Alat Bersuci Selain Air: Tanah, Batu, dan Penyamakan

Air adalah alat bersuci yang paling kita kenal. Tetapi dalam fiqih Syafi’i, ada tanah untuk tayammum, batu untuk istinja, dan bahan penyamak untuk kulit bangkai. Pertanyaannya: bila penyuci umum hanya air, bagaimana kedudukan ketiga benda ini?

Artikel ini menjawabnya dari kitab Asna al-Mathalib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari. Kita awali dengan kaidah dasarnya, lalu membahas tanah, batu, dan penyamakan satu per satu.


Daftar Isi

Pengantar: Air Adalah Alat Bersuci Utama, Tapi Bukan Satu-satunya Media

Banyak orang bertanya, apa saja alat bersuci selain air? Pertanyaan ini wajar. Kita terbiasa melihat air sebagai satu-satunya jalan, padahal syariat menyediakan beberapa media yang dapat digunakan untuk bersuci. Masing-masing punya tugas, syarat, dan batas sendiri.

Sebelum membahasnya satu per satu, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud bersuci dalam fiqih. Dari situ kita bisa melihat pekerjaan apa yang dibebankan kepada tiap alat.

Dua Kategori Alat Bersuci: Pengangkat Hadats dan Penghilang Najis

Infografis peta konsep pembagian alat bersuci dalam fikih Islam, Pengangkat Hadats vs. Penghilang Najis, menurut kitab Asna al-Mathalib.
Pembagian Alat Bersuci: Pengangkat Hadats dan Penghilang Najis Menurut Kitab Asna al-Mathalib.

Imam Zakariyya al-Anshari mendefinisikan thaharah menurut istilah syara’ sebagai berikut:

وشرعا رفع حدث أو إزالة نجس أو ما في معناهما، وعلى صورتهما كالتيمم، والأغسال المسنونة، وتجديد الوضوء، والغسلة الثانية، والثالثة[1]

Artinya: thaharah menurut syara’ adalah mengangkat hadats atau menghilangkan najis, atau sesuatu yang semakna dan serupa bentuknya. Contohnya tayammum, mandi sunnah, memperbarui wudhu, serta basuhan kedua dan ketiga.

Dari definisi ini, alat bersuci dibagi menjadi dua menurut tugasnya:

  • Alat untuk hadats: air pada wudhu dan mandi, serta tanah pada tayammum.
  • Alat untuk najis (khabats): air, batu istinja, dan bahan penyamak.

Kitab menjelaskan kedua istilah itu dengan singkat:

قوله: (المطهر للحدث) ، وهو هنا أمر اعتباري يقوم بالأعضاء يمنع صحة الصلاة حيث لا مرخص (والخبث) ، وهو مستقذر يمنع صحة الصلاة حيث لا مرخص[2]

Hadats adalah perkara yang diakui secara hukum (amr i’tibari), melekat pada anggota badan, dan menghalangi sahnya shalat bila tidak ada keringanan. Khabats adalah sesuatu yang kotor (mustaqdzar) yang juga menghalangi sahnya shalat bila tidak ada keringanan.

Peta Artikel: Tanah (Tayammum), Batu (Istinja), Bahan Penyamak (Kulit)

Ada tiga alat thaharah selain air yang kita bahas, berurutan seperti ini:

  1. Tanah (turab): dipakai dalam tayammum dan dalam basuhan najis anjing. Tanah adalah salah satu alat bersuci selain air yang disebut langsung dalam Al-Qur’an dan hadits.
  2. Batu (hajar): dipakai dalam istinja, beserta benda-benda lain yang sama kedudukannya.
  3. Bahan penyamak (dabagh): dipakai untuk menyucikan kulit bangkai.

Untuk mengenal air yang menjadi alat bersuci utama, silakan baca lebih dulu panduan kami tentang jenis air bersuci.


Dasar Mazhab Syafi’i: Hanya Air Mutlak yang Mensucikan Secara Umum

Infografis piramida hirarki penyuci dalam fikih Islam, dengan Air Mutlak di puncak sebagai penyuci utama, dan tanah, batu, serta penyamak di tingkat bawah sebagai media dengan fungsi terbatas.
alat bersuci selain air

Sebelum melihat peran tanah, batu, dan penyamak, kita perlu paham kaidah induknya. Mazhab Syafi’i menetapkan bahwa penyuci umum, baik untuk hadats maupun najis, hanyalah air mutlak. Dalam bahasa sehari-hari, ia dikenal sebagai air suci mensucikan. Hanya air suci dan mensucikan seperti inilah yang bisa mengerjakan kedua tugas itu sekaligus.

Kutipan Kaidah dari Asna al-Mathalib

Allah berfirman {وينزل عليكم من السماء ماء ليطهركم به} (QS. al-Anfal: 11), bahwa Dia menurunkan air dari langit untuk menyucikan kita. Setelah menyebut ayat itu, Syaikhul Islam membatasi penyuci dengan kalimat berikut:

قوله: (الماء المطلق) أي لا غيره من تراب تيمم، وحجر استنجاء، وأدوية دباغ، وشمس، وريح، ونار، وغيرها حتى التراب في غسلات الكلب فإن المزيل هو الماء بشرط امتزاجه بالتراب في غسله منها كما سيأتي في بابه فالجملة مفيدة للحصر بتعريف طرفيها[2]

Artinya: yang dimaksud penyuci adalah air mutlak, bukan yang lain. Tidak termasuk tanah tayammum, batu istinja, bahan penyamak, matahari, angin, api, dan sejenisnya. Bahkan tanah dalam basuhan najis anjing pun begitu: yang menghilangkan najis tetap air, dengan syarat air itu bercampur dengan tanah.

Kitab lalu menjelaskan bahwa kalimat ini memberi makna pembatasan (hashr), sebab kedua unsurnya sama-sama didefinitifkan (ta’rif). Karena itu, kita tidak boleh menggeser tugas air kepada benda lain begitu saja.

Dalil: “Fa lam tajidu ma’an fa tayammamu” dan Hadits Siraman Air

Dalil kaidah ini ada dua:

  1. Al-Qur’an: {فلم تجدوا ماء فتيمموا} (QS. an-Nisa’: 43). Tayammum baru diperintahkan ketika air tidak ada.
  2. Hadits Shahihain: sabda Nabi ﷺ saat seorang Arab Badui buang air kecil di masjid, «صبوا عليه ذنوبا من ماء». Dzanub artinya timba yang penuh air.

“Siramkan air satu timba penuh ke atasnya.” Nabi ﷺ memerintahkan air untuk menghilangkan najis itu, bukan benda lain.

Alasan Pembatasan pada Air: Ta’abbudi atau Kelembutan Air

Kitab menyebut bahwa perintah dalam dalil tadi bermakna wajib. Akibatnya, seandainya benda selain air bisa mengangkat hadats, tayammum tidak wajib ketika air tidak ada. Membasuh air kencing dengan air pun tidak wajib.

