Apa Itu Asmaul Husna? Pengertian dan Makna “Al-Husna”
Banyak orang hafal Asmaul Husna sejak kecil, biasanya lewat lagu atau hafalan setelah shalat. Tapi kalau ditanya “apa sebenarnya arti Asmaul Husna?”, jawabannya sering berhenti di “99 nama Allah”. Padahal di balik dua kata itu ada pembahasan akidah yang panjang dan indah.
Artikel ini mengikuti penjelasan Syekh Ahmad Zarruq (846–899 H) dalam kitab Syarh Asma’ Allah al-Husna, dengan tahqiq Sayyid Yusuf Ahmad. Kita mulai dari yang paling dasar: pengertian Asmaul Husna.
Arti Kata “Asma'” dan “Husna” secara Bahasa
Asma’ adalah bentuk jamak dari ism (nama). Al-Husna adalah bentuk perempuan dari kata ahsan, yang berarti “paling baik”. Jadi arti Asmaul Husna secara bahasa adalah nama-nama yang paling baik.
Dalam kajian akidah, istilah ini disebut juga al-asma’ al-husna. Ia merujuk pada nama-nama Allah yang ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis. Penjelasan kebahasaan ini bersifat umum dalam ilmu bahasa Arab, bukan kutipan langsung dari kitab Syekh Zarruq.
Pentahqiq kitab membuka pembahasannya dengan ayat yang menjadi pangkal semuanya:
حَثَّ المَوْلَى عِبَادَهُ فِي كِتَابِهِ العَزِيزِ بِأَنْ نَدْعُوَهُ بِأَسْمَائِهِ الحُسْنَى، فَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا﴾ [الأعراف: 180]
Artinya: Allah mendorong hamba-Nya di dalam Al-Qur’an agar berdoa dengan nama-nama-Nya yang terbaik. Firman-Nya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik (Asmaul Husna), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.”[1]
Mengapa Nama Allah Disebut “Terbaik”?
Nama Allah disebut terbaik karena semuanya menunjuk pada kesempurnaan tanpa kekurangan. Tidak ada satu pun nama-Nya yang mengandung cela. Karena itu, nama-nama terbaik Allah layak dijadikan pintu untuk mengenal-Nya.
Lawan dari sifat sempurna ini adalah sifat makhluk: terbatas, butuh, dan berubah. Allah suci dari semua itu. Pembahasan lebih dalam tentang menjaga pemahaman agar tidak menyerupakan Allah dengan makhluk ada di bagian kerangka makna.
Hubungan Nama, Sifat, dan Dzat
Setiap nama Allah menunjuk kepada Dzat yang Maha Sempurna, sekaligus mengandung sifat tertentu. Misalnya, Ar-Rahman menunjuk pada Dzat Allah dengan sifat kasih sayang. Karena itu, mempelajari nama dan sifat Allah adalah jalan paling dekat untuk mengenal Allah.
Para ulama pernah berbeda pendapat: apakah ism (nama) itu sama dengan musamma (yang dinamai), atau berbeda? Imam al-Qusyairi, sebagaimana dinukil dalam catatan pentahqiq, cenderung menyatakan keduanya sama:
قَالَ القُشَيْرِيُّ: فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الِاسْمَ هُوَ المُسَمَّى، إِذْ لَوْ كَانَ غَيْرَهُ لَكَانَتِ الأَسْمَاءُ لِغَيْرِهِ
Artinya: Al-Qusyairi berkata, hadis ini menjadi dalil bahwa nama adalah yang dinamai. Sebab seandainya nama itu selain-Nya, berarti nama-nama itu milik selain Allah.[2]
Sikap Salaf: Tidak Memperdebatkannya
Syekh Zarruq sendiri memilih jalan yang lebih tenang. Beliau menegaskan bahwa para salaf tidak masuk ke perdebatan ini:
وَلَكِنَّ السَّلَفَ لَمْ يَتَكَلَّمُوا فِي الِاسْمِ وَلَا فِي المُسَمَّى، وَلَا فِي الصِّفَةِ وَالمَوْصُوفِ، وَلَا فِي التِّلَاوَةِ وَالمَتْلُوِّ؛ طَلَبًا لِلسَّلَامَةِ … وَهُوَ الوَرَعُ، وَاللهُ أَعْلَمُ
Artinya: Para salaf tidak membahas soal nama dan yang dinamai, sifat dan yang disifati, atau bacaan dan yang dibaca. Mereka mencari keselamatan, dan itulah sikap wara’. Wallahu a’lam.[3]
Pelajaran praktisnya sederhana. Kita tidak perlu tenggelam dalam debat istilah. Cukup mengenal nama Allah, memahami maknanya, lalu berdoa dan beramal dengannya.
Asmaul Husna dan Tauhid: Mengenal Sebelum Mengamalkan
Pentahqiq mengingatkan bahwa seluruh pembahasan nama Allah berpijak pada tauhid:
فَإِنَّ التَّوْحِيدَ أَصْلُ الدِّينِ
Artinya: Sesungguhnya tauhid adalah pokok agama.[1]
Urutannya jelas. Kita mengenal Allah lebih dulu lewat nama-nama-Nya, baru kemudian berdzikir dan berdoa dengannya. Mengamalkan tanpa mengenal ibarat memanggil seseorang tanpa tahu siapa dia.
Mengapa Memahami 99 Nama Allah Penting bagi Muslim?
Ada tiga alasan utama mengapa umat Islam perlu mempelajari 99 nama Allah.
Memperkuat Iman dan Pengenalan kepada Allah
Semakin kita paham makna Al-Ghaffar, Ar-Razzaq, atau Al-Bashir, semakin hidup rasa percaya kita kepada Allah. Iman jadi tidak berhenti sebagai hafalan, tapi tumbuh menjadi keyakinan yang terasa dalam keseharian.
Dasar Doa, Dzikir, dan Akhlak
Ayat yang kita bahas tadi memerintahkan kita berdoa dengan Asmaul Husna. Dari sini lahir tiga hal: doa, dzikir, dan akhlak yang meneladani sifat-sifat mulia. Semuanya akan diuraikan di bagian cara memahami dan mengamalkan, lengkap dengan adab dan caranya.
Tempat Asmaul Husna dalam Kajian Akidah dan Tasawuf
Satu catatan dari kami: tema ini masuk dalam rumpun akidah dan tasawuf, bukan fiqh yang membahas hukum halal-haram. Karena itu, pembahasan di sini lebih banyak tentang makna, dalil, dan adab, bukan tentang hukum wajib atau sunnah suatu amalan. Pendekatan ini sejalan dengan cara Syekh Zarruq menyusun kitabnya.
Di bagian berikutnya, kita lihat dalil Al-Qur’an dan hadis yang menjadi dasar semua pembahasan ini.
Dalil Al-Qur’an tentang Asmaul Husna

Semua pembahasan nama Allah berpijak pada wahyu, bukan pada selera atau tebakan. Pentahqiq Syarh Asma’ Allah al-Husna membuka mukadimahnya dengan beberapa ayat. Dari sinilah dalil Asmaul Husna dalam Al-Qur’an dirangkai.
QS Al-A’raf: 180
Ayat ini memuat perintah sekaligus larangan. Perintahnya: berdoa dengan nama-nama terbaik Allah. Larangannya: menyimpang dari nama-nama itu.
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Hanya milik Allah nama-nama yang terbaik, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu. Tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”[1]
Ayat ini juga menjadi dasar berdoa dengan nama Allah. Adab dan caranya kita bahas di bagian cara memahami dan mengamalkan.
QS Al-Isra’: 110 dan QS Thaha: 8
Dua ayat berikutnya menegaskan bahwa nama-nama terbaik itu milik Allah semata.
