Niat dan ikhlas merupakan dua perkara yang menjadi pondasi diterimanya seluruh amal seorang mukmin. Karena alasan inilah, Imam an-Nawawi rahimahullah membuka kitab masyhurnya, Riyadh ash-Shalihin, dengan Bab al-Ikhlash wa Ihdhar an-Niyyah fi Jami’il A’mal wal Aqwal wal Ahwal al-Barizah wal Khafiyyah (Bab Ikhlas dan Menghadirkan Niat dalam Setiap Amal, Ucapan, dan Keadaan, baik yang Tampak maupun yang Tersembunyi).
Pembahasan niat dalam Islam sesungguhnya menyentuh setiap dimensi kehidupan seorang muslim, mulai dari wudhu, shalat, puasa, sedekah, hingga urusan muamalah sehari-hari. Oleh sebab itu, ulama besar seperti Syaikh Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi al-Bakri al-Makki dalam Dalil al-Falihin li Thuruqi Riyadh ash-Shalihin memberikan syarah panjang lebar terhadap bab ini, sebagai gerbang awal menuju penghayatan seluruh ajaran Rasulullah ﷺ.
Tulisan ini menyajikan panduan utuh seputar niat dan ikhlas — dari definisi bahasa, kedudukan, dalil, hadits utama, pembagian, hingga penyakit hati yang dapat menggugurkan amal — semuanya dirujuk langsung dari sumber primer.
Pengertian Niat dan Ikhlas Secara Bahasa dan Istilah
Definisi Niat dalam Bahasa Arab
Secara etimologis, niat (النية) berasal dari kata an-nawa yang berarti maksud (al-qashd). Para ulama mendefinisikannya sebagai dorongan hati menuju perbuatan tertentu yang diiringi tekad pelaksanaan. Syaikh Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi dalam Dalil al-Falihin mengartikan:
النية بالتشديد مصدر أو اسم مصدر لغة: القصد. وشرعاً … قصد الشيء مقترناً بفعله
“Niat secara bahasa adalah al-qashd (maksud). Secara syara’ adalah maksud terhadap sesuatu yang disertai pelaksanaannya.1“
Apabila pelaksanaan suatu amal tertunda dari niatnya, maka istilah yang lebih tepat bukan lagi niat, melainkan al-‘azm (tekad). Pembedaan halus semacam ini menjadi pijakan penting dalam pembahasan fikih niat ibadah.
Definisi Ikhlas Menurut ar-Raghib al-Ashfahani

Imam ar-Raghib dalam kitabnya Mufradat Alfazh al-Qur’an memberikan definisi ringkas namun mendalam, sebagaimana dikutip dalam Dalil al-Falihin:
الإخلاص التعرّي عما دون الله تعالى
“Ikhlas adalah kosongnya (hati) dari segala sesuatu selain Allah Ta’ala.”2
Ungkapan singkat ini sesungguhnya mencakup makna yang sangat dalam: hati seorang mukhlis tidak menyimpan harapan akan pujian manusia, tidak takut kepada celaan, dan tidak mengharap balasan duniawi atas amalnya.
Definisi Ikhlas Menurut Imam al-Qusyairi
Sementara itu, Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi rahimahullah, tokoh besar tasawuf Sunni, mendefinisikan ikhlas sebagai:
الإخلاص إفراد الحقّ سبحانه وتعالى في الطاعات بالقصد، وهو أن يريد بطاعته التقربّ إلى الله تعالى دون شيء آخر
“Ikhlas adalah memurnikan al-Haqq subhanahu wa ta’ala dalam ketaatan dengan tujuan, yaitu seseorang menghendaki dengan ketaatannya itu pendekatan diri kepada Allah Ta’ala, tanpa tujuan lain.”3
Tujuan lain yang dimaksud al-Qusyairi mencakup berbuat-buat di hadapan makhluk, mencari pujian manusia, atau mengejar validasi, cinta dan sanjungan dari sesama. Dalam redaksi lain, beliau menyatakan:
الإخلاص تصفية العمل عن ملاحظة المخلوقين
“Ikhlas adalah membersihkan amal dari pertimbangan terhadap pandangan para makhluk.”4
Kedudukan Niat dalam Islam: Sepertiga Ilmu Menurut Imam Syafi’i
Pondasi Seluruh Amal Syar’i
Niat memiliki kedudukan agung dalam syariat. Syaikh Muhammad bin ‘Allan menegaskan:
والنية واجبة أول كل فعل شرعي لتوقف صحته عليها
“Niat wajib pada permulaan setiap perbuatan syar’i, karena keabsahan amal bergantung padanya.”5
Sedangkan menjaga kehadiran niat hingga akhir ibadah merupakan sunnah yang sangat dianjurkan. Karena itulah, hampir seluruh ibadah pokok seperti shalat, puasa, zakat, dan haji tidak akan sah tanpa niat.
