Bulan suci Ramadhan menempati kedudukan yang sangat istimewa dalam literatur Islam klasik. Sebagai bulan yang dikhususkan oleh Allah SWT untuk pelipatgandaan pahala dan pengampunan, Ramadhan menuntut persiapan spiritual dan amaliah yang terstruktur dari setiap Muslim.
Artikel ini merupakan panduan komprehensif mengenai keutamaan, kesunahan, serta amaliah Ramadhan Kanzun Najah was Surur, sebuah karya monumental yang merangkum khazanah ibadah dan doa-doa eksklusif dari para ulama salaf. Seluruh rujukan di bawah ini digali langsung dari lembaran kitab tersebut guna memastikan keaslian sanad amaliah dan kedalaman maknanya secara akademik.
Keistimewaan Bulan Ramadhan dalam Literatur Klasik
Allah SWT telah menakdirkan waktu dan merinci musim-musim ketaatan bagi hamba-Nya. Di antara seluruh waktu tersebut, Ramadhan dipilih secara khusus sebagai wujud karunia terbesar bagi umat Nabi Muhammad SAW.
Penggandaan Pahala dan Pintu Ampunan
Ramadhan adalah bulan yang dikhususkan oleh Allah untuk memberikan maaf, ampunan, kabar gembira, serta rida-Nya. Di bulan ini, amal ibadah dilipatgandakan dan berbagai keutamaan datang berturut-turut. Pada bulan ini pula, pintu-pintu surga dibuka lebar, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu (hlm. 56).
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah khutbah panjang yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu di akhir Sya’ban, Ramadhan terbagi menjadi tiga fase spiritual utama:
«وهو شهر أوله رحمة، وأوسطه مغفرة، وآخره عتقٌ من النار»
Artinya: “Ia adalah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnya adalah pembebasan dari api neraka.” (hlm. 58)
Ramadhan Sebagai Bulan Turunnya Al-Quran

Keagungan esensial lain dari bulan ini adalah turunnya Kalam Qadim (Al-Quran). Allah SWT memberikan kabar gembira berupa surga dan kebaikan yang merata bagi siapa saja yang mendawamkan (merutinkan) tilawah Al-Quran di sepanjang hari dan malamnya (hlm. 57).
Fadilah dan Pahala Puasa Ramadhan
Ibadah puasa (shiyam) di bulan Ramadhan memiliki privilese khusus di hadapan Allah yang tidak dimiliki oleh ibadah lainnya, menjadikannya jalan pintas menuju rida Ilahi.
Dua Kebahagiaan Orang Berpuasa
Allah SWT menganugerahkan dua kebahagiaan paripurna bagi hamba yang berpuasa:
- Kebahagiaan saat ia berbuka puasa (farhatun ‘inda iftarihi).
- Kebahagiaan saat ia berjumpa dengan Tuhannya kelak (farhatun ‘inda liqaa-i rabbihi) (hlm. 56).
Hal ini ditegaskan dalam hadits qudsi di mana Allah SWT berfirman secara langsung:
«كل عمل ابن آدم له إلا الصومَ فإنه لي وأنا أجزي به»
Artinya: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (hlm. 56)
Khazanah Doa Berbuka Puasa Sepanjang Ramadhan

Kitab Kanzun Najah was Surur sangat kaya akan kompilasi doa (munajat) yang disusun oleh para ulama ‘Arifin billah. Berikut adalah rangkaian doa berbuka puasa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan.
1. Doa Menjelang Terbenam Matahari
Sebelum waktu berbuka tiba, sangat dianjurkan membaca kalimat tauhid, istighfar, dan permohonan surga berikut ini sebanyak tiga kali (hlm. 60):
أشهدُ أن لا إله إلا الله، أستغفرُ الله، أسألك الجنة وأعوذُ بك من النار (ثلاثا) اللهم إنك عفوٌّ كريمٌ تُحبُّ العفوَ فاعفُ عنّا (ثلاثا)
Asyhadu allaa ilaaha illallaah, astaghfirullaah, as-alukal jannata wa a’uudzu bika minan naar (3x). Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa (3x).
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku memohon ampun kepada Allah, aku memohon surga kepada-Mu dan berlindung kepada-Mu dari neraka (3x). Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah kami (3x).”