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai nama-nama yang terbaik.'” (QS Al-Isra’: 110)
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Dia memiliki nama-nama yang terbaik.” (QS Thaha: 8)[4]
QS Al-Hasyr: 22–24
Surah Al-Hasyr ditutup dengan rangkaian nama Allah yang panjang, mulai dari Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, hingga Al-Khaliq, Al-Bari’, dan Al-Mushawwir. Pentahqiq mengutip ayat penutupnya:
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Artinya: “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, dan Yang Membentuk rupa. Dia memiliki nama-nama yang terbaik.” (QS Al-Hasyr: 24)[5]
Jadi, kalau ada yang bertanya ayat Asmaul Husna atau surat tentang Asmaul Husna, jawabannya ada di empat tempat tadi: Al-A’raf: 180, Al-Isra’: 110, Thaha: 8, dan Al-Hasyr: 22–24.
Hadis “Sesungguhnya Allah Memiliki 99 Nama”
Al-Qur’an menyebut nama-nama itu, sedangkan Sunnah menjelaskan jumlahnya. Rujukan utamanya adalah riwayat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Orang sering mencarinya dengan kata kunci hadis 99 nama Allah.
Teks Hadis dan Perawinya
Pentahqiq menukil hadis ini sebagaimana ada dalam dua kitab Shahih dan lainnya:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا، مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ»
Artinya: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Siapa yang meng-ihsha’-nya akan masuk surga.”
Dalam catatan kaki, pentahqiq menyebut takhrijnya: Bukhari (6410), Muslim (2677), Tirmidzi (3507), dan Ibnu Majah (3861). Riwayat ini juga ada dalam Shahih Ibnu Hibban dan Mustadrak al-Hakim.[5]
Hanya Tirmidzi dan Ibnu Majah yang Menyebut Daftar Namanya
Pentahqiq menjelaskan satu hal yang sering terlewat:
وَلَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنَ الكُتُبِ السِّتَّةِ الأَسْمَاءَ إِلَّا التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَه، وَطَرِيقُ التِّرْمِذِيِّ أَصَحُّ وَهُوَ المُعَوَّلُ
Artinya: Dari enam kitab hadis pokok, hanya Tirmidzi dan Ibnu Majah yang menyebut rincian nama-namanya. Jalur Tirmidzi lebih kuat dan menjadi pegangan. Syekh Zarruq pun bersandar pada jalur ini dalam syarahnya.[5]
Artinya, hadis tentang jumlah 99 diriwayatkan secara luas, sementara daftar rinci namanya ada di dua kitab tadi. Perbedaan daftar itu kita bahas di bagian jumlah dan riwayat nama.
Makna “Ahshaha”: Apa yang Dimaksud Menghitung?

Kata kunci hadis ini adalah ahshaha (أحصاها). Secara bahasa ia bisa berarti menghitung. Para ulama berbeda dalam memaknainya, dan pentahqiq merangkumnya:
وَقِيلَ: أَحْصَاهَا: عَدَّهَا فِي الدُّعَاءِ بِهَا. وَقِيلَ: أَطَاقَهَا، أَيْ أَحْسَنَ المُرَاعَاةَ لَهَا وَالمُحَافَظَةَ عَلَى مَا تَقْتَضِيهِ وَصِدْقِ مَعَانِيهَا
Artinya: Ada yang berkata, maksudnya menyebutnya satu per satu dalam doa. Ada pula yang berkata, maksudnya sanggup menjaganya, yaitu memperhatikan dan menjaga apa yang dituntut oleh nama-nama itu serta kebenaran maknanya.[5]
Ringkasnya, ada beberapa pendapat:
- Menghafal. Imam Bukhari dan para ahli lain mengambilnya dari riwayat lain yang berbunyi “man hafizhaha” (مَنْ حَفِظَهَا).
- Menghitung dalam doa, yakni menyebutnya satu per satu saat berdoa.
- Memahami dan menjaga tuntutannya, termasuk membenarkan maknanya dalam hati.
- Mengamalkan dan menaati Allah sesuai tuntutan tiap nama.
Ada juga yang mengartikannya sebagai menghafal seluruh Al-Qur’an. Pendapat ini dinilai lemah, dan yang sahih adalah pendapat pertama.[6]
Syekh Zarruq sendiri memperluas makna ihsha’ menjadi lima dimensi. Itu kita bahas di bagian cara memahami dan mengamalkan.
Keutamaan Menjaga Asmaul Husna menurut Hadis
Hadis tadi sudah jelas menyebut balasannya: masuk surga. Inilah inti keutamaan Asmaul Husna menurut hadis. Perlu diingat bahwa janji ini berlaku bagi orang yang benar-benar menunaikan ihsha’, bukan sekadar membaca sekilas.
Penjelasan lebih lengkap tentang takhrij dan perbedaan pendapat tentang ihsha’ bisa Anda baca di pembahasan khusus tentang hadis 99 nama Allah dan makna ahshaha.
Setelah dalilnya jelas, muncul pertanyaan besar: apakah nama Allah hanya 99? Kita jawab di bagian jumlah dan riwayat nama.
Apakah Nama Allah Hanya 99? Penjelasan Imam An-Nawawi
Pertanyaan ini hampir selalu muncul setelah orang membaca hadis 99 nama. Kalau bunyinya “seratus kurang satu”, apakah itu berarti nama Allah memang cuma segitu? Jawaban para ulama: tidak. Untuk pembahasan lebih ringkas, Anda bisa membaca juga uraian khusus tentang apakah nama Allah hanya 99.
Angka 99 Bukan Pembatasan, tetapi Janji Pahala
Pentahqiq menukil kesepakatan ulama dari Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim:
وَاتَّفَقَ العُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ هَذَا الحَدِيثَ لَيْسَ فِيهِ حَصْرٌ لِأَسْمَائِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلَيْسَ مَعْنَاهُ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ أَسْمَاءُ غَيْرُ هَذِهِ التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، وَإِنَّمَا مَقْصُودُ الحَدِيثِ أَنَّ هَذِهِ التِّسْعَةَ وَالتِّسْعِينَ مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الجَنَّةَ
Artinya: Para ulama sepakat bahwa hadis ini tidak membatasi nama-nama Allah. Maksudnya bukan berarti Allah tidak punya nama selain 99 itu. Yang dimaksud hadis adalah: 99 nama ini, siapa yang meng-ihsha’-nya akan masuk surga.[5]
Syekh Zarruq memakai logika yang sama. Beliau menjelaskan bahwa yang dibatasi hanyalah pahalanya, bukan namanya:
فَحَصَرَ هَذَا الثَّوَابَ لِلتِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، وَلَمْ يَحْصُرِ الأَسْمَاءَ فِي التِّسْعَةِ وَالتِّسْعِينَ، فَجَازَ أَنْ يَكُونَ ثَمَّ غَيْرُهَا
Artinya: Hadis membatasi pahala ini pada 99 nama, tetapi tidak membatasi nama-nama itu sendiri pada 99. Maka boleh jadi ada nama lain.[7]
Dalil Adanya Nama Lain
An-Nawawi menyebut hadis lain sebagai bukti. Redaksinya dalam doa yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibnu Mas’ud:
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ
Artinya: “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama milik-Mu, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau simpan dalam ilmu gaib di sisi-Mu.”[8]
Frasa terakhir itulah yang menunjukkan ada nama yang hanya Allah yang tahu.