Hadits Niat Mencakup Sepertiga Ilmu
Para ulama terdahulu sangat menjunjung tinggi hadits niat. Imam asy-Syafi’i rahimahullah dinukil banyak ulama menyatakan bahwa hadits innamal a’malu binniyat mencakup sepertiga ilmu agama dan masuk dalam tujuh puluh bab fikih. Hal ini disebabkan luasnya cakupan hadits tersebut, yang tidak hanya menyangkut ibadah mahdhah, tetapi juga adab, muamalah, hingga gerak hati seorang hamba.
Imam Bukhari menempatkan hadits ini sebagai pembuka kitab Shahih al-Bukhari. Imam an-Nawawi pun menjadikannya hadits pertama dalam Arba’in Nawawi dan Riyadh ash-Shalihin. Tradisi penempatan ini bukan kebetulan, melainkan isyarat akan pentingnya meluruskan niat sebelum mempelajari ilmu apa pun.
Empat Landasan Qur’ani tentang Niat dan Ikhlas
Imam an-Nawawi memilih empat ayat induk untuk mengawali pembahasan Bab Ikhlas. Keempatnya menjadi pijakan utama dalam memahami niat menurut Islam.
Surat al-Bayyinah Ayat 5
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
“Padahal mereka tidak diperintah, kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas menjalankan agama untuk-Nya secara hanif, dan agar menegakkan shalat serta menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah: 5)
Al-Hafizh as-Suyuthi dalam al-Iklil, sebagaimana dikutip dalam Dalil al-Falihin, menyatakan bahwa ayat ini menjadi dalil wajibnya niat dalam ibadah, sebab hakikat keikhlasan tidak akan terwujud tanpa niat.6
Surat Ali Imran Ayat 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
“Kalian tidak akan memperoleh kebajikan sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Dan apa pun yang kalian nafkahkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.”
Ayat ini mengajarkan bahwa hakikat al-birr (kebajikan) baru tercapai ketika seorang hamba sanggup menyerahkan sesuatu yang ia cintai untuk Allah, sebagaimana yang dilakukan sahabat Abu Thalhah saat mendermakan kebun Bairuha’ miliknya.
Surat al-Hajj Ayat 37
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.”
Imam al-Qurthubi mengutip Ibnu ‘Abbas yang menjelaskan bahwa ayat ini turun tatkala kaum jahiliyah mengoles Ka’bah dengan darah hewan kurban, lalu sebagian muslim hendak menirunya. Inti pelajarannya: yang dilihat Allah Ta’ala dari kurban bukan banyaknya daging, melainkan keikhlasan hati pelakunya.
Surat Ali Imran Ayat 29
قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ
“Katakanlah, ‘Jika kalian menyembunyikan apa yang ada dalam dadamu atau kalian tampakkan, Allah pasti mengetahuinya’.”
Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa Allah Maha Mengetahui isi hati. Niat yang tidak murni mustahil tersembunyi dari pengetahuan-Nya, walaupun secara lahiriah amal terlihat mulia di mata manusia.