2. Doa Berbuka Puasa Riwayat Anas bin Malik
Berdasarkan riwayat Anas bin Malik dari Rasulullah SAW, barangsiapa yang membaca doa ini saat berbuka, maka ia keluar dari dosa-dosanya seperti hari ia dilahirkan oleh ibunya (hlm. 60):
يا عظيمُ يا عظيمُ أنت إلهي، لا إله غيرُك، اغفر الذّنب العظيم، فإنه لا يغفرُ الذنبَ العظيم إلا العظيمُ
Yaa ‘Azhiimu yaa ‘Azhiim, anta ilaahii laa ilaaha ghairuka, ighfiridz dzanbal ‘azhiim, fa innahuu laa yaghfirudz dzanbal ‘azhiima illal ‘azhiim.
Artinya: “Wahai Dzat Yang Maha Agung, wahai Dzat Yang Maha Agung, Engkau adalah Tuhanku, tiada Tuhan selain Engkau, ampunilah dosa yang besar, karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni dosa yang besar kecuali Dzat Yang Maha Agung.”
3. Doa Berbuka Puasa Lengkap (Kompilasi Riwayat)
Penulis kitab menggabungkan berbagai riwayat doa berbuka puasa menjadi satu kesatuan munajat yang sempurna untuk dibaca setelah membatalkan puasa (hlm. 60-61):
اللهم لك صمتُ وعلى رزقِك أفطرتُ وبك آمنتُ وعليك توكّلتُ ورحمتَك رجوت وإليك أنبتُ. اللهم ذهب الظمأ وابتلت العُروقُ، وثبت الأجرُ إن شاء الله تعالى، يا واسعَ الفضل اغفر لي. الحمد لله الذي أعانني فصُمتُ، ورزقني فأفطرتُ. اللهم إني أسألك برحمتك التي وسعت كل شيء أن تغفر لي، سبحانك وبحمدك تقبل منا إنك أنت السميعُ العليمُ. اللهم إنك عفوٌّ كريمٌ تُحبّ العفوَ فاعفُ عنّا يا كريمُ.
Allaahumma laka shumtu wa ‘alaa rizqika afthartu wa bika aamantu wa ‘alaika tawakkaltu wa rahmataka rajautu wa ilaika anabtu.
Allaahumma dzahabazh zhama-u wabtallatil ‘uruuqu wa tsabatal ajru insyaa-allaahu ta’aalaa, yaa waasi’al fadhli ighfir lii.
Alhamdulillaahil ladzii a’aananii fashumtu, wa razaqanii fa-afthartu. Allaahumma innii as-aluka birahmatikal latii wasi’at kulla syai-in an taghfira lii, subhaanaka wa bihamdika taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliim.
Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa yaa kariim.
Artinya: “Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa, dengan rezeki-Mu aku berbuka, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, rahmat-Mu aku harapkan, dan kepada-Mu aku kembali. Ya Allah, telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah di tetapkan pahala insya Allah Ta’ala. Wahai Dzat Yang Luas Karunia-Nya, ampunilah aku.
Segala puji bagi Allah yang telah menolongku sehingga aku dapat berpuasa, dan memberiku rezeki sehingga aku dapat berbuka. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu agar Engkau mengampuniku. Maha Suci Engkau dan dengan memuji-Mu, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah kami wahai Dzat Yang Maha Mulia.”
Sepuluh Malam Terakhir dan Lailatul Qadar

Amaliah Ramadhan Kanzun Najah was Surur mencapai puncaknya pada sepuluh malam terakhir, di mana tersembunyi satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hikmah agung dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar adalah agar umat Islam senantiasa mengagungkan seluruh malam di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh beribadah tanpa putus (hlm. 83-84).
Doa Khusus Lailatul Qadar (Riwayat Sayyidah Aisyah)
Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai munajat apa yang harus dibaca jika menjumpai Lailatul Qadar. Beliau mengajarkan doa berikut (hlm. 83):
اللهم إنك عفوٌّ كريمٌ تُحبّ العفوَ فاعفُ عنّا
Allaahumma innaka ‘afuwwun kariimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annaa.
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah kami.”
Zikir Sepuluh Malam Terakhir (Riwayat Ibnu Abbas)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa membaca zikir ini sebanyak tiga kali pada malam yang disangka sebagai Lailatul Qadar, pahalanya menyamai orang yang benar-benar menjumpai Lailatul Qadar (hlm. 84):
لا إله إلا الله الحليمُ الكريمُ، سبحان ربِّ السموات السبع وربِّ العرشِ العظيمِ
Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim, subhaana rabbil samaawaatis sab’i wa rabbil ‘arsyil ‘azhiim. (Dibaca 3x)
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia, Maha Suci Tuhan (pemelihara) langit yang tujuh dan Tuhan (pemilik) ‘Arsy yang agung.”