Lalu mengapa air saja yang dipilih? Imam Zakariyya menukil dua alasan:

والأمر للوجوب فلو رفع غير الماء لم يجب التيمم عند فقده، ولا غسل البول به، ولا يقاس به غيره لأن اختصاص الطهر به عند الإمام تعبد، وعند غيره لما فيه من الرقة، واللطافة التي لا توجد في غيره[2]

Maksudnya: tidak ada benda lain yang boleh diqiyaskan kepada air. Menurut al-Imam, kekhususan air bersifat ta’abbudi, yaitu ketetapan ibadah yang kita ikuti tanpa menuntut alasannya. Menurut ulama lain, sebabnya adalah kelembutan (riqqah) dan kehalusan (lathafah) air, yang tidak dimiliki benda lain.

Mengapa Matahari, Angin, dan Api Tidak Mensucikan Najis

Dari kaidah tadi, kitab menyebut tiga benda yang bukan penyuci: matahari (syams), angin (rih), dan api (nar). Karena syariat membatasi penyuci pada air, ketiganya tidak bisa menggantikan air dalam mengangkat hadats atau menghilangkan najis. Dalam kaidah ini, najis tidak dianggap hilang hanya karena dijemur matahari atau diembus angin.

Kaidah ini berlaku luas. Thaharah yang hukumnya sunnah pun terikat padanya:

وإلا فالطهارة المسنونة مثلا كالغسلة الثانية، والثالثة لا تحصل إلا بالماء المطلق[2]

“Thaharah sunnah, misalnya basuhan kedua dan ketiga, tidak diperoleh kecuali dengan air mutlak.”


Keberatan Umum: “Tanah Itu Mensucikan, Bukan Air?”

Banyak orang bertanya: kalau hanya air yang boleh, kenapa Al-Qur’an dan hadits menyebut tanah sebagai penyuci? Imam Zakariyya menyebut keberatan ini secara langsung.

Jawaban Kitab: Tanah Mengangkat Hadats, Bukan Menghilangkan Najis

فإن قلت بل يحتاج إليه لإخراج التراب فإنه مطهر، وليس بماء قلت مسلم أنه مطهر لكنه مطهر للحدث لا للخبث، والكلام في المطهر لكل منهما مع أن كلامنا في الرافع لا في المبيح فقط[2]

Terjemahannya: kalau engkau berkata, “Bukankah tanah itu penyuci padahal bukan air?”, jawabannya: kami mengakui bahwa tanah itu penyuci. Tetapi ia menyucikan hadats, bukan najis. Padahal yang kita bahas adalah penyuci untuk keduanya. Kitab menambahkan bahwa pembahasannya tentang yang mengangkat (rafi’), bukan sekadar yang membolehkan (mubih).

Jadi tidak ada pertentangan. Kitab memang membatasi penyuci umum pada air. Tanah tetap berfungsi, tetapi dengan jangkauan lebih sempit: hadats saja, dan hanya ketika air tidak bisa dipakai.

Mengapa Salaf Tidak Menampung Air Musta’mal dan Beralih ke Tayammum

Kitab juga membawa bukti dari praktik generasi awal Islam. Dalam pembahasan air musta’mal (air sedikit yang sudah dipakai untuk fardhu, baik mengangkat hadats maupun menghilangkan najis), Imam Zakariyya memberi dua alasan mengapa air itu tidak lagi menyucikan:

فلا يطهر شيئا لانتقال المنع إليه، ولأن السلف لم يجمعوه في أسفارهم لاستعماله ثانيا مع احتياجهم إليه، وعدم استقذاره في الطهارة بل عدلوا إلى التيمم[2]

Artinya: air itu tidak menyucikan apa pun, karena larangan (man’) berpindah kepadanya. Para salaf juga tidak mengumpulkan-nya dalam perjalanan untuk dipakai lagi, padahal mereka sangat membutuhkan air dan air itu tidak menjijikkan. Mereka justru beralih ke tayammum.

Dari praktik ini kita belajar dua hal:

  • Air musta’mal yang sedikit tidak dipakai lagi untuk bersuci, meski airnya sendiri suci.
  • Ketika air yang layak tidak ada, jalan keluarnya adalah tayammum, bukan memakai kembali air bekas.

Praktik ini cocok dengan kaidah induk. Air mutlak adalah penyuci utama, dan bila air tidak ada, syariat menyediakan jalan keluar yang terbatas dan jelas.


Tanah sebagai Pengganti Air untuk Hadats: Tayammum

Tayammum adalah jalan keluar ketika air tidak bisa dipakai. Imam Zakariyya al-Anshari mendefinisikannya begini:

قوله: (كتاب التيمم) هو لغة القصد … وشرعا إيصال التراب إلى الوجه واليدين بشرائط مخصوصة وخصت به هذه الأمة وهو رخصة وقيل: عزيمة[3]

Artinya: menurut syara’, tayammum adalah menyampaikan tanah ke wajah dan kedua tangan dengan syarat-syarat tertentu. Syariat ini dikhususkan untuk umat Nabi Muhammad ﷺ, dan hukumnya rukhshah (keringanan). Sebagian ulama menyebutnya ‘azimah. Kitab menambahkan bahwa para ulama sepakat tayammum hanya untuk wajah dan kedua tangan, walaupun hadatsnya hadats besar.

Dalil: Tanah yang Dijadikan Suci

قوله {فتيمموا صعيدا طيبا} [النساء: 43] أي ترابا طاهرا وقيل ترابا حلالا وخبر مسلم «جعلت لنا الأرض كلها مسجدا وتربتها طهورا»[3]

  • Al-Qur’an: {فتيمموا صعيدا طيبا} (QS. an-Nisa’: 43). Sha’id thayyib ditafsirkan sebagai tanah yang suci. Ada pula yang menafsirkannya sebagai tanah yang halal.
  • Hadits riwayat Muslim: Nabi ﷺ bersabda, “Bumi dijadikan untuk kami seluruhnya sebagai tempat sujud, dan tanahnya sebagai penyuci.”

Perhatikan bahwa hadits menyebut turbatuha (tanahnya), bukan seluruh isi bumi. Pembatasan ini kita lihat lagi saat membahas jenis tanah yang sah.

Syarat Tanah menurut Kitab: Suci, Murni, dan Belum Dipakai

Kitab menyebut tanah sebagai rukun pertama tayammum, sedangkan sebagian ulama menghitungnya sebagai syarat. Apa pun istilahnya, sifat tanahnya sama:

قوله: (الأول) من السبعة (التراب الطاهر الخالص) لقوله تعالى {فتيمموا صعيدا طيبا} [النساء: 43] أي ترابا طاهرا وهو متضمن لخلوصه (غير المستعمل) كما في الماء[4]

Tiga sifat itu menjadi syarat debu tayammum. Kita bahas satu per satu.