Hadits Utama Bab Ikhlas Riyadhus Shalihin

Imam an-Nawawi menyusun dua belas hadits dalam Bab Ikhlas. Berikut tabel ringkasannya berdasarkan keterangan dalam Dalil al-Falihin:
| No | Perawi | Inti Hadits | Sumber |
|---|---|---|---|
| 1 | Umar bin al-Khaththab | إنما الأعمال بالنيات (Setiap amal tergantung niatnya) | Muttafaq ‘alaih |
| 2 | ‘Aisyah | Pasukan yang menyerang Ka’bah ditenggelamkan, dibangkitkan sesuai niat | Muttafaq ‘alaih |
| 3 | ‘Aisyah | لا هجرة بعد الفتح ولكن جهاد ونية | Muttafaq ‘alaih |
| 4 | Jabir bin ‘Abdullah | Sahabat di Madinah yang udzur tetap mendapat pahala | Muslim |
| 5 | Anas bin Malik | Kembali dari Tabuk: حبسهم العذر | Bukhari |
| 6 | Ma’n bin Yazid | Sedekah dinar yang diambil putra sendiri | Bukhari |
| 7 | Sa’ad bin Abi Waqqash | Wasiat sepertiga harta dan kalimat الثلث والثلث كثير | Muttafaq ‘alaih |
| 8 | Abu Hurairah | إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم | Muslim |
| 9 | Abu Musa al-Asy’ari | من قاتل لتكون كلمة الله هي العليا فهو في سبيل الله | Muttafaq ‘alaih |
| 10 | Abu Bakrah | Dua muslim bertemu dengan pedang, pembunuh dan terbunuh masuk neraka | Muttafaq ‘alaih |
| 11 | Abu Hurairah | Keutamaan shalat berjamaah bertambah 25–27 derajat | Muttafaq ‘alaih |
| 12 | Ibnu ‘Abbas | Hadits qudsi tentang penulisan kebaikan dan keburukan | Muttafaq ‘alaih |
| 13 | Ibnu ‘Umar | Tiga orang yang terkurung dalam gua, bertawassul dengan amal saleh | Muttafaq ‘alaih |
Redaksi Hadits Pertama: Innamal A’malu binniyat
Hadits paling agung dalam bab ini adalah riwayat Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى. فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amal-amal itu hanya tergantung niat. Dan setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya hanya sampai pada apa yang ia tuju.”7
Sabab al-wurud hadits ini, sebagaimana dijelaskan dalam Dalil al-Falihin, terkait kisah seorang lelaki yang berhijrah dari Mekah ke Madinah bukan karena Allah, melainkan demi menikahi seorang perempuan bernama Ummu Qais. Sejak peristiwa itulah lelaki tersebut dijuluki Muhajir Ummi Qais.
Pembagian Niat: Taqarrub, Tamyiz, dan Ijadi

Para ulama fikih membagi niat ke dalam tiga kategori utama. Pembagian ini tersirat dalam pembahasan Dalil al-Falihin mengenai hubungan niat dengan keabsahan dan pahala amal.
Niat Taqarrub
Niat taqarrub adalah niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Inilah inti keikhlasan, sebagaimana ditegaskan al-Qusyairi: hamba beribadah hanya untuk taqarrub ilallah, tanpa tujuan duniawi. Niat semacam inilah yang menjadi syarat diterimanya pahala.
Niat Tamyiz
Niat tamyiz berfungsi membedakan satu ibadah dari ibadah lain, atau membedakan ibadah dari kebiasaan. Misalnya, seorang yang menahan makan-minum dari fajar hingga maghrib bisa berstatus puasa wajib, puasa sunnah, atau sekadar diet. Pembedanya adalah niat. Demikian pula, niat membedakan shalat fardhu Zhuhur dengan shalat sunnah Rawatib.
Niat Ijadi al-Fi’li
Niat ijadi adalah niat untuk menghadirkan perbuatan itu sendiri. Setiap mukallaf yang berkeinginan melakukan suatu amal, secara otomatis sudah berniat. Inilah sebabnya Imam an-Nawawi menyatakan bahwa cukup niat itu hadir di dalam hati, tanpa harus dilafadzkan dengan lisan. Adapun pelafalan dengan lisan hanyalah penguat agar lebih khusyuk, dan ini termasuk sunnah dalam Madzhab Syafi’i.