Pendapat Ulama tentang Jumlah yang Lebih Banyak
Pentahqiq mengutip Abu Bakr Ibnul ‘Arabi al-Maliki yang menukil dari sebagian ulama bahwa Allah memiliki seribu nama. Ibnul ‘Arabi menilai angka itu masih sedikit. Zarruq juga menyebut Syekh Abul ‘Abbas al-Buni yang menyusun pembagian nama hingga lebih dari seratus lima puluh.[9]
Dua Pandangan tentang Nama di Luar 99
Zarruq merangkum dua kemungkinan dengan hati-hati:
- Nama-nama selain 99 itu tidak kita ketahui.
- Atau kita mengetahuinya, tetapi tidak memiliki pahala khusus seperti 99 nama tadi.
Ada pula yang berpendapat bahwa 99 nama inilah yang diletakkan khusus untuk ibadah dan suluk, tidak seperti nama lainnya.[7]
Perbedaan Riwayat Daftar 99 Asmaul Husna
Hadis jumlahnya sepakat, tetapi daftar nama berbeda-beda. Ini yang membuat sebagian orang bingung ketika menemukan susunan 99 nama yang tidak sama antara satu sumber dan sumber lain. Silakan rujuk juga ulasan tentang perbedaan riwayat daftar Asmaul Husna.
Daftar dalam Tirmidzi dan Ibnu Majah
Imam Zarruq mencatat dalam bagian penutup kitabnya:
وَقَدِ اخْتَلَفَتِ الرِّوَايَاتُ فِي تَعْدِيدِ الأَسْمَاءِ وَتَعْيِينِهَا بَعْدَ الِاتِّفَاقِ عَلَى أَنَّ المَوْعُودَ عَلَيْهَا الثَّوَابَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ. وَالَّذِي أَثْبَتَهُ فِي جَامِعِ التِّرْمِذِيِّ …
Artinya: Riwayat-riwayat berbeda dalam merinci dan menentukan nama-nama itu, padahal semua sepakat bahwa yang dijanjikan pahala adalah sembilan puluh sembilan. Yang ditetapkan dalam Jami’ at-Tirmidzi menjadi rujukan.[10]
Dalam pembahasan mukadimah, Syekh Zarruq menambahkan bahwa riwayat Ibnu Majah memuat perbedaan dan perubahan urutan dibanding riwayat Tirmidzi.
Rincian Nama: Bagian Perawi, bukan Sabda Nabi?
Para ahli hadis menimbang apakah rincian nama itu sabda Nabi ﷺ atau penjelasan perawi. Zarruq menyebut:
فَرَجَّحَ الحُفَّاظُ أَنَّ سَرْدَهَا … مِنَ الرَّاوِي … وَقَالُوا: يُقْبَلُ فِيهَا خَبَرُ الوَاحِدِ؛ لِأَنَّهَا عِبَادَةٌ وَعَمَلٌ
Artinya: Para hafiz menguatkan bahwa penyebutan rincian nama itu berasal dari perawi. Mereka juga berkata, khabar ahad diterima dalam urusan ini karena ia menyangkut ibadah dan amal.[11]
Nama di Luar Daftar Tirmidzi
Dalam catatan pentahqiq, riwayat lain (Ibnul A’rabi dalam Mu’jam Syuyukh) menyebut nama-nama yang tidak ada di daftar Tirmidzi, antara lain Ar-Rabb, Al-Hannan, Al-Mannan, Al-Kafi, Ad-Da’im, Al-Qarib, Ats-Tsawab, Al-Jamil, Ash-Shadiq, Al-Muhith, Al-Qadim, dan Al-Khallaq.[12]
Cara Menyikapi Perbedaan
Pegangan paling aman adalah daftar yang dipakai Tirmidzi, karena jalurnya paling kuat. Tetapi kita tetap menghormati ijtihad ulama lain. Perbedaan ini tidak mengurangi satu pun kemuliaan nama-nama Allah.
Apakah Asmaul Husna Ditetapkan dengan Dalil Saja? (Tauqifiyah)
Pertanyaan terakhir: bolehkah kita menamai Allah dengan nama baru yang menurut kita indah?
Kaidah: Nama Allah Ditetapkan oleh Nash atau Ijma’
Syekh Zarruq menyatakan:
الأَسْمَاءُ تَوْقِيفِيَّةٌ، فَلَا تَثْبُتُ إِلَّا بِنَصٍّ أَوْ إِجْمَاعٍ عَلَى الصَّحِيحِ
Artinya: Nama-nama Allah bersifat tauqifiyah, tidak ditetapkan kecuali dengan nash atau ijma’, menurut pendapat yang sahih.[3]
Pendapat yang Membolehkan Pengambilan dari Perbuatan dan Sifat
Sebagian ulama tasawuf, termasuk Syekh Abul ‘Abbas al-Buni, menetapkan nama dengan mengambil kata dari perbuatan dan sifat Allah serta doa-doa dalam Sunnah. Syekh Zarruq menilai pendapat ini marjuh (lemah) di kalangan ulama.[3]
Dengan kaidah ini, kita tidak mengarang nama untuk Allah. Selanjutnya, bagian kerangka makna membahas kerangka untuk memahami maknanya.
Klasifikasi Asmaul Husna: Dzat, Tanzih, dan Af’al
Setelah dalil dan jumlahnya jelas, kita perlu peta untuk memahami isinya. Tanpa peta, 99 nama terasa seperti daftar panjang yang sulit diingat. Syekh Zarruq menyediakan peta sederhana yang bisa dipakai siapa saja. Inilah macam-macam Asmaul Husna menurut beliau.
Kelompok Nama menurut Zarruq
Dalam mukadimahnya, Syekh Zarruq membagi nama Allah ke dalam beberapa kelompok. Berikut adalah 3 klasifikasi Asmaul Husna menurut penjelasannya.
Nama Dzat
أَسْمَاءُ الذَّاتِ: وَهِيَ الَّتِي يُقَالُ: هِيَ هُوَ، وَلَا هِيَ غَيْرُهُ، وَلَا هِيَ فِيمَا بَيْنَهُمَا اعْتِبَارٌ
Artinya: Nama-nama Dzat ialah nama yang dikatakan “ia adalah Dia, dan ia bukan selain-Nya”. Contohnya lafaz Allah.[7]
Nama Tanzih
وَأَسْمَاءُ التَّنْزِيهِ: وَهِيَ مَا دَلَّ عَلَى التَّقْدِيسِ المُطْلَقِ كَالقُدُّوسِ وَنَحْوِهِ
Artinya: Nama-nama tanzih ialah nama yang menunjukkan kesucian mutlak, seperti Al-Quddus dan sejenisnya.[7]
Nama Af’al (Perbuatan)
وَأَسْمَاءُ الأَفْعَالِ: قَالَ إِمَامُ الحَرَمَيْنِ: هِيَ كُلُّ مَا دَلَّتِ التَّسْمِيَةُ بِهِ عَلَى فِعْلٍ، كَالخَلْقِ وَالرِّزْقِ
Artinya: Nama-nama af’al menurut Imam al-Haramain ialah nama yang menunjukkan suatu perbuatan, seperti menciptakan dan memberi rezeki. Contohnya Al-Khaliq dan Ar-Razzaq.[7]
Sebagian guru menanggapi bahwa perbedaan makna dalam kelompok ini ada pada isytiqaq (turunan kata), bukan pada nama itu sendiri. Zarruq menyebut ini pendapat yang sahih.