1. Suci (Thahir)

Tanah yang terkena najis tidak sah untuk tayammum. Kitab memberi contoh yang mudah dibayangkan:

قوله: (ولا بمتنجس كمقبرة تيقن نبشها) لاختلاطها بصديد الموتى[4]

Terjemahannya: tidak sah bertayammum dengan tanah yang najis, seperti tanah kuburan yang diyakini pernah digali, karena tanahnya bercampur nanah mayat. Bila belum yakin kuburan itu pernah digali, hukum asal tanahnya tetap suci. Kitab menyebut tanah seperti itu sah dipakai tanpa kemakruhan, sebab ia tetap tanah suci, yaitu debu yang suci.

2. Murni (Khalish)

Tanah harus murni, tidak bercampur benda lain:

قوله: (ولا بمختلط بدقيق وزعفران ونحوه) أي نحو كل منهما كرمل ناعم يلصق بالعضو (ولو قل) الخليط بأن لم يظهر في التراب لمنعه وصوله إلى العضو لكثافته بخلافه في الماء[4]

Maksudnya: tanah yang bercampur tepung, za’faran, atau pasir halus yang menempel di kulit tidak sah, walaupun campurannya sedikit dan tidak tampak. Sebabnya, campuran itu menghalangi tanah sampai ke anggota karena kepekatannya. Kitab membedakan hal ini dari air.

Ada satu pengecualian. Tanah yang diaduk dengan cuka lalu berubah, kemudian sudah kering, tetap sah dipakai:

قوله: (فلو عجن التراب بخل فتغير) به (ثم جف لم يضر) فيصح التيمم به[4]

3. Belum Dipakai (Ghairu Musta’mal)

Sama seperti air, tanah tidak musta’mal saja yang boleh dipakai:

قوله: (ولا بمستعمل ولو متناثرا) من العضو بعد مسه كالماء لأنه قد تأدى به فرض[4]

Artinya: tidak sah bertayammum dengan tanah yang sudah terpakai, walaupun yang terpakai hanya debu yang berjatuhan dari anggota setelah diusap. Alasannya, fardhu sudah tertunaikan dengan tanah itu. Imam ar-Rafi’i menambahkan bahwa debu yang berjatuhan baru dihukumi terpakai bila sudah terpisah sepenuhnya dan pelakunya sudah berpaling darinya.

Jenis Tanah yang Sah dan Tidak Sah

Kitab merinci jenis tanah dengan contoh. Kita pisahkan menjadi yang sah dan yang tidak sah.

Sah: Tanah Bath’a dan Sabkh

قوله: (بأي لون كان) كما في الماء (فيصح ببطحاء) وهو تراب بمسيل الماء فيه دقاق حصى (وسبخ) بكسر الموحدة وهو ما لا ينبت هذا إذا (لم يعله الملح) فإن علاه لم يصح التيمم به لأن الملح ليس بتراب[4]

  • Tanah berwarna apa pun sah, sebagaimana air.
  • Bath’a, yaitu tanah di jalur aliran air yang berisi kerikil halus, sah.
  • Sabkh, yaitu tanah yang tidak ditumbuhi tanaman, sah selama tidak tertutup garam, sebab garam bukan tanah.

Tanah liat yang dibakar lalu menghitam juga sah, dengan satu syarat:

قوله: (ولو شوي) الطين (وتسود) فإنه يصح التيمم به إذا سحق لأنه تراب (لا ما صار رمادا أو خرفا أو آجرا) لأنه لا يسمى ترابا[4]

Tanah liat itu sah bila dihaluskan, karena ia tetap tanah. Tetapi bila sudah menjadi abu, pecahan tembikar, atau bata merah, ia tidak lagi disebut tanah.

Tidak Sah: Pasir Tanpa Debu, Nurah, Zirnikh, dan Jishsh

قوله: (ولا) يصح التيمم (برمل) ولو ناعما (بلا غبار) أو بغبار لكن الرمل يلصق بالعضو بخلافه إذا لم يلصق به … (ولا بمعدن كنورة وزرنيخ) وجص لأنه لا يسمى ترابا[4]

Terjemahannya: tidak sah bertayammum dengan pasir tanpa debu, atau pasir berdebu yang pasirnya menempel di anggota (berbeda bila tidak menempel). Tidak sah pula dengan bahan tambang seperti kapur (nurah), arsenik (zirnikh), dan gips (jishsh), sebab semuanya tidak disebut tanah.

Kitab juga memberi alasan mengapa pembatasan ini masuk akal:

ولو جاز التيمم بجميع الأرض لما عدل عنها إلى التراب في خبر مسلم «جعلت لنا الأرض كلها مسجدا وتربتها طهورا» وطهارة التيمم تعبدية فاختصت بما ورد كالوضوء بخلاف الدباغ فإنه نزع الفضول وهو يحصل بأنواع[4]

Artinya: bila tayammum boleh dengan seluruh isi bumi, hadits Muslim tidak akan menyebut turbah (tanah) secara khusus. Tayammum juga ibadah ta’abbudiyyah: ia mengikuti apa yang disebut dalil, sebagaimana wudhu. Bedanya dengan penyamakan, yang tujuannya mengeluarkan sisa kotoran (nazi’ al-fudul), dan itu bisa dicapai dengan berbagai bahan.

Untuk uraian lengkap syarat debu, termasuk tayammum di tempat tanpa tanah, silakan baca syarat debu yang sah untuk tayammum. Panduan menyeluruh ada di halaman tayammum dengan debu.


Tanah dalam Basuhan Najis Anjing (Tanah Tidak Bekerja Sendiri)

Peran tanah yang kedua ada pada najis anjing. Bila dalam tayammum tanah berurusan dengan hadats, di sini ia berurusan dengan najis. Tetapi tanah tidak bekerja sendirian. Bagaimana cara menghilangkan najis anjing dengan tanah? Kitab menjawabnya lewat aturan tujuh basuhan.

Najis Anjing: Tujuh Basuhan, Salah Satunya dengan Tanah

قوله: (فصل لا يطهر متنجس بكلب، وخنزير، وفرع كل) أي بواحد منها (أو بمتنجس بذلك إلا بسبع) من الغسلات بالماء (إحداهن بالتراب) لقوله صلى الله عليه وسلم «إذا، ولغ الكلب في الإناء فاغسلوه سبع مرات أولاهن بالتراب» رواه مسلم[5]

Artinya: benda yang terkena najis anjing, babi, atau keturunan salah satunya tidak suci kecuali dengan tujuh kali basuhan air, salah satunya dengan tanah. Dasarnya hadits riwayat Muslim: “Bila anjing menjilat bejana, basuhlah tujuh kali, yang pertama dengan tanah.”

Soal basuhan keberapa yang diberi tanah, kitab memberi dua catatan. Riwayat-riwayat hadits berbeda dalam menentukan letak tanah (pertama, ketujuh, atau kedelapan), sehingga letaknya tidak ditentukan dan cukup adanya tanah pada salah satu dari tujuh basuhan. Yang disunnahkan adalah basuhan pertama:

قوله: (، ويسن) جعل التراب (في غير الأخيرة، والأولى أولى) لعدم احتياجه بعد ذلك إلى تثريب ما يترشش من جميع الغسلات[5]

Alasannya, bila tanah diberikan pada basuhan pertama, percikan dari basuhan-basuhan berikutnya tidak perlu ditanahi lagi.