Penyakit Hati yang Merusak Niat: Riya, Sum’ah, dan Ujub

Di akhir pembahasan ayat keempat, Dalil al-Falihin memberi peringatan keras:
وفي الآيات تنبيه للموفق على الإخلاص وتحذير له من الرياء، ولا يغترّ بخفائه ظاهراً فإن الله تعالى عالم بخفيات الأمور
“Pada ayat-ayat tersebut terdapat peringatan bagi orang yang diberi taufik untuk berlaku ikhlas dan mewaspadai riya. Janganlah ia tertipu oleh tersembunyinya (riya) secara lahiriah, karena Allah Ta’ala Maha Mengetahui rahasia segala perkara.”8
Tiga penyakit hati berikut harus diwaspadai oleh setiap pencari keikhlasan dalam ibadah.
Riya
Riya adalah amalan yang ditampakkan agar dilihat manusia, sehingga pelakunya mendapat pujian. Riya termasuk syirik ashghar (syirik kecil) yang dapat menggugurkan pahala suatu ibadah. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari memperpanjang shalat ketika ada orang lain, hingga sengaja memperlihatkan sedekah agar dianggap dermawan.
Sum’ah
Sum’ah adalah memperdengarkan amal kepada orang lain, biasanya dengan menceritakan ibadah yang sudah dikerjakan. Bila riya berkaitan dengan apa yang dilihat, sum’ah berkaitan dengan apa yang didengar. Keduanya sama-sama merusak nilai amal karena pelakunya mengharap apresiasi sesama makhluk.
Ujub
Ujub adalah merasa kagum kepada amal sendiri, seakan amal itu lahir murni dari kekuatan diri tanpa pertolongan Allah. Ujub berbeda dari rasa syukur. Orang yang ujub menisbatkan keutamaan kepada dirinya, sedangkan orang yang bersyukur mengembalikannya kepada taufik Allah Ta’ala.
Tabel Perbedaan Riya, Sum’ah, dan Ujub
| Aspek | Riya | Sum’ah | Ujub |
|---|---|---|---|
| Akar kata | الرؤية (melihat) | السماع (mendengar) | العجب (heran/kagum) |
| Sasaran | Pandangan orang lain | Pendengaran orang lain | Diri sendiri |
| Bentuk | Memperlihatkan amal | Membicarakan amal | Membanggakan amal |
| Akibat | Amal gugur | Amal gugur | Pahala terbakar |
| Status | Syirik kecil | Mirip riya | Penyakit hati |
Penerapan Niat dalam Ibadah Harian
Bagaimana seorang muslim mengaplikasikan niat dalam ibadah harian? Berikut panduan ringkas berdasarkan kaidah Dalil al-Falihin.
Niat dalam Wudhu dan Mandi

Niat dalam thaharah adalah syarat sah Madzhab Syafi’i. Pelafalannya tidak wajib, namun menghadirkan niat di hati ketika membasuh anggota wudhu pertama kali (yaitu wajah) hukumnya wajib.
Niat dalam Shalat
Niat shalat dilakukan bersamaan dengan takbiratul ihram. Niat memuat tiga unsur: qashd al-fi’l (maksud melakukan), ta’yin (menentukan jenis shalat: Zhuhur, Ashar, dan seterusnya), dan ta’arrudh lil-fardhiyyah (menyatakan kefardhuan, untuk shalat wajib).
Niat dalam Puasa
Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum fajar. Inilah yang disebut tabyit an-niyyah. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa niat puasa wajib dilakukan setiap malam, karena setiap hari Ramadhan merupakan ibadah yang berdiri sendiri (‘ibadah mustaqillah).