Makna Isytiqaq dalam Nama Allah
Ketika kitab menyebut isytiqaq, maksudnya adalah bahwa sebuah nama mengandung makna tertentu. Misalnya As-Salam mengandung makna keselamatan, dan Ar-Rahman mengandung makna rahmat. Bukan berarti nama Allah “berasal” dari sesuatu yang lebih dulu ada. Zarruq menegaskan:
وَأَسْمَاءُ اللهِ تَعَالَى قَدِيمَةٌ؛ لِأَنَّهَا مِنْ كَلَامِهِ … وَأَنْكَرَ قَوْمٌ إِطْلَاقَ الِاشْتِقَاقِ لِلْإِيهَامِ
Artinya: Nama-nama Allah itu qadim (tanpa permulaan) karena merupakan bagian dari kalam-Nya. Sebagian ulama menolak memakai istilah isytiqaq karena bisa menimbulkan salah paham.[11]
Jalal, Jamal, dan Kamal: Tiga Warna Makna Asmaul Husna

Peta kedua lebih dekat ke hati. Anda bisa membaca ulasan lebih panjang tentang jalal, jamal, dan kamal dalam Asmaul Husna.
Penjelasan Syekh Ahmad Zarruq
Di awal kitabnya, Zarruq menulis:
فَجَعَلَ مِنْ أَسْمَائِهِ مَا لِلْجَمَالِ وَمَا لِلْجَلَالِ وَمَا لِلْكَمَالِ
Artinya: Allah menjadikan sebagian nama-Nya berkaitan dengan keindahan (jamal), sebagian dengan keagungan (jalal), dan sebagian dengan kesempurnaan (kamal).[13]
Dengan kata lain, nama Allah sifat jalal dan jamal adalah dua sisi yang saling melengkapi. Sifat keagungan menumbuhkan rasa hormat dan takut. Sifat keindahan menumbuhkan rasa dekat dan cinta.
Gambaran Tiap Kelompok
Contoh berikut hanya sebagai ilustrasi umum, bukan pembagian baku dari Zarruq:
- Jamal: Ar-Rahim, Al-Ghaffar, Al-Wadud. Hati terasa lapang saat menyebutnya.
- Jalal: Al-Jabbar, Al-Qahhar, Al-Mutakabbir. Hati terasa tunduk.
- Kamal: Al-‘Alim, Al-Qadir, Al-Hayy. Hati terasa kagum pada kesempurnaan-Nya.
Pembagian ini memudahkan kita mengingat makna. Satu nama bisa dipahami dari beberapa sisi sekaligus.
Kaitannya dengan Sikap Hati
Zarruq menghubungkan kelompok ini dengan keadaan jiwa orang yang berdzikir:
فَإِذَا كَانَ الغَالِبُ عَلَيْكَ الجَلَالَ وَالقَبْضَ، فَخُذْ مِنَ الأَسْمَاءِ الجَلَالِيَّةِ
Artinya: Jika yang dominan pada dirimu adalah rasa keagungan dan qabdh (hati yang menciut), ambillah dari nama-nama jalaliyah.[14]
Rasa takut (khauf), harap (raja’), dan cinta tumbuh dari tiga warna makna ini. Cara memilih nama yang pas kita bahas di bagian cara memahami dan mengamalkan.
Tanzih: Menjaga Pemahaman agar Tidak Menyerupakan Allah dengan Makhluk
Semakin kita mengenal nama Allah, semakin perlu kita menjaga satu hal: jangan membayangkan Allah seperti makhluk. Ini disebut tanzih. Uraian lanjutannya ada di bahasan tentang tanzih dalam memahami nama dan sifat Allah.
Prinsip: Allah Tidak Serupa Makhluk
Dalam catatan pentahqiq, Imam al-Ghazali dikutip menjelaskan bahwa Allah bukan jisim, tidak dibatasi ukuran, dan tidak ada yang menyerupai-Nya, dengan dalil:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS Asy-Syura: 11)[15]
Jadi, Allah tidak serupa makhluk. Kata “mendengar” pada As-Sami’ tidak sama dengan pendengaran telinga kita.
Dua Pendekatan Ulama dalam Ayat dan Hadis Sifat
Pentahqiq mengutip Imam an-Nawawi tentang dua jalan para ulama:
أَحَدُهُمَا — وَهُوَ مَذْهَبُ مُعْظَمِ السَّلَفِ أَوْ كُلِّهِمْ —: أَنَّهُ لَا يُتَكَلَّمُ فِي مَعْنَاهَا، بَلْ يَقُولُونَ: يَجِبُ عَلَيْنَا أَنْ نُؤْمِنَ بِهَا وَنَعْتَقِدَ لَهَا مَعْنًى يَلِيقُ بِجَلَالِ اللهِ تَعَالَى وَعَظَمَتِهِ مَعَ اعْتِقَادِنَا الجَازِمِ أَنَّ اللهَ تَعَالَى لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
Artinya: Pertama, jalan sebagian besar salaf: tidak membahas maknanya (tafwidh). Kita beriman bahwa sifat itu bermakna sesuai kemuliaan Allah, dengan keyakinan penuh bahwa tidak ada yang serupa dengan-Nya.
وَالقَوْلُ الثَّانِي — وَهُوَ مَذْهَبُ مُعْظَمِ المُتَكَلِّمِينَ —: أَنَّهَا تُتَأَوَّلُ عَلَى مَا يَلِيقُ بِهَا عَلَى حَسَبِ مَوَاقِعِهَا، وَإِنَّمَا يَسُوغُ تَأْوِيلُهَا لِمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِهَا بِأَنْ يَكُونَ عَارِفًا بِلِسَانِ العَرَبِ
Artinya: Kedua, jalan sebagian besar ahli kalam: menakwilkan sesuai konteks. Takwil hanya sah bagi orang yang ahli, yaitu yang menguasai bahasa Arab dan kaidah ushul serta furu’.[16]
Cara Membaca Arti Nama Allah
Saat membaca arti Al-Qahir atau Al-Basith, ingat tiga hal:
- Maknanya benar dan sesuai keagungan Allah.
- Jangan membayangkan bentuk, arah, atau ukuran.
- Kalau ragu soal ayat sifat, serahkan kepada ahlinya.
Dengan kerangka ini, kita siap melihat daftar nama dan artinya di bagian daftar 99 nama.
Daftar 99 Nama Allah dan Artinya Berdasarkan Tema

Inilah bagian yang paling sering dicari: daftar Asmaul Husna lengkap dengan tulisan Arab, Latin, dan terjemahannya. Supaya mudah dipelajari, 99 nama Allah di sini kami kelompokkan per tema, bukan per urutan hadis. Dengan begitu, nama yang maknanya berdekatan duduk berdampingan.
Dasar daftar ini adalah riwayat Tirmidzi, yang menurut pentahqiq paling kuat dan menjadi pegangan Zarruq. Pentahqiq menukil awal daftar itu dalam catatan kakinya:
هُوَ اللهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ الْغَفَّارُ الْقَهَّارُ الْوَهَّابُ الرَّزَّاقُ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ …
Artinya: “Dialah Allah, tidak ada tuhan selain Dia; Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu’min, Al-Muhaymin, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir, Al-Khaliq, Al-Bari’, Al-Mushawwir, Al-Ghaffar, Al-Qahhar, Al-Wahhab, Ar-Razzaq, Al-Fattah, Al-‘Alim …” dan seterusnya sampai genap sembilan puluh sembilan.[17]
Arti pada tabel di bawah adalah arti singkat. Penjelasan mendalam tiap nama ada di artikel yang in sya Allah akan kami tuliskan penjelasannya masing-masing.