Peran Tanah: Yang Menghilangkan Najis Tetap Air

Kita perlu hati-hati menangkap maksud kitab. Tanah dalam hadits ini bukan penyuci mandiri. Imam Zakariyya sudah menegaskannya di pembukaan bab thaharah:

فإن المزيل هو الماء بشرط امتزاجه بالتراب في غسله منها[2]

Artinya: yang menghilangkan najis adalah air, dengan syarat air itu bercampur tanah. Jadi tanah adalah syarat dalam basuhan. Penyucinya tetap air.

Syarat Tanah: Suci dan Tidak Musta’mal

Pertanyaan yang sering muncul: tanah apa yang digunakan untuk membersihkan najis anjing? Kitab menjawab dengan syarat-syarat berikut:

قوله: (وليكن التراب) الذي يغسل به ذلك (طاهرا غير مستعمل) في حدث أو خبث كالماء … (يعم محل النجاسة) بأن يكون قدرا يكدر الماء، ويصل بواسطته إلى جميع أجزاء المحل، وليكن (ممزوجا بالماء) قبل وضعهما على المحل أو بعده[5]

Dari kalimat ini kita ambil empat syarat tanah yang digunakan untuk membersihkan najis anjing:

  1. Suci: tanah najis tidak boleh dipakai.
  2. Belum musta’mal: tanah yang sudah dipakai untuk mengangkat hadats atau menghilangkan najis tidak boleh dipakai lagi.
  3. Cukup banyak: jumlahnya sampai membuat air keruh dan sampai ke semua bagian yang terkena najis.
  4. Bercampur air: tanah bercampur air, boleh sebelum atau sesudah tanah diletakkan di tempat najis, asalkan sebelum dibasuh.

Tanah Tidak Bisa Diganti Sabun atau Ushnan

Pertanyaan berikutnya: bolehkah tanah diganti sabun karena terasa lebih bersih? Kitab menjawab tegas:

ولا يقوم غير التراب كأشنان، وصابون مقامه (وإن أفسد الثوب، وزاد في الغسلات) فجعلها ثمانيا مثلا لأن القصد به التطهير الوارد، وهو لا يحصل بذلك[5]

Artinya: tidak ada benda selain tanah yang menggantikannya, termasuk ushnan (tumbuhan pembersih tradisional) dan sabun. Tanah tetap dipakai walaupun merusak kain dan menambah jumlah basuhan, misalnya menjadi delapan, karena tujuannya adalah penyucian yang diperintahkan, dan itu tidak tercapai dengan selain tanah.

Kitab menyebut satu kombinasi yang cukup: tanah dicampur benda lain lebih dulu (Ibnu ash-Shalah mencontohkan cuka), lalu dicampur air. Syaratnya, air tidak berubah terlalu jauh akibat campuran itu.

Pengecualian: Permukaan Tanah Tidak Perlu Ditanahi Lagi

قوله:(نجسا آخر، ويسقط تتريب أرض ترابية) … إذ لا معنى لتتريب التراب[6]

Artinya: bila najis anjing mengenai tanah asli, cukup disiram air tujuh kali tanpa tambahan tanah, sebab menanahi tanah tidak masuk akal.

Najis Anjing Tanpa Tanah: Bagaimana Hukumnya?

Bagi pencari cara menghilangkan najis anjing tanpa tanah, jawaban kitab jelas: tidak ada pengganti tanah, dan sabun maupun ushnan tidak menggantikannya. Tata cara lengkapnya ada di artikel cara mensucikan najis anjing.


Batu: Alat Istinja yang Dibolehkan Syariat

Pengertian Singkat Istinja

Banyak yang bertanya, apa arti istinja? Imam Zakariyya al-Anshari menjelaskan pengertian istinja bersama dua istilah yang semakna:

هو مأخوذ من نجوت الشجرة، وأنجيتها إذا قطعتها كأنه يقطع الأذى عنه … وهو والاستطابة والاستجمار بمعنى إزالة الخارج من الفرج عنه لكن الثالث مختص بالحجر مأخوذ من الجمار وهي الحصى الصغار[7]

Artinya: istinja, istithabah, dan istijmar bermakna menghilangkan kotoran yang keluar dari kemaluan. Bedanya, istijmar khusus dengan batu, diambil dari kata jimar, yaitu kerikil kecil. Kata istinja sendiri berasal dari najawtu asy-syajarah (“aku memotong pohon”), seolah orang itu memotong kotoran dari tubuhnya.

Istinja dan istithabah berlaku untuk air maupun batu. Hanya istijmar yang terbatas pada batu. Rincian tata caranya ada di artikel istinja dengan batu.

Batu Cukup Tanpa Air: “Wa Yujzi’u al-Hajar”

Kitab menetapkan dasar istinja dalam satu kalimat:

قوله: (يجب الاستنجاء) لا على الفور بالماء على الأصل في إزالة النجاسة أو بالحجر لأنه صلى الله عليه وسلم جوزه به حيث فعله كما رواه البخاري، وأمر بفعله بقوله فيما رواه الشافعي، وغيره «، وليستنج بثلاثة أحجار»[8]

Artinya: istinja itu wajib, tetapi tidak harus seketika. Caranya dengan air, sebagai hukum asal menghilangkan najis, atau dengan batu. Nabi ﷺ membolehkan batu lewat perbuatan beliau (riwayat al-Bukhari) dan memerintahkannya lewat sabda beliau (riwayat asy-Syafi’i), “Hendaklah ia beristinja dengan tiga batu.”

Hadits lain menguatkan:

إذا ذهب أحدكم إلى الغائط فليذهب معه بثلاثة أحجار يستطيب بهن فإنها تجزئ عنه[9]

“Apabila salah seorang di antara kalian pergi ke tempat buang hajat, hendaklah ia membawa tiga batu untuk bersuci. Batu-batu itu mencukupinya.” Dari kata tujzi’u (mencukupi) lahir kaidah kitab: ويجزئ الحجر في الخارج من المعتاد, “batu mencukupi untuk yang keluar dari jalan yang biasa.”[8]

Inilah jawaban untuk pertanyaan tentang cebok tanpa air. Syariat membolehkannya, tetapi dengan batas yang jelas. Batu tidak cukup dalam tiga keadaan:

  • Najis keluar dari lubang lain selain jalan biasa, walaupun jalan biasa itu tertutup: wajib air.
  • Najis terputus-putus, berpindah dari tempat keluarnya, melewati batas biasa, atau sudah kering: wajib air. Batas biasa itu adalah hasyafah (kepala kemaluan) untuk kencing dan shafhatain (dua sisi bokong yang merapat saat berdiri) untuk tinja.
  • Najis bertemu najis lain di luar yang keluar tadi, atau bertemu benda basah: wajib air.