Niat dalam Zakat dan Sedekah
Niat zakat adalah syarat sahnya pembayaran. Kisah Ma’n bin Yazid radhiyallahu ‘anhu yang dimuat Dalil al-Falihin menjadi dalil bahwa pahala diukur dari niat. Ketika ayahnya, Yazid bin al-Akhnas, berkata kepada Rasulullah ﷺ tentang dinar sedekah yang justru diambil putranya, beliau ﷺ bersabda:
لَكَ مَا نَوَيْتَ يَا يَزِيدُ، وَلَكَ مَا أَخَذْتَ يَا مَعْنُ
“Bagimu apa yang kau niatkan wahai Yazid, dan bagimu apa yang kau ambil wahai Ma’n.”9
Niat dalam Aktivitas Mubah
Aktivitas mubah seperti makan, minum, tidur, hingga berhubungan suami-istri dapat bernilai ibadah jika diiringi niat menguatkan diri untuk taat. Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash yang dimuat dalam Bab Ikhlas mengukuhkan prinsip ini:
وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ
“Sesungguhnya tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan mengharap wajah Allah, melainkan engkau pasti diberi pahala karenanya. Bahkan termasuk sesuap makanan yang engkau suapkan ke mulut istrimu.”10
Perbandingan Pendapat Madzhab tentang Niat Puasa Ramadhan
Karena topik ini paling banyak ditanyakan, berikut tabel ringkasnya:
| Madzhab | Waktu Niat Puasa Ramadhan | Niat Sebulan Penuh |
|---|---|---|
| Hanafi | Boleh hingga sebelum tengah siang | Tidak cukup |
| Maliki | Cukup di malam pertama Ramadhan | Cukup untuk satu bulan |
| Syafi’i | Wajib setiap malam sebelum fajar | Tidak cukup, kecuali sebagai cadangan |
| Hanbali | Wajib setiap malam sebelum fajar | Tidak cukup |
Untuk pengaman, banyak ulama Nusantara menganjurkan menggabungkan niat Madzhab Syafi’i (setiap malam) dengan niat Madzhab Maliki (sekali untuk sebulan), sebagai bentuk kehati-hatian apabila lupa berniat di suatu malam.
FAQ Seputar Niat dan Ikhlas
Apakah niat harus dilafalkan dengan lisan?
Tidak wajib. Madzhab Syafi’i menyatakan niat tempatnya di hati. Adapun melafalkan niat dengan lisan termasuk sunnah, sekadar membantu hadirnya hati pada apa yang akan dikerjakan.
Bagaimana hukumnya jika lupa niat puasa Ramadhan?
Menurut Madzhab Syafi’i, puasa pada hari itu tidak sah dan wajib diqadha setelah Ramadhan. Karena alasan ini, sebagian ulama menganjurkan niat tambahan satu bulan penuh mengikuti Madzhab Maliki.
Apakah riya dalam ibadah membatalkan seluruh amal?
Riya yang menyertai sejak awal niat membatalkan amal tersebut. Adapun riya yang muncul di tengah ibadah, lalu segera ditolak hati, tidak otomatis merusak ibadah, selama pelaku tetap meneruskan amalnya karena Allah.
Apakah membagikan ibadah di media sosial termasuk riya?
Hukumnya bergantung niat. Jika tujuannya mendorong orang lain berbuat baik atau berbagi ilmu, hal itu diperbolehkan. Namun bila niat batinnya mencari pujian, hal itu termasuk riya atau sum’ah.
Apa perbedaan hadits niat (innamal a’malu binniyat) dengan ayat-ayat ikhlas?
Hadits niat menegaskan bahwa keabsahan dan ganjaran setiap amal bergantung niat. Adapun ayat-ayat ikhlas menegaskan bahwa niat itu harus murni karena Allah, bukan karena selain-Nya.
Mengapa niat berbeda antara Madzhab Syafi’i dan Maliki dalam puasa?
Madzhab Syafi’i menganggap setiap hari Ramadhan sebagai ibadah independen. Sedangkan Madzhab Maliki memandang Ramadhan sebagai satu kesatuan ibadah, sehingga cukup satu niat di awal.
Apa yang harus dilakukan jika sering tergelincir riya?
Para ulama menyarankan: memperbanyak ibadah sirriyyah (tersembunyi), muhasabah harian, memohon perlindungan Allah dari syirik kecil, serta merenungkan ayat dan hadits tentang ancaman riya.
Penutup: Renungan dari Bab Ikhlas
Bab Ikhlas yang disajikan Imam an-Nawawi dan disyarah panjang lebar dalam Dalil al-Falihin mengajarkan satu pelajaran abadi: amal sebesar gunung dapat tidak bernilai apabila niatnya rusak, sebaliknya amal sekecil biji sawi dapat menjadi tabungan akhirat bila dilandasi keikhlasan.