Nama-nama tentang Tauhid, Keesaan, dan Kekekalan Allah
Kelompok ini menegaskan bahwa Allah satu, hidup, dan kekal tanpa awal dan akhir. Silakan lanjutkan ke pembahasan Asmaul Husna tentang Tauhid.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 1 | الله | Allah | Tuhan yang berhak disembah |
| 2 | الواحد | Al-Wahid | Maha Esa |
| 3 | الأحد | Al-Ahad | Maha Tunggal |
| 4 | الصمد | Ash-Shamad | Tempat bergantung segala makhluk |
| 5 | الحي | Al-Hayy | Maha Hidup |
| 6 | القيوم | Al-Qayyum | Maha Berdiri Sendiri dan Mengurus makhluk |
| 7 | الحق | Al-Haqq | Maha Benar |
| 8 | الوكيل | Al-Wakil | Maha Pemelihara dan Tempat berserah diri |
| 9 | الأول | Al-Awwal | Yang Awal |
| 10 | الآخر | Al-Akhir | Yang Akhir |
| 11 | الظاهر | Azh-Zhahir | Yang Nyata |
| 12 | الباطن | Al-Bathin | Yang Tersembunyi |
| 13 | الباقي | Al-Baqi | Maha Kekal |
| 14 | الواجد | Al-Wajid | Maha Menemukan, tidak kekurangan |
| 15 | الوارث | Al-Warits | Pewaris segala sesuatu |
Nama-nama tentang Rahmat, Ampunan, dan Kasih Sayang
Di sini kita bertemu nama-nama yang paling menenangkan hati. Pembahasan lengkapnya ada pada Asmaul Husna tentang rahmat dan ampunan.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 16 | الرحمن | Ar-Rahman | Maha Pengasih |
| 17 | الرحيم | Ar-Rahim | Maha Penyayang |
| 18 | الغفار | Al-Ghaffar | Maha Pengampun, banyak menutup dosa |
| 19 | الغفور | Al-Ghafur | Maha Pengampun |
| 20 | الشكور | Asy-Syakur | Maha Mensyukuri amal hamba |
| 21 | التواب | At-Tawwab | Maha Penerima taubat |
| 22 | العفو | Al-‘Afuw | Maha Pemaaf |
| 23 | الرؤوف | Ar-Ra’uf | Maha Belas Kasih |
| 24 | الودود | Al-Wadud | Maha Mencintai |
| 25 | الحليم | Al-Halim | Maha Penyantun |
| 26 | اللطيف | Al-Lathif | Maha Lembut |
| 27 | البر | Al-Barr | Maha Baik, banyak berbuat kebaikan |
Nama-nama tentang Keagungan, Kesucian, dan Kemuliaan
Kelompok ini terkait erat dengan sifat jalal yang kita bahas di bagian kerangka makna. Lanjutkan ke Asmaul Husna tentang keagungan Allah.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 28 | الملك | Al-Malik | Maha Merajai |
| 29 | القدوس | Al-Quddus | Maha Suci |
| 30 | السلام | As-Salam | Maha Sejahtera, selamat dari segala cela |
| 31 | المؤمن | Al-Mu’min | Pemberi rasa aman |
| 32 | المهيمن | Al-Muhaymin | Maha Memelihara dan Mengawasi |
| 33 | العزيز | Al-‘Aziz | Maha Perkasa |
| 34 | الجبار | Al-Jabbar | Maha Kuasa dan Memperbaiki |
| 35 | المتكبر | Al-Mutakabbir | Maha Memiliki Kebesaran |
| 36 | الجليل | Al-Jalil | Maha Mulia |
| 37 | الكريم | Al-Karim | Maha Pemurah dan Mulia |
| 38 | المجيد | Al-Majid | Maha Luhur |
| 39 | العلي | Al-‘Aliy | Maha Tinggi |
| 40 | العظيم | Al-‘Azhim | Maha Agung |
| 41 | الكبير | Al-Kabir | Maha Besar |
| 42 | المتعالي | Al-Muta’ali | Maha Tinggi lagi Luhur |
| 43 | مالك الملك | Malikul Mulk | Pemilik kerajaan |
| 44 | ذو الجلال والإكرام | Dzul Jalali wal Ikram | Pemilik keagungan dan kemuliaan |
| 45 | الحميد | Al-Hamid | Maha Terpuji |
Nama-nama tentang Penciptaan, Rezeki, dan Pemberian
Nama-nama ini sering dibaca saat orang berdoa meminta rezeki. Pembahasannya ada di Asmaul Husna tentang rezeki dan penciptaan.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 46 | الخالق | Al-Khaliq | Maha Pencipta |
| 47 | البارئ | Al-Bari’ | Maha Mengadakan |
| 48 | المصور | Al-Mushawwir | Maha Pemberi rupa |
| 49 | البديع | Al-Badi’ | Pencipta tanpa contoh sebelumnya |
| 50 | الوهاب | Al-Wahhab | Maha Pemberi karunia |
| 51 | الرزاق | Ar-Razzaq | Maha Pemberi rezeki |
| 52 | المقيت | Al-Muqit | Pemberi kebutuhan pokok |
| 53 | الغني | Al-Ghani | Maha Kaya |
| 54 | المغني | Al-Mughni | Maha Pemberi kecukupan |
| 55 | المعطي | Al-Mu’thi | Maha Pemberi |
| 56 | المانع | Al-Mani’ | Maha Pencegah |
| 57 | المبدئ | Al-Mubdi’ | Maha Mengadakan dari permulaan |
| 58 | المعيد | Al-Mu’id | Maha Mengembalikan |
| 59 | المحيي | Al-Muhyi | Maha Menghidupkan |
| 60 | المميت | Al-Mumit | Maha Mematikan |
| 61 | الفتاح | Al-Fattah | Maha Pembuka |
Nama-nama tentang Ilmu, Pendengaran, dan Pengawasan
Bagian ini berisi nama-nama yang mengingatkan bahwa Allah selalu tahu. Pembahasan lanjutannya ada di Asmaul Husna tentang ilmu dan pengawasan Allah.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 62 | العليم | Al-‘Alim | Maha Mengetahui |
| 63 | السميع | As-Sami’ | Maha Mendengar |
| 64 | البصير | Al-Bashir | Maha Melihat |
| 65 | الخبير | Al-Khabir | Maha Teliti |
| 66 | الرقيب | Ar-Raqib | Maha Mengawasi |
| 67 | الشهيد | Asy-Syahid | Maha Menyaksikan |
| 68 | الحسيب | Al-Hasib | Maha Mencukupi dan Menghitung |
| 69 | الحفيظ | Al-Hafizh | Maha Menjaga |
| 70 | المحصي | Al-Muhshi | Maha Menghitung |
| 71 | الحكيم | Al-Hakim | Maha Bijaksana |
Nama-nama tentang Kekuasaan, Keadilan, dan Pengaturan Takdir
Kelompok ini paling banyak, karena menyangkut kuasa Allah atas seluruh urusan. Baca lebih jauh di Asmaul Husna tentang kekuasaan dan keadilan Allah.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 72 | القهار | Al-Qahhar | Maha Menundukkan |
| 73 | القوي | Al-Qawiy | Maha Kuat |
| 74 | المتين | Al-Matin | Maha Kokoh |
| 75 | القادر | Al-Qadir | Maha Kuasa |
| 76 | المقتدر | Al-Muqtadir | Maha Menentukan |
| 77 | المقدم | Al-Muqaddim | Maha Mendahulukan |
| 78 | المؤخر | Al-Mu’akhkhir | Maha Mengakhirkan |
| 79 | القابض | Al-Qabidh | Maha Menyempitkan |
| 80 | الباسط | Al-Basith | Maha Melapangkan |
| 81 | الخافض | Al-Khafidh | Maha Merendahkan |
| 82 | الرافع | Ar-Rafi’ | Maha Meninggikan |
| 83 | المعز | Al-Mu’izz | Maha Memuliakan |
| 84 | المذل | Al-Mudzill | Maha Menghinakan |
| 85 | الحكم | Al-Hakam | Maha Menetapkan hukum |
| 86 | العدل | Al-‘Adl | Maha Adil |
| 87 | المقسط | Al-Muqsith | Maha Menegakkan keadilan |
| 88 | المنتقم | Al-Muntaqim | Maha Menindak yang zalim |
| 89 | الضار | Adh-Dharr | Maha Pemberi mudarat |
| 90 | النافع | An-Nafi’ | Maha Pemberi manfaat |
| 91 | الوالي | Al-Wali | Maha Menguasai urusan |
Nama-nama tentang Petunjuk, Pertolongan, dan Doa
Kelompok terakhir ini dekat dengan kebutuhan hamba untuk bimbingan dan jawaban doa. Silakan baca Asmaul Husna tentang petunjuk dan doa.