قوله: (ويجزئ الحجر) في الخارج من المعتاد لما مر (لا من منفتح) آخر (ولو انسد المعتاد) لندرته بل يتعين فيه الماء على الأصل[8]

Rincian hukumnya dibahas di artikel hukum wajib istinja dan syarat istinja dengan batu.

Syarat Minimal: Tiga Usapan (Mashat)

Batu hanya mencukupi bila memenuhi dua syarat:

قوله: (ويشترط إنقاء) للمحل بحيث لا يبقى إلا أثر لا يزيله إلا الماء أو صغار الخزف (و) يشترط (ثلاث مسحات، ولو) كانت (بجوانب حجر) للأخبار السابقة، ولخبر مسلم عن سلمان «نهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار»[10]

  1. Bersih (inqa’): tempat itu bersih sampai tinggal bekas tipis yang hanya bisa dihilangkan air atau pecahan tembikar kecil.
  2. Tiga usapan (mashat), boleh dengan tiga sisi dari satu batu.

Dalilnya hadits Salman al-Farisi: “Rasulullah ﷺ melarang kami beristinja dengan kurang dari tiga batu.” Yang dihitung adalah jumlah usapan, bukan jumlah batu:

وفي معناها ثلاثة أطراف حجر بخلاف رمي الجمار لا يكفي حجر له ثلاثة أطراف عن ثلاث رميات لأن المقصود ثم عدد الرمي، وهنا عدد المسحات[11]

Satu batu bersisi tiga cukup untuk tiga usapan istinja, tetapi tidak cukup untuk tiga lemparan jumrah, karena di sana yang dihitung adalah jumlah lemparan.

Bila tiga usapan belum membersihkan, tambah sampai bersih:

قوله: (فإن لم ينق) المحل بالثلاث (زاد) عليها إلى أن يحصل الإنقاء[11]

Setelah bersih, disunnahkan jumlahnya ganjil. Bila bersih pada usapan keempat, tambah satu lagi menjadi lima, berdasarkan sabda Nabi ﷺ «من استجمر فليوتر» (riwayat al-Bukhari dan Muslim).[11]


Selain Batu: Kaidah Benda Pengganti

Hadits menyebut batu, tetapi batu bukan satu-satunya media istinja. Kitab memberi kaidah yang jelas untuk menentukan benda pengganti batu.

Kaidah Umum: Jamid, Suci, Qali’, dan Tidak Dimuliakan

قوله: (وكل جامد طاهر قالع) غير محترم كما يعلم مما يأتي كخشب، وخزف، وحشيش (كالحجر) في أنه يجزئ الاستنجاء به[12]

Artinya: setiap benda yang memenuhi empat sifat ini kedudukannya seperti batu:

  1. Padat (jamid): bukan cairan.
  2. Suci (thahir).
  3. Menghilangkan kotoran (qali’).
  4. Tidak dimuliakan (ghairu muhtaram).

Contoh dalam kitab: kayu, pecahan tembikar, dan rumput.

Mengapa kata “batu” dalam hadits tidak mengikat? Kitab menjawab dengan kisah Ibnu Mas’ud:

والتنصيص على الحجر في الأخبار جرى على الغالب بدليل خبر البخاري عن ابن مسعود قال «أتى النبي صلى الله عليه وسلم الغائط فأمرني أن آتيه بثلاثة أحجار فوجدت حجرين، والتمست الثالث فلم أجده فأخذت روثة فأتيته بها فأخذ الحجرين، وألقى الروثة، وقال هذا ركس» فتعليله منع الاستنجاء بالروثة بكونها ركسا لا بكونها غير حجر دليل على أن ما في معنى الحجر كالحجر فيما ذكر[12]

Ibnu Mas’ud mendapat dua batu dan tidak menemukan yang ketiga, lalu mengambil kotoran hewan. Nabi ﷺ mengambil dua batu, membuang kotoran itu, dan bersabda, “Ini rikis.” Imam Zakariyya menyimpulkan: Nabi ﷺ menolak kotoran itu karena ia najis, bukan karena ia bukan batu. Maka benda yang sama fungsinya dengan batu hukumnya sama.

Kitab juga menjelaskan mengapa di sini boleh mengganti, sedangkan di tempat lain tidak:

وفارق تعينه في رمي الجمار، وتعين التراب في التيمم بأن الرمي لا يعقل معناه بخلاف الاستنجاء، والتراب فيه الطاهرية، والطهورية، وهما مفقودتان في غيره بخلاف الإنقاء يوجد في غير الحجر[12]

  • Lontar jumrah: maknanya tidak bisa dinalar, sehingga batu harus dipakai persis.
  • Tayammum: tanah punya dua sifat, suci dan menyucikan, yang tidak dimiliki benda lain.
  • Istinja: tujuannya hanya membersihkan (inqa’), dan sifat itu ada pada banyak benda selain batu.

Benda yang Boleh

قوله: (ويجوز) الاستنجاء (بذهب، وفضة، وجوهر) ، وبقطعة ديباج نعم حجارة الحرم، والمطبوع من الذهب، والفضة قال الماوردي والروياني يمتنع الاستنجاء بهما لحرمتهما فإن استنجى بهما أساء، وأجزأه[12]

Artinya: boleh beristinja dengan emas, perak, permata, dan sepotong kain sutra (dibaj). Pengecualiannya batu tanah Haram serta emas dan perak yang sudah dicetak. Menurut al-Mawardi dan ar-Ruyani, keduanya terlarang karena kemuliaannya. Bila terlanjur dipakai, orang itu berbuat salah, tetapi istinjanya sah.

Beberapa contoh lain dari kitab:

قوله: (فيجوز برمانة قالعة لم تكسر و) لكنه (يكره) فإن كسرت، وانفصل حبها فلا كراهة (ويجوز بقشر موز يبس)[13]

  • Buah delima utuh yang kulitnya mampu membersihkan: boleh, tetapi makruh. Bila dipecah dan bijinya sudah terpisah, tidak makruh.
  • Kulit pisang yang sudah kering: boleh.
  • Makanan khusus hewan: boleh.
  • Kulit yang sudah disamak: boleh. Penyamakan menghilangkan sisa lemaknya. Kulit yang belum disamak tidak boleh, karena masih berminyak sehingga tidak mengering, dan statusnya najis bila bukan dari hewan halal, atau dimuliakan bila dari hewan halal.

Kulit bangkai inilah yang kita bahas lebih jauh di bagian penyamakan.

Benda yang Tidak Sah

Basah (Rathb) dan Benda Najis (Mutanajjis)

قوله: (لا رطب) لأن رطوبته تنجس بملاقاة النجاسة، ويعود شيء منها إلى محل الخارج فتصير كنجاسة أجنبية (و) لا (متنجس) كما في الطهر بالماء، وللنهي عن الاستنجاء بالروث[12]

Benda basah tidak sah karena kebasahannya ikut terkena najis, lalu sebagian kembali ke tempat keluar, sehingga menjadi najis tambahan dari luar. Benda yang sudah najis juga tidak sah, sama seperti syarat air, dan karena ada larangan beristinja dengan kotoran hewan.

