putus asa.
Ternyata yang Datang Adalah Seorang Malaikat
Pada saat itulah orang tersebut berkata bahwa ia bukan manusia. Ia adalah malaikat yang diutus Allah untuk memperlihatkan kelemahan si ayah. Maknanya: engkau tidak mampu mengenyangkan seekor burung kecil, lalu bagaimana engkau hendak menanggung rezeki keluargamu?
Malaikat itu menasihatinya agar kembali kepada keluarganya dan menantikan rezeki dari Allah Ta’ala, sebab Dialah Sang Pemberi Rezeki, bukan dirimu.
Teks asli (Al-Qusyairi, Syarh Asma’ Allah al-Husna, 1/167):
وقد حكى أن رجلا كان كثير العيال، وأنه ضاقت عليه أسباب المعيشة فهمّ أن يهرب عنهم، فاستقبله شخص فقال له: هل تأجرنى على أن تسقى طيرا لى فى القفص فترويه وتأخذ منى دينارا، فاسترخص الرجل ذلك، وأجابه إليه، فدله على بئر وقال: تستقى من هذا البئر وتروى هذا الطائر، فلم يزل الرجل يسقى الطائر طول نهاره إلى المساء، والطائر لم يرو، فلما أمسى ضاق صدر الرجل، فقال له ذلك الشخص: إنى لست ببشر، وإنما أنا ملك بعثنى الله إليك ليريك ضعفك، إنك لم تقدر أن تروى طائرا، فكيف ترزق عيالك! ارجع إليهم وانتظر الرزق من الله تعالى، فإنه هو الرزاق لا أنت.
Hikmah dan Pelajaran dari Kisah Ini
1. Rezeki adalah urusan Allah, bukan kemampuan kita semata
Pelajaran inti kisah ini ada pada kalimat penutup malaikat: Allah-lah Ar-Razzaq. Kita diperintahkan berikhtiar, tetapi hasil dan kecukupan sepenuhnya berada di tangan-Nya. Menyadari ini melepaskan kita dari beban merasa menjadi satu-satunya penjamin hidup keluarga.
2. Menyadari kelemahan diri adalah pintu tawakal
Sang ayah baru memahami batas kemampuannya setelah seharian gagal mengenyangkan seekor burung. Kesadaran akan kelemahan inilah yang membuka hati untuk bersandar kepada Allah. Dalam kehidupan modern, kita sering merasa semua bisa dikendalikan dengan perencanaan, padahal ada banyak hal yang di luar jangkauan kita.
3. Lari dari tanggung jawab bukan solusi
Kisah ini berakhir dengan perintah kembali kepada keluarga. Tawakal bukan berarti meninggalkan kewajiban. Justru sebaliknya: tetap hadir, tetap berusaha, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
4. Tawakal berjalan bersama ikhtiar
Perhatikan bahwa pelajaran ini diberikan melalui sebuah pekerjaan. Sang ayah tidak diminta duduk berpangku tangan. Dalam praktik, ini berarti: cari nafkah dengan cara yang halal, rencanakan keuangan dengan baik, lalu hati bersandar kepada Allah, bukan kepada gaji, jabatan, atau usaha semata.
5. Kecemasan rezeki bisa diobati dengan mengenal Allah
Al-Qusyairi menempatkan kisah ini dalam pembahasan nama Allah Al-Jabbar dan ajakan memasrahkan urusan kepada-Nya. Semakin kita mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah, semakin tenang hati menghadapi ketidakpastian.
Dalil Terkait tentang Rezeki

- QS. Adz-Dzariyat [51]: 58: Allah-lah Pemberi rezeki, Yang Mempunyai kekuatan lagi Sangat Kokoh.
- QS. Hud [11]: 6: Tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.
- QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3: Barang siapa bertakwa kepada Allah, Dia akan memberinya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Penutup
Kisah hikmah rezeki dari Allah tentang seorang ayah dan seekor burung ini mengingatkan kita bahwa tugas kita adalah berusaha dan bertanggung jawab, sedangkan mencukupkan adalah wewenang Allah. Jika hari ini dada terasa sempit karena urusan nafkah, jangan lari dari tanggung jawab. Kembalilah kepada keluarga, kuatkan ikhtiar, dan serahkan hasilnya kepada Ar-Razzaq.
Mari renungkan: dalam urusan apa hari ini kita merasa seolah-olah kitalah yang menentukan segalanya?
Doa penutup:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allahumma-kfinî bi-halâlika ‘an harâmika wa aghninî bi-fadhlika ‘amman siwâk.
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dari-Mu sehingga tidak butuh yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu sehingga tidak bergantung kepada selain-Mu.” (HR. At-Tirmidzi; mohon diverifikasi derajat dan redaksinya sebelum publikasi.)
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Apakah kisah ayah dan burung ini hadis?
Bukan. Kisah ini disebutkan Al-Qusyairi dengan redaksi hukiya (dikisahkan), sehingga berstatus hikayat. Ia dipetik sebagai nasihat, bukan sebagai dalil hukum.
Siapa yang menyebutkan kisah ini?
Imam Al-Qusyairi dalam Syarh Asma’ Allah al-Husna, juz 1 halaman 167, pada pembahasan nama Allah Al-Jabbar.
Apa pelajaran utama dari kisah ini?
Rezeki sepenuhnya di tangan Allah. Manusia wajib berikhtiar dan menunaikan tanggung jawab, tetapi tidak menjadi penjamin hasilnya.
Apakah tawakal berarti tidak perlu bekerja?
Tidak. Dalam kisah ini, sang ayah diajari tawakal justru lewat sebuah pekerjaan, lalu diperintahkan kembali kepada keluarganya. Tawakal adalah ikhtiar yang disertai kepasrahan hasil kepada Allah.
Bagaimana cara menghilangkan cemas soal rezeki?
Perkuat ikhtiar yang halal, perbanyak doa dan istighfar, serta pelajari nama-nama Allah seperti Ar-Razzaq. Jika kecemasan terasa berat, bicarakan dengan keluarga atau ustaz yang Anda percaya.
- Al-Qusyairi, Syarh Asma’ Allah al-Husna, juz 1, hlm. 167, pembahasan nama Allah Al-Jabbar, fasal “Fawwidh umurak ila al-Jabbar”.