| No | Arab | Latin | Arti singkat |
|---|---|---|---|
| 92 | المجيب | Al-Mujib | Maha Mengabulkan |
| 93 | الواسع | Al-Wasi’ | Maha Luas |
| 94 | الباعث | Al-Ba’its | Maha Membangkitkan |
| 95 | الجامع | Al-Jami’ | Maha Mengumpulkan |
| 96 | الهادي | Al-Hadi | Maha Pemberi petunjuk |
| 97 | النور | An-Nur | Cahaya |
| 98 | الرشيد | Ar-Rasyid | Maha Membimbing ke arah benar |
| 99 | الصبور | Ash-Shabur | Maha Sabar |
Catatan tentang Empat Nama yang Tidak Punya Bab Sendiri
Empat nama berikut tetap dicantumkan di daftar, tetapi tidak punya bab tersendiri dalam kitab Zarruq: Al-Fattah, Al-Warits, Al-Barr, dan Al-Hamid. Keempatnya ada dalam daftar riwayat Tirmidzi. Karena itu arti singkatnya di tabel kami ambil dari pemahaman umum.
Satu hal lagi: susunan 99 nama di atas adalah penataan per tema. Daftar riwayat berbeda-beda di sejumlah nama, seperti sudah dibahas di bagian jumlah dan riwayat nama. Kelompok per tema dipakai agar mudah dipelajari, bukan untuk menyatakan satu-satunya urutan yang benar.
Cara Membaca Daftar Ini dan Nama yang Berdekatan Maknanya
Sebagian nama terdengar mirip, dan wajar kalau orang bertanya apa bedanya. Ada dua cara membacanya.
Nama Berpasangan
Beberapa nama sebaiknya dipahami sebagai pasangan:
- Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Zarruq menjelaskan Ar-Rahman berasal dari rahmat, yaitu tampaknya urusan Allah kepada makhluk dengan kelembutan dan kebaikan:
الرَّحْمَنُ: فَعْلَانُ مِنَ الرَّحْمَةِ، الَّتِي هِيَ: ظُهُورُ أَمْرِهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِخَلْقِهِ بِنَوْعٍ مِنَ الرِّفْقِ وَالْبِرِّ
Artinya: Ar-Rahman adalah bentuk fa’lan dari rahmat, yakni nyatanya urusan Allah bagi makhluk-Nya dengan kelembutan dan kebaikan.[18] Dalam catatan pentahqiq, Ibnu Jarir menukil bahwa Ar-Rahman untuk seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim khusus bagi orang beriman.[18] Inilah jawaban singkat untuk perbedaan Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
- Al-Qabidh dan Al-Basith. Menyempitkan dan melapangkan.
- Al-Awwal dan Al-Akhir. Permulaan dan penutup tanpa batas.
- Al-Wahid dan Al-Ahad. Keduanya menunjuk keesaan, dengan sudut makna yang dibahas di artikel ketauhidan Asmaul Husna.
Nama yang Dibahas dalam Satu Bab
Dalam kitab, beberapa nama dibahas sekaligus dalam satu bab, misalnya Al-Khaliq, Al-Bari’, dan Al-Mushawwir (hlm 52). Zarruq menjelaskan sebagian maknanya:
وَالتَّخْلِيقُ: إِيجَادُ المُتَمَكِّنِ وَإِبْرَازُهُ لِلْوُجُودِ … المُصَوِّرُ: مُعْطِي كُلِّ مَخْلُوقٍ مَا هُيِّئَ لَهُ مِنْ صُورَةِ وُجُودِهِ بِحِكْمَتِهِ
Artinya: Takhliq adalah mengadakan sesuatu yang mungkin ada dan memunculkannya ke alam wujud. Al-Mushawwir adalah Yang memberi setiap makhluk bentuk wujud yang disiapkan baginya dengan hikmah-Nya.[19]
Dengan peta ini, daftar 99 nama terasa tidak lagi seperti hafalan panjang. Bagian berikutnya membahas cara memahami dan mengamalkannya.
Makna “Ihsha'” Menurut Zarruq: Lima Dimensi Memahami Asmaul Husna
Di bagian dalil kita sudah melihat bahwa kata ahshaha dalam hadis punya beberapa tafsir. Syekh Zarruq merapikannya menjadi satu kerangka yang mudah diingat. Inilah jawaban paling ringkas untuk pertanyaan cara memahami Asmaul Husna dan mengamalkan Asmaul Husna.
Lima Dimensi Ihsha’
الإِحْصَاءُ عَلَى خَمْسَةِ أَوْجُهٍ: الحِفْظُ، وَالذِّكْرُ، وَالعِلْمُ، وَالتَّعَلُّقُ، وَالتَّخَلُّقُ. وَالكُلُّ أَقْوَالٌ
Artinya: Ihsha’ memiliki lima sisi: menghafal, berdzikir, mengetahui makna, ta’alluq, dan takhalluq. Semuanya pernah dikatakan para ulama.[11]
Urutannya naik pelan-pelan. Orang mulai dari hafalan, lalu dzikir, kemudian ilmu tentang makna. Dua yang terakhir menyentuh hati dan perilaku.
Takhalluq: Meneladani Akhlak Allah Sesuai Batas Manusia
Takhalluq berarti berakhlak dengan akhlak yang selaras dengan sifat-sifat Allah, tentu dalam batas kemampuan hamba. Contohnya sederhana. Kita mengenal Ar-Rahim, maka belajar menyayangi orang di sekitar. Kita mengenal Al-‘Afuw, maka belajar memaafkan.
Ini bukan berarti manusia menyamai Allah. Kita hanya meniru sisi akhlak yang pantas diteladani oleh hamba-Nya.
At-Taqarrub dan Ta’alluq
Zarruq menyebut tiga tujuan dzikir:
ثُمَّ الذِّكْرُ: إِمَّا لِلتَّعَبُّدِ أَوْ لِلتَّوَسُّلِ أَوْ لِطَلَبِ الخَاصِّيَّةِ، وَلِكُلٍّ شَرْطٌ وَوَجْهٌ وَمَادَّةٌ
Artinya: Dzikir itu ada yang untuk ibadah, ada yang untuk tawassul, dan ada yang untuk mencari khasiat. Masing-masing punya syarat, sisi, dan bahannya.[11]
At-taqarrub adalah mendekat kepada Allah lewat nama-Nya. Ta’alluq adalah mengikat hati dengan makna nama itu, sehingga ia hidup dalam sikap sehari-hari.
Menghafal dan Memahami, Bukan Sekadar Membaca
Orang yang hanya melafalkan tanpa tahu arti ibarat membaca daftar nama tanpa kenal pemiliknya. Zarruq bahkan menyebut jenis dzikir yang hanya menjadi kebiasaan lisan, tanpa hadir hati, tidak banyak memberi manfaat.[11] Jadi hafalan itu pintu, bukan tujuan.
Adab Berdoa dengan Asmaul Husna
Perintah Allah di QS Al-A’raf: 180 jelas: berdoalah dengan nama-nama-Nya. Pertanyaannya, bagaimana adabnya? Berikut cara berdoa dengan Asmaul Husna yang sejalan dengan kitab.