Para ulama klasik telah memberi contoh bagaimana mereka muhasabah niat sebelum, ketika, dan setelah beramal. Inilah jalan yang mestinya ditempuh setiap muslim agar tidak termasuk golongan yang disinggung dalam ayat:
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.”
Marilah pembaca senantiasa mengoreksi niat sebelum dan dalam setiap ibadah, agar bekal pulang menuju Allah Ta’ala benar-benar berbobot di sisi-Nya.
Daftar Pustaka (Bibliography)
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī al-Bakrī al-Shāfiʿī, Muḥammad ʿAlī ibn Muḥammad. Dalīl al-Fāliḥīn li-Ṭuruq Riyāḍ al-Ṣāliḥīn. Diedit oleh Khalīl Maʾmūn Shīḥā. Cet. ke-4. 8 jilid. Beirut: Dār al-Maʿrifah li-l-Ṭibāʿah wa-l-Nashr wa-l-Tawzīʿ, 1425/2004.
- al-Bukhārī, Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Ismāʿīl. al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ al-Musnad min Ḥadīth Rasūl Allāh ﷺ wa Sunanihi wa Ayyāmihi (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī). Sebagaimana dirujuk dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn.
- Muslim, Abū al-Ḥusayn Muslim ibn al-Ḥajjāj al-Qushayrī al-Naysābūrī. al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ (Ṣaḥīḥ Muslim). Sebagaimana dirujuk dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn.
- al-Nawawī, Abū Zakariyyā Muḥyī al-Dīn Yaḥyā ibn Sharaf. Riyāḍ al-Ṣāliḥīn min Kalām Sayyid al-Mursalīn. Sebagaimana disyarah dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn.
- al-Qurṭubī, Abū ʿAbd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad. al-Jāmiʿ li-Aḥkām al-Qurʾān. Dikutip dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:50.
- al-Qushayrī, Abū al-Qāsim ʿAbd al-Karīm ibn Hawāzin. al-Risālah al-Qushayriyyah fī ʿIlm al-Taṣawwuf. Dikutip dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49.
- al-Rāghib al-Iṣfahānī, Abū al-Qāsim al-Ḥusayn ibn Muḥammad. al-Mufradāt fī Gharīb al-Qurʾān. Dikutip dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49.
- al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn ʿAbd al-Raḥmān ibn Abī Bakr. al-Iklīl fī Istinbāṭ al-Tanzīl. Dikutip dalam Ibn ʿAllān, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:50.
- Sumber primer kajian ini: Bāb al-Ikhlāṣ wa Iḥḍār al-Niyyah fī Jamīʿ al-Aʿmāl wa al-Aqwāl wa al-Aḥwāl al-Bārizah wa al-Khafiyyah, dalam Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49–90.
Catatan Kaki
- Muḥammad ʿAlī ibn Muḥammad ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī al-Bakrī al-Shāfiʿī, Dalīl al-Fāliḥīn li-Ṭuruq Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, ed. Khalīl Maʾmūn Shīḥā, 4th ed., 8 vols. (Beirut: Dār al-Maʿrifah li-l-Ṭibāʿah wa-l-Nashr wa-l-Tawzīʿ, 1425/2004), 1:54. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49, mengutip al-Rāghib al-Iṣfahānī, al-Mufradāt fī Gharīb al-Qurʾān, s.v. “kh-l-ṣ”. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49, mengutip Abū al-Qāsim al-Qushayrī, al-Risālah al-Qushayriyyah, bab al-ikhlāṣ. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:49. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:50, mengutip Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, al-Iklīl fī Istinbāṭ al-Tanzīl, tafsir QS. al-Bayyinah: 5. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:51–57. Hadits muttafaq ʿalaih; lihat al-Bukhārī, al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ, hadits no. 1, dan Muslim, al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ, hadits no. 1907. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:51. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:66–67. Hadits riwayat al-Bukhārī, al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ. ↩︎
- Ibn ʿAllān al-Ṣiddīqī, Dalīl al-Fāliḥīn, 1:69–70. Hadits muttafaq ʿalaih. ↩︎