Benda Licin

قوله: (و) لا (أملس كزجاج، وتراب، وفحم رخوين) لأنه غير قالع بخلاف التراب والفحم الصلبين[12]

Benda licin seperti kaca tidak sah karena tidak membersihkan. Tanah dan arang yang rapuh juga tidak sah. Tanah dan arang yang keras sah, karena mampu menghilangkan kotoran.

Benda yang Dimuliakan (Muhtaram): Makanan, Tulang, Bagian Tubuh Hewan, Tulisan Ilmu

قوله: (لا بمحترم كمطعوم) للآدمي كالخبز أو للجن كالعظم كما سيأتي لما روى مسلم «أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن الاستنجاء بالعظم، وقال إنه زاد إخوانكم يعني من الجن» فمطعوم الآدمي أولى، ولأن المسح بالحجر رخصة، وهي لا تناط بالمعاصي[14]

Dua alasan dalam kutipan ini:

  • Dalil: Nabi ﷺ melarang istinja dengan tulang karena tulang adalah bekal makanan jin. Bila makanan jin saja terlarang, makanan manusia seperti roti lebih terlarang lagi.
  • Kaidah: istinja dengan batu adalah rukhshah (keringanan), dan keringanan tidak digantungkan pada kemaksiatan.

Daftar benda yang dimuliakan menurut kitab:

قوله: (لا عظم) ، وإن أحرق حتى خرج عن حاله … (ولا جزء حيوان متصل) كيده وعقبه وصوفه ووبره بخلاف ما إذا انفصل عنه[13]

  • Tulang, walaupun sudah dibakar sampai berubah bentuk, sebab ia tetap makanan jin.
  • Bagian tubuh hewan yang masih menyatu, seperti tangan, tumit, wol, dan bulu. Bila sudah terlepas, boleh.
  • Kertas bertulisan ilmu: «ومن المحترم ما كتب عليه علم كحديث، وفقه», “termasuk yang dimuliakan adalah apa yang tertulis ilmu padanya, seperti hadits dan fiqih.”

Bila seseorang terlanjur memakai benda yang dimuliakan, batu sesudahnya masih bisa mencukupi:

قوله: (ويجزئ الحجر بعد) الاستنجاء بشيء (محترم، وزجاج لم ينقلا) النجاسة فإن نقلاها تعين الماء كما مر[13]

Syaratnya, benda pertama tadi tidak memindahkan najis dari tempatnya. Bila najis berpindah, wajib air.

Larangan Rawth (Kotoran Hewan): “Hadza Rikis”

Rawth (روث) adalah kotoran hewan. Dari hadits Ibnu Mas’ud di atas, kita tahu Nabi ﷺ menolaknya. Imam asy-Syarbini menjelaskan makna kata penolakan itu:

هذا ركس والركس النجس[15]

“Ini rikis, dan rikis artinya najis.” Rawth dilarang bukan karena bentuknya, tetapi karena ia najis, dan benda najis tidak bisa membersihkan najis lain. Kaidah ini sejalan dengan syarat “suci” pada kaidah umum di atas.

Batu Boleh Dipakai Ulang setelah Dicuci dan Dikeringkan

Tiga usapan tidak harus dengan tiga batu. Kitab menyebut batu yang sudah dicuci dan dikeringkan boleh dipakai lagi:

قوله: (أو غسل) الحجر (وجف) فإنه يجوز استعماله ثانيا كدواء دبغ به، وتراب استعمل في غسل نجاسة الكلب[11]

Batu seperti ini diserupakan dengan obat penyamak dan tanah bekas basuhan najis anjing yang boleh dipakai lagi. Bahkan bila batu tidak terkena kotoran pada usapan kedua dan ketiga, ia boleh dipakai lagi tanpa dicuci:

ولو لم يتلوث الحجر في غير الأولى جاز استعماله أيضا كما صرح به الأصل[11]

Pemakaian ulang ini tidak makruh. Ini berbeda dengan batu lontar jumrah, karena tujuan lontar jumrah adalah banyaknya lemparan.


Mengapa Batu Tidak Termasuk “Air”? Bedanya dengan Basuhan

Di bagian awal kita membaca bahwa batu istinja tidak masuk golongan penyuci umum:

«قوله: (الماء المطلق) أي لا غيره من تراب تيمم، وحجر استنجاء، وأدوية دباغ».[2]

Batu tetap diizinkan untuk istinja, tetapi kedudukannya keringanan, bukan penyuci pengganti air. Kitab menjelaskan perbedaannya:

وفارق الماء بأنه لم يزل حكم النجاسة بل خففها بدليل أنه تنجس ما لاقاها مع رطوبة بخلاف الماء فإنه أزال حكم الحدث[11]

  • Air menghilangkan hukum najis.
  • Batu hanya meringankan najis. Tandanya, bila tempat yang sudah diusap batu menyentuh benda basah, benda itu ikut menjadi najis.

Batu juga dibedakan dari tanah tayammum:

ويفارق تراب التيمم أيضا بأن التراب طهور كالماء، وبدل عنه فأعطي حكمه بخلاف الحجر[11]

Tanah tayammum diberi hukum air karena ia penyuci dan pengganti air, sedangkan batu tidak. Karena itu kitab menilai air lebih utama bila dipakai sendirian:

قوله: (فإن اقتصر) على أحدهما (فالماء أفضل) لأنه يزيل العين، والأثر[16]

“Bila hanya memakai salah satunya, air lebih utama, karena air menghilangkan zat najis dan bekasnya.” Cara terbaik adalah menggabungkan keduanya:

قوله: (والأفضل إتباعه) أي الحجر (بالماء) أي الجمع بينهما بأن يقدم الحجر أفضل من الاقتصار على أحدهما لأن العين تزول بالحجر، والأثر بالماء من غير حاجة إلى مخامرة عين النجاسة[16]

Artinya: yang paling utama adalah batu dulu, lalu air. Batu menghilangkan zat najisnya, lalu air menghilangkan bekasnya, tanpa tangan langsung menyentuh zat najis. Tata cara beristinja dengan air, termasuk sunnah-sunnahnya, ada di artikel istinja dengan air.


Penyamakan (Dabagh): Bahan Penyamak sebagai Alat Penyuci Kulit

Mengapa kulit bangkai perlu disucikan? Karena bangkai hukumnya najis, termasuk kulitnya.

قوله: (و) لا (ميتة) ، وإن لم يسل دمها لحرمة تناولها قال تعالى {حرمت عليكم الميتة} [المائدة: 3][17]

Artinya: bangkai itu najis, walaupun darahnya tidak mengalir, karena memakannya diharamkan. Allah berfirman, “Diharamkan atas kamu bangkai” (QS. al-Ma’idah: 3).

Hewan halal yang disembelih sesuai syariat berbeda. Penyembelihan menjaga kesucian hewan itu, termasuk kulitnya:

قوله: (الذكاة) أي الآتي بيانها في محلها (تحفظ طهارة المأكول) حتى جلده لما سيأتي من حل أكله (فقط) أي دون طهارة غير المأكول[18]

Penyembelihan hanya menjaga kesucian hewan yang halal dimakan, sampai ke kulitnya. Hewan yang tidak halal dimakan tidak menjadi suci karena disembelih.