(Catatan: Rangkaian doa yang sangat panjang seperti Doa Qiyamul Lail karya Habib Umar bin Saqqaf, Doa Birrul Walidain, dan Doa Khatam Al-Quran Abu Harbah dapat Anda temukan secara utuh pada seri artikel turunan kami berikutnya).
FAQ Seputar Amaliah Ramadhan Kanzun Najah was Surur
Apa keutamaan memberi buka puasa (iftar) menurut kitab Kanzun Najah was Surur?
Memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa akan membuahkan pahala pembebasan budak dan ampunan dosa. Pahala agung ini tetap diberikan oleh Allah meskipun seseorang hanya mampu memberi buka dengan seteguk susu (madzqati labanin), seteguk air, atau sebutir kurma (hlm. 58).
Apakah ibadah menghidupkan malam (qiyamul lail) di bulan Ramadhan hanya terbatas pada Shalat Tarawih?
Tidak. Hadits yang menganjurkan qiyam di bulan Ramadhan bermakna qiyam secara mutlak (umum). Meskipun banyak ulama menyatakan bahwa tuntutan ibadah tersebut sudah bisa dicapai dengan melaksanakan Shalat Tarawih, namun bukan berarti ibadah qiyam itu tidak sah atau tidak terjadi kecuali hanya dengan Tarawih saja (hlm. 59).
Amalan apa yang disarankan pada malam pertama bulan Ramadhan agar dijaga setahun penuh?
Berdasarkan penjelasan Abu Bakar An-Naisaburi yang dikutip oleh Khatib Asy-Syirbini, barangsiapa yang membaca Surat Al-Fath (Inna fatahna laka fathan mubina) pada malam pertama bulan Ramadhan di dalam shalat sunnah, maka ia akan dijaga oleh Allah sepanjang tahun tersebut (hlm. 60).
Mengapa sangat dianjurkan membaca doa setelah khatam Al-Quran di bulan Ramadhan?
Membaca doa setelah mengkhatamkan Al-Quran adalah kesunahan yang sangat ditekankan (muakkad syadidan). Sebagaimana diriwayatkan dari Humaid Al-A’raj, barangsiapa yang membaca Al-Quran kemudian ia berdoa, maka akan ada 70.000 malaikat yang mengaminkan doanya tersebut (hlm. 74).
Apa doa khusus yang diajarkan Rasulullah SAW jika seseorang menjumpai Lailatul Qadar?
Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan doa singkat yang sarat makna untuk dibaca saat menjumpai Lailatul Qadar, yaitu: “Allahumma innaka ‘afuwwun karimun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna” (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia, Engkau menyukai kemaafan, maka maafkanlah kami) (hlm. 83).
Apa hikmah utama dirahasiakannya waktu pasti turunnya Lailatul Qadar?
Hikmah di balik disembunyikannya Lailatul Qadar adalah agar umat manusia senantiasa mengagungkan seluruh waktu di bulan Ramadhan dan bersungguh-sungguh beribadah di setiap malamnya (khususnya di sepuluh malam terakhir), bukan hanya memfokuskan ibadah pada satu malam tertentu saja (hlm. 84).
Penutup
Bulan Ramadhan adalah madrasah spiritual yang durasinya sangat terbatas. Kitab Kanzun Najah was Surur telah mewariskan peta jalan (roadmap) amaliah yang sangat terstruktur dari para ulama salaf, mulai dari fadhilah puasa, keutamaan memberi iftar, hingga bacaan munajat yang sarat akan nilai tauhid dan tasawwuf.
Menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan bacaan Al-Quran, Qiyamul Lail, dan untaian doa yang telah diajarkan di atas bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan upaya sungguh-sungguh untuk meraih ampunan total dan pembebasan dari api neraka. Semoga Allah SWT memberikan taufiq kepada kita untuk dapat mengamalkan tuntunan agung ini secara istiqamah hingga kita meraih predikat takwa yang sejati.
Referensi
‘Abd al-Ḥamīd bin Muḥammad ‘Alī Quds bin ‘Abd al-Qādir al-Khaṭīb, Kanz al-Najāḥ wa al-Surūr fī al-Ad‘iyah allatī Tashraḥ al-Ṣudūr (Al-Maktabah al-Syāmilah al-Dzahabiyyah), hlm. 56-91.