Memilih Nama yang Sesuai Hajat
Pilihlah nama yang cocok dengan kebutuhan. Saat meminta rezeki, sebut Ar-Razzaq. Saat memohon ampun, sebut Al-Ghaffar atau At-Tawwab. Saat butuh petunjuk, sebut Al-Hadi. Ini sejalan dengan ayat tadi, karena berdoa dengan nama Allah berarti menyebut nama yang sesuai isi doa.
Mengutamakan Doa dari Al-Qur’an dan Sunnah
Pentahqiq mengingatkan bahwa jalan terbaik dalam berdoa adalah mengikuti Al-Qur’an dan sabda Nabi ﷺ. Ia mengutip beberapa ulama yang menolak doa karangan tanpa dasar. At-Thabrani berkata:
رَأَيْتُ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ قَدْ تَمَسَّكُوا بِأَدْعِيَةِ سَجْعٍ، وَأَدْعِيَةٍ وُضِعَتْ عَلَى عَدَدِ الأَيَّامِ … لَا تُرْوَى عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
Artinya: Aku melihat banyak orang berpegang pada doa-doa bersajak dan doa yang disusun sesuai jumlah hari, padahal tidak diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ maupun dari seorang sahabat.[20]
Al-Khattabi juga mewanti-wanti agar menjauhi doa dan nama buatan yang tidak bersumber dari wahyu. Sedangkan Ath-Tharthusyi mengherankan orang yang meninggalkan doa-doa Al-Qur’an lalu memilih ungkapan para penyair dan penulis.[20] Al-Qadhi ‘Iyadh pun dinukil tentang Allah yang mengizinkan hamba berdoa dan mengajarkan doa dalam kitab-Nya.
Zarruq sendiri menyusun bentuk doa dengan nama-nama itu, dan pentahqiq menilainya baik selama tidak menyalahi Al-Qur’an dan Sunnah.[21]
Hadis “Bi Kulli Ismin Huwa Laka …”
Doa dari Sunnah yang sering disebut adalah doa orang yang sedang dilanda gelisah atau sedih. Intinya sama dengan yang kita bahas di bagian jumlah dan riwayat nama:
أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ القُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي
Artinya: “Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama milik-Mu … agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hatiku.”[8]
Cara Berdzikir dengan Asmaul Husna dan Memilih Nama yang Sesuai
Banyak yang bertanya cara dzikir Asmaul Husna yang benar. Syekh Zarruq tidak memberi satu rumus untuk semua orang. Ia justru mulai dari kondisi jiwa. Panduan lebih lengkap tersedia di bahasan tentang cara berdzikir dengan Asmaul Husna.
Memilih Nama sesuai Kondisi Jiwa
ثُمَّ إِذَا أَرَدْتَ السُّلُوكَ بِاسْمٍ عَلَى طَرِيقِ الذِّكْرِ فَحَقِّقْ طَبْعَكَ وَحَالَكَ، ثُمَّ انْظُرْ مِنَ الأَسْمَاءِ مَا يُنَاسِبُهُ مَعْنًى
Artinya: Jika engkau hendak berjalan dengan suatu nama lewat dzikir, kenali dulu tabiat dan keadaanmu, lalu lihat nama yang maknanya cocok.[14]
Setelah itu Syekh Zarruq merinci tiga keadaan:
- Dominan jalal dan qabdh (hati terasa sempit atau takut): ambil dari nama-nama jalaliyah.
- Dominan jamal (hati cenderung harap dan cinta): ambil dari nama-nama jamaliyah.
- Dominan kamal: ambil nama-nama kamaliyah yang sesuai dirimu, dan berdzikirlah dengan suara seimbang, tanpa berlebih-lebihan.[22]
Syarat dan Adab menurut Zarruq
Zarruq memberi beberapa pegangan yang mudah dipahami:
وَالجَمْعُ فِي ذَلِكَ كُلِّهِ شَرْطٌ، وَعَدَمُ الِاسْتِعْجَالِ أَصْلٌ
Artinya: Konsentrasi hati adalah syarat, dan tidak tergesa-gesa adalah pokoknya.[23]
Beliau menambahkan bahwa ketakwaan dan istiqamah adalah syarat. Dzikir semacam ini sebaiknya ditemani guru yang tulus dan teman saleh agar tidak keliru:
فَالتَّقْوَى وَالِاسْتِقَامَةُ شَرْطٌ، وَلَا بُدَّ مِنْ مُشَارَكَةِ شَيْخٍ نَاصِحٍ وَأَخٍ صَالِحٍ بِمَا يُصْلِحُ، وَإِلَّا وَقَعَ الغَلَطُ. فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فَلَا تُقْدِمْ عَلَى شَيْءٍ إِلَّا بِالِاسْتِخَارَةِ مِرَارًا
Artinya: Takwa dan istiqamah adalah syarat, dan perlu bimbingan guru yang tulus serta teman saleh, kalau tidak, bisa terjadi kesalahan. Bila tidak ada, jangan melangkah tanpa istikharah berulang kali.[24]
Tips Praktis
Bagian ini adalah saran kami, bukan kutipan kitab:
- Mulailah dengan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ, termasuk dzikir setelah shalat fardhu.
- Pilih jumlah yang wajar dan bisa dijaga rutin, jangan memaksakan diri.
- Pahami arti nama yang dibaca, supaya hati ikut hadir.
- Konsultasikan dengan guru bila ingin meningkatkan amalan.
Jadi, dzikir Asmaul Husna setelah sholat cukup dilakukan secukupnya dan dengan hati hadir. Pembahasan khusus ada di sub-tema dzikir pada artikel terkait.
Cara Menghafal Asmaul Husna beserta Artinya
Untuk cara menghafal Asmaul Husna, mulai dari tabel per tema di bagian daftar 99 nama. Hafalkan satu kelompok per hari, baca artinya, lalu coba kaitkan dengan satu kejadian dalam hidup. Misalnya, saat rezeki terasa sempit, ingat Ar-Razzaq. Hafalan yang disertai makna jauh lebih awet.
Terakhir, bagian khasiat dan FAQ membahas khasiat, batas syar’i, dan FAQ.
Khasiat Asmaul Husna: Antara Dalil dan Riwayat Ulama
Setelah mengenal makna dan adab, banyak orang bertanya tentang khasiat Asmaul Husna. Bagian ini tidak berisi amalan untuk dipraktikkan. Kami hanya menelaah apa yang ditulis Syekh Zarruq tentang sumber khasiat itu dan bagaimana ulama menyikapinya. Pembahasan lebih luas ada di ulasan tentang khasiat Asmaul Husna menurut ulama.
Apa Kata Syekh Zarruq tentang Sumber Khasiat?
Syekh Zarruq berterus terang soal rujukannya. Di penutup kitab, beliau menulis:
وَغَالِبُ مَا اعْتَمَدْتُهُ فِي الخَوَاصِّ إِنَّمَا هُوَ مِنْ كِتَابِي «كِيمِيَاءِ السَّعَادَةِ» لِلْإِمَامِ مُحْيِي الدِّينِ بْنِ العَرَبِيِّ، وَبَعْضُهُ لِأَبِي العَبَّاسِ البُونِيِّ. وَلَمْ يُمْكِنِّي تَصْحِيحُ ذَلِكَ لِلْعَجَلَةِ الَّتِي صَحِبَتْنِي فِي وَقْتِهِ
Artinya: Sebagian besar yang saya jadikan pegangan tentang khasiat berasal dari kitab Kimiya as-Sa’adah karya Ibnu ‘Arabi, dan sebagian dari Abul ‘Abbas al-Buni. Saya tidak sempat memverifikasinya karena terburu-buru pada waktu itu.[14]
Pengakuan ini penting. Artinya, khasiat yang beredar tidak otomatis berstatus dalil, bahkan penulisnya sendiri belum sempat mengecek kebenarannya.