Lalu bagaimana dengan kulit hewan yang mati tanpa sembelihan? Di sinilah penyamakan kulit bangkai berperan. Kitab menyebutnya dabagh. Pembahasan lengkapnya ada di artikel penyamakan kulit bangkai.

Dalil: “Idza Dubigha al-Ihab” dan “Yuthahhiruha al-Ma’u wal-Qaradh”

قوله: (يطهر) أي الاندباغ (جلد غير كلب، وخنزير، وفرعهما) أي فرع كل منهما مع غيره لخبر مسلم «إذا دبغ الإهاب فقد طهر» ، وخبر أبي داود بإسناد حسن «أنه صلى الله عليه وسلم قال في شاة ميتة لو أخذتم إهابها قالوا إنها ميتة فقال يطهرها الماء، والقرظ»[18]

  • Riwayat Muslim: “Apabila kulit telah disamak, ia menjadi suci.”
  • Riwayat Abu Dawud (sanad hasan): Nabi ﷺ bersabda tentang seekor kambing mati, “Mengapa kalian tidak mengambil kulitnya?” Mereka menjawab, “Itu bangkai.” Beliau ﷺ bersabda, “Air dan qaradh menyucikannya.” Qaradh adalah bahan penyamak yang lazim dipakai pada zaman itu.

Syarat Bahan Penyamak: Mengeluarkan Sisa Kotoran Tanpa Merusak Kulit

Tidak semua bahan menjadi penyamak. Kitab memberi ciri yang jelas:

قوله: (والدباغ) بمعنى الاندباغ (ولو بإلقاء الريح) لما يدبغ فيما يدبغ به أو بالعكس (بحريف) بكسر الحاء (نازع للفضول بحيث لا يفسده)[18]

Ada tiga sifat yang perlu dipahami:

  1. Tajam (harif): bahan penyamak itu pedas atau kesat.
  2. Mengeluarkan sisa-sisa (nazi’ lil-fudul): ia membuang lemak, darah, dan lendir yang tertinggal di kulit.
  3. Tidak membusukkan (bi-haitsu la yufsiduhu): kitab menjelaskannya sebagai bahan yang tidak membuat kulit berbau busuk.

Kitab memaknai dabagh sebagai indibagh, yaitu proses tersamaknya kulit. Karena itu, penyamakan tetap sah walaupun terjadi karena angin, misalnya angin menerbangkan bahan penyamak ke kulit, atau kulit terbawa angin ke bahan penyamak.

Penyamakan Sah Meski dengan Benda Najis dan Tanpa Air

Dua hal ini sering mengejutkan pembaca:

قوله: (ولو) كان الاندباغ (بنجس كذرق حمام) بذال معجمة (وبغير ماء) في أثناء الدباغ[18]

Artinya: penyamakan sah walaupun dengan benda najis, contohnya kotoran merpati. Penyamakan juga sah dengan bahan selain air di tengah prosesnya. Ini berbeda dengan semua alat bersuci yang sudah kita bahas: basuhan najis tidak boleh dengan benda najis, dan tayammum tidak boleh dengan tanah najis. Kenapa penyamakan boleh?

Mengapa Tidak Perlu Air: Dabagh Adalah Ihalah (Perubahan Wujud)

ولكون الدبغ إحالة لم يجب فيه الماء، ولهذا جاز بالنجس المحصل لذلك كما تقرر[19]

Terjemahannya: karena penyamakan adalah ihalah (perubahan wujud), air tidak wajib. Karena itu penyamakan boleh juga dengan benda najis yang menghasilkan perubahan tersebut.

Kitab menambahkan alasan lain di bab istinja:

وإنما جاز الدبغ بالنجس لأنه عوض الذكاة الجائزة بالمدية النجسة بخلاف الحجر[12]

“Penyamakan boleh dengan benda najis karena ia pengganti sembelihan, yang boleh dilakukan dengan pisau najis, berbeda dengan batu.” Jadi basuhan air bekerja dengan membersihkan najis dari benda, sedangkan penyamakan bekerja dengan mengubah kulit, sehingga bahan apa pun yang menghasilkan perubahan itu bisa dipakai.

Yang Tidak Sah: Hanya Digarami atau Dijemur

Kitab menolak dua cara yang sering dikira sama dengan menyamak:

لا بتمليح، وتشميس[18]

Penggaraman (tamlih) dan penjemuran (tasymis) tidak menyamak. Alasannya disebut langsung:

وقيس به ما في معناه مما يحصل به الإحالة من طاهر، ونجس بخلاف الملح، والشمس، ونحوهما إذ ليس فيها ذلك[18]

Bahan yang boleh dipakai adalah yang menghasilkan ihalah, baik bahan itu suci maupun najis. Garam dan matahari tidak punya sifat itu. Ini cocok dengan bagian awal: matahari tidak menyucikan najis, dan penjemuran tidak menggantikan penyamakan.

Hukum Kulit setelah Disamak

Kulit suci setelah disamak, tetapi ada ketentuan khusus tentang statusnya. Kitab menyebut tiga hal berikut.

Seperti Pakaian Najis yang Sudah Dicuci

قوله: (، ويصير) المندبغ (كثوب نجس) في أنه (يصلي فيه إن غسل، ويباع) ، وإن لم يغسل ما لم يمنع مانع (ولا يحل أكله) لخبر الصحيحين «إنما حرم من الميتة أكلها»[20]

Kulit yang sudah disamak berstatus seperti kain najis dalam tiga hal:

  • Boleh dipakai shalat bila sudah dicuci.
  • Boleh dijual, walaupun belum dicuci, selama tidak ada penghalang.
  • Tidak halal dimakan, berdasarkan hadits Shahihain, “Yang diharamkan dari bangkai hanyalah memakannya.”

Kitab juga melarang menyembelih hewan yang haram dimakan hanya demi kulitnya, contohnya bagal dan keledai:

قوله: (ويحرم ذبح ما لا يؤكل) كبغل، وحمار، ولو (لجلده) أي لدبغ جلده[20]

Bulu Tidak Ikut Suci, Sedikitnya Dimaafkan

قوله: (لا شعره) فلا يطهره الاندباغ لعدم تأثره به[20]

Penyamakan hanya bekerja pada kulit. Bulu atau wol tidak ikut menjadi suci karena tidak terpengaruh oleh penyamakan. Imam an-Nawawi menyebut bulu yang sedikit dimaafkan, sehingga ikut suci sebagai pengikut kulit. Ada pendapat lain dari Imam as-Subki:

على أن السبكي قال بطهارة الشعر مطلقا أخذ بخبر في صحيح مسلم قال، وهذا لا شك عندي فيه، وهو الذي اختاره، وأفتى به[20]

Imam as-Subki berpendapat bulu itu suci secara mutlak, berdasarkan sebuah hadits dalam Shahih Muslim. Beliau menyatakan, “Tidak ada keraguan padaku dalam hal ini,” dan beliau memilih serta memfatwakannya.