Khasiat Butuh Ilham dan Pengalaman
Di mukadimah, Syekh Zarruq menjelaskan bahwa ilmu khasiat sebagian besar bersumber dari ilham ahli hakikat, dan itu pun sedikit:
فَمِنْ قَوَاعِدِهِمْ: أَنَّ كُلَّ اسْمٍ خَاصِّيَّتُهُ فِي مَعْنَاهُ، وَتَصْرِيفُهُ فِي مُقْتَضَاهُ، وَإِفَادَتُهُ فِي وَقْتِهِ، وَسِرُّهُ فِي عَدَدِهِ؛ وَتَأْثِيرُهُ عَلَى قَدْرِ المُتَأَثِّرِ بِهِ، وَذَلِكَ بِقَدْرِ الفَيْضِ وَالقَصْدِ وَالهِمَّةِ
Artinya: Di antara kaidah mereka: khasiat tiap nama ada pada maknanya, penerapannya pada tuntutannya, manfaatnya pada waktunya, dan rahasianya pada hitungannya. Pengaruhnya sesuai keadaan orang yang menerimanya, yaitu sebanding dengan limpahan, tujuan, dan kesungguhan.[25]
Jadi menurut Zarruq, hasilnya berbeda-beda antarorang. Beliau sendiri menyebut hal ini sebagai bahan kajian ahli hakikat, bukan rumus pasti yang berlaku sama untuk semua.
Batasan Akidah dan Syar’i
Karena itu kami menyajikan topik ini sebagai kajian sumber dan pandangan ulama, dengan beberapa batasan:
- Ini bukan panduan praktik atau jaminan hasil.
- Ini bukan hukum syar’i tentang suatu amalan. Untuk hukum amalan Asmaul Husna tertentu, tanyakan kepada ulama yang berwenang.
Peringatan Ulama terhadap Daftar “Seribu Nama”
Al-Khattabi, sebagaimana dikutip pentahqiq, menegur kebiasaan sebagian orang awam:
وَقَدْ يُوجَدُ فِي أَيْدِيهِمْ دُسْتُورٌ فِي الأَسْمَاءِ وَالأَدْعِيَةِ يُسَمُّونَهُ: «الأَلْفَ اسْمٍ» … أَكْثَرُهَا زُورًا وَافْتِرَاءً عَلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلْيَجْتَنِبْهَا الدَّاعِي إِلَّا مَا وَافَقَ مِنْهَا الصَّوَابَ
Artinya: Sering ditemukan pada mereka kumpulan nama dan doa yang disebut “Seribu Nama” … kebanyakannya dusta dan kebohongan atas Allah. Maka orang yang berdoa hendaknya menjauhinya, kecuali yang sesuai dengan kebenaran.[20]
Mengenal Syekh Ahmad Zarruq dan Kitab Syarh Asma’ Allah al-Husna
Kalau artikel ini banyak mengutip Syekh Ahmad Zarruq, wajar bila kita berkenalan dengan beliau. Berikut dua ulasan ringkas: biografi Syekh Ahmad Zarruq dan kitab Syarh Asma’ Allah al-Husna.
Siapa Syekh Zarruq?
Pentahqiq mencatat nama lengkapnya:
هُوَ الإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عِيسَى البَرْنُسِيُّ الفَاسِيُّ المَالِكِيُّ الشَّهِيرُ بِزَرُّوق، شِهَابُ الدِّينِ أَبُو الفَضْلِ
Artinya: Beliau adalah Imam Ahmad bin Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Barnusi al-Fasi al-Maliki, yang masyhur dengan Zarruq, bergelar Syihabuddin Abul Fadhl.[26]
Beliau lahir di Fes pada 846 H dan wafat pada 899 H di wilayah Tripoli. Di antara karyanya adalah Syarh al-Hikam al-‘Atha’iyyah dan Qawa’id at-Tashawwuf, kitab yang memadukan syariat dan hakikat.[26]
Pola Penulisan Kitab
Berdasarkan pemetaan isi kitab, tiap bab nama biasanya disusun dengan pola: makna dan asal kata, dalil, pendapat para masyayikh, tanbih (peringatan), at-taqarrub bi hadzal ism (cara mendekat dengan nama itu), dan terkadang khasiyyah. Pola ini membuat kitabnya terasa seperti panduan membaca nama, bukan sekadar kamus.
Lampiran Syarah Nazham ad-Dimyathi
Di bagian belakang, kitab memuat lampiran syarah atas nazham ad-Dimyathi tentang khasiat nama-nama Allah (hlm 175–214). Lampiran ini berisi banyak petunjuk praktik, sehingga kami tidak mengulangnya di sini. Pembaca yang ingin mengkaji sebaiknya merujuk kitabnya langsung dengan bimbingan guru.[27]
Dari Menghafal Menjadi Mengenal
Perjalanan kita dalam artikel ini bisa dirangkum dalam lima hal:
- Dalil. Asmaul Husna ditetapkan oleh Al-Qur’an dan hadis, di antaranya QS Al-A’raf: 180 dan hadis Abu Hurairah.
- Jumlah. Angka 99 membatasi janji pahala, bukan jumlah nama Allah.
- Riwayat. Daftar rinci ada di Tirmidzi dan Ibnu Majah, dengan perbedaan yang dihormati.
- Kerangka makna. Nama dipahami lewat dzat, tanzih, af’al, serta jalal, jamal, dan kamal.
- Adab. Hafal, pahami, berdoa, dan beramal dengan tenang, tanpa tergesa dan sebaiknya dengan bimbingan.
Selanjutnya, Anda bisa menjelajahi setiap kelompok nama di bagian daftar 99 nama untuk mendalami artinya satu per satu. Mulailah dari nama yang paling sering Anda butuhkan hari ini.
FAQ seputar Asmaul Husna
Apakah nama Allah hanya 99?
Tidak. Hadis tidak membatasi jumlah nama Allah, yang dibatasi adalah janji pahalanya.
- An-Nawawi menyebut para ulama sepakat bahwa hadis ini tidak membatasi nama-nama Allah.[5]
- Zarruq menjelaskan bahwa pahala dibatasi pada 99, sementara nama lain mungkin tidak kita ketahui atau tidak memiliki pahala khusus ini.[7]
Apa arti “man ahshaha” dalam hadis 99 nama Allah? Cukup menghafal saja?
Ada beberapa pendapat, dan menghafal hanya salah satunya.
- Menghafal, menghitung dalam doa, memahami, dan mengamalkan.[6]
- Zarruq merinci lima dimensi ihsha’: menghafal, dzikir, ilmu, ta’alluq, dan takhalluq.[11]
Bolehkah membuat nama baru untuk Allah atau memakai nama yang tidak ada dalilnya?
Tidak boleh menurut pendapat yang sahih. Nama Allah bersifat tauqifiyah, ditetapkan dengan nash atau ijma’.[3] Pendapat yang membolehkan penetapan dari perbuatan dan sifat dinilai lemah.
Bagaimana memilih Asmaul Husna untuk dzikir dan doa?
Sesuaikan dengan kondisi jiwa, lalu jaga adabnya.
- Dominan jalal, ambil nama jalaliyah; dominan jamal, ambil nama jamaliyah; dominan kamal, ambil nama kamaliyah.[22]
- Jangan tergesa-gesa, konsisten, dan sertakan guru atau teman saleh. Bila tidak ada, perbanyak istikharah.[28]