Kulit Anjing, Babi, dan Turunannya Tidak Bisa Disucikan dengan Penyamakan

Kulit yang bisa disucikan dengan penyamakan adalah selain anjing, babi, dan keturunan keduanya. Maka bagi yang bertanya, apakah kulit babi najis, jawaban kitab adalah ya: penyamakan tidak menyucikannya. Kitab memberi alasan yang logis:

أما جلد الكلب، ونحوه فلا يطهره ذلك لأن سبب نجاسة الميتة تعرضها للعفونة، والحياة أبلغ في دفعها فإذا لم تفد الطهارة فالاندباغ أولى[20]

Najisnya bangkai berasal dari kecenderungannya membusuk. Hidup adalah penahan pembusukan yang paling kuat. Kulit anjing tetap najis walaupun hewan itu hidup, jadi penyamakan yang hanya menahan pembusukan tidak lebih kuat dari kehidupan. Hukum najis anjing bisa dibaca di artikel hukum jilatan anjing dan tujuh basuhan.


Penyamakan dan Perubahan Wujud Lain (Istihalah)

Penyamakan termasuk keluarga besar yang disebut istihalah, yaitu perubahan sifat benda sampai hukumnya ikut berubah. Kitab menyebut beberapa contohnya:

قوله: (ويطهر كل نجس استحال حيوانا) كدم بيضة استحال فرخا على القول بنجاسته (ولو) كان الحيوان (دود كلب) لأن للحياة أثرا بينا في دفع النجاسة … (لا) إن استحال (رمادا، وملحا) ، ونحوهما فلا يطهر[21]

Setiap benda najis yang berubah menjadi hewan menjadi suci, misalnya darah dalam telur yang menjadi anak ayam, sebab hidup punya pengaruh yang jelas dalam menolak najis. Najis yang berubah menjadi abu atau garam tetap najis. Artinya, bangkai yang dibakar menjadi abu tidak otomatis suci.

Contoh lain adalah khamr (arak) yang berubah menjadi cuka:

قوله: (وتطهر خمر) ، ولو غير محترمة (تخللت، ولو بتشميس) أو فتح رأس الدن لزوال الشدة من غير نجاسة حلتها[20]

Khamr menjadi suci bila berubah menjadi cuka, bahkan bila perubahan itu karena dijemur atau tutup tempayannya dibuka. Syaratnya, tidak ada benda lain yang masuk dan mengotorinya. Pembahasan lengkapnya ada di artikel istihalah dalam fiqih.


Tabel Alat Bersuci Selain Air

Infografis grid 3 panel yang menjelaskan secara visual ruang lingkup penggunaan tanah untuk tayammum, batu untuk istinja, dan bahan penyamak untuk kulit bangkai dalam fikih Islam.
alat bersuci selain air

Semua alat-alat bersuci di bawah ini diizinkan syariat dengan batas yang jelas. Tidak satu pun menggeser kedudukan air mutlak sebagai penyuci utama.

AlatBekerja padaSyarat utamaDasar dalam kitab
Tanah (tayammum)HadatsSuci, murni, belum dipakai{فتيمموا صعيدا طيبا} (an-Nisa’: 43)
Tanah (basuhan anjing)Najis anjing, bersama airSuci, belum dipakai, bercampur air«أولاهن بالتراب»
Batu dan benda padat (istinja)Najis dari qubul dan duburPadat, suci, menghilangkan kotoran, tidak dimuliakan, tiga usapan«وليستنج بثلاثة أحجار»
Bahan penyamakKulit bangkaiTajam, mengeluarkan sisa kotoran, tidak membusukkan«إذا دبغ الإهاب فقد طهر»

Dari tabel ini terlihat bahwa alat bersuci dibagi menjadi dua menurut sasarannya: yang mengangkat hadats dan yang menghilangkan najis. Ketiganya adalah media yang dapat digunakan untuk bersuci selain air, dan masing-masing bekerja pada sasaran yang berbeda.


FAQ seputar Alat Bersuci Selain Air

Apakah tanah bisa menggantikan air untuk menghilangkan najis?

Tidak. Kitab membatasi penyuci umum pada air mutlak saja.[2]

  • Tanah hanya menyucikan hadats, itu pun lewat tayammum ketika air tidak ada.[2]
  • Dalam najis anjing, tanah adalah syarat, sedangkan yang menghilangkan najis tetap air yang bercampur tanah.[2]

Tanah seperti apa yang sah untuk tayammum?

Tanah tayammum harus suci, murni, dan belum dipakai.[4]

  • Sah: tanah berwarna apa pun, bath’a, dan sabkh yang tidak tertutup garam.[4]
  • Tidak sah: pasir tanpa debu, serta mineral seperti kapur, arsenik, dan gips.[4]

Benda apa saja yang boleh dipakai untuk istinja selain batu?

Semua benda yang padat, suci, menghilangkan kotoran, dan tidak dimuliakan.[12]

  • Boleh: kayu, pecahan tembikar, rumput, emas, perak, permata, dan kulit pisang yang sudah kering.[12] [13]
  • Tidak boleh: benda basah atau najis, benda licin, makanan, tulang, bagian tubuh hewan yang masih menyatu, dan kertas bertulisan ilmu syar’i.[12] [13]

Apakah kulit bangkai suci setelah disamak?

Ya, kecuali kulit anjing, babi, dan keturunan keduanya.[18]

  • Syarat bahan penyamak: tajam, mengeluarkan sisa kotoran, dan tidak membusukkan kulit.[18]
  • Setelah disamak, kulit boleh dipakai shalat bila dicuci dan boleh dijual, tetapi tidak halal dimakan.[20]

Bolehkah tanah dalam basuhan najis anjing diganti sabun?

Tidak boleh. Kitab menyatakan tidak ada benda yang menggantikan tanah, termasuk sabun dan ushnan.[5]

  • Tanah harus suci, belum musta’mal, dan bercampur air.[5]
  • Tanah tetap dipakai walaupun merusak kain atau menambah jumlah basuhan.[5]

Catatan Kaki

1 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 4. ↩

2 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 5. ↩

3 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 72. ↩

4 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 84. ↩

5 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 21. ↩

6 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 21–22. ↩

7 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 44. ↩

8 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 49. ↩

9 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 45. ↩

10 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 51–52. ↩

11 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 52. ↩

12 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 50. ↩

13 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 51. ↩

14 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 50–51. ↩

15 : Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, al-Iqna’, Juz 1, Hal 88. ↩

16 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 53. ↩

17 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 10. ↩

18 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 17. ↩

19 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 17–18. ↩

20 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 18. ↩

21 : Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Juz 1, Hal 18–19. ↩

Ruang Muzakarah (Diskusi)

Silakan bertanya atau berbagi ilmu dengan adab yang baik. Email Anda aman dan tidak akan dipublikasikan.