Kebersihan spiritual dan fisik merupakan pilar utama dalam pelaksanaan ibadah di dalam syariat Islam. Memahami pengertian thaharah secara mendalam adalah langkah awal bagi setiap Muslim. Salah satu bentuk penyucian diri dari hadats besar adalah melalui ghusl atau yang lazim dikenal oleh masyarakat Nusantara sebagai mandi wajib atau mandi junub.
Proses penyucian ini bukan sekadar rutinitas membersihkan badan, melainkan sebuah ritual ibadah yang memiliki rukun, syarat, dan tata cara mandi wajib yang telah diatur secara rinci oleh para ulama ahli fikih.
Artikel ini menyajikan panduan mandi junub yang bersumber secara langsung dari literatur otoritatif Madzhab Syafi’i, yakni kitab Asna al-Matalib Syarh Rawd ash-Talib karya Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari (Juz 1, Halaman 64-71). Penjelasan berikut ini mengupas tuntas niat mandi wajib, tata cara mandi wajib yang benar, hingga rincian penyebab yang mewajibkan seseorang untuk bersuci.
Pengertian Mandi Wajib (Al-Ghusl) dalam Fikih Islam
Secara leksikal dan terminologis, Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari merincikan makna kata ghusl dengan penjabaran linguistik yang sangat presisi:
قوله: (باب الغسل.) هو بفتح الغين مصدر غسل الشيء، وبمعنى الاغتسال كقوله «غسل يوم الجمعة سنة» وبضمها مشترك بينهما وبين الماء الذي يغتسل به… وهو بالمعنيين الأولين لغة سيلان الماء على الشيء وشرعا سيلانه على جميع البدن
Secara bahasa, kata tersebut dapat dibaca dengan fathah pada huruf ghayn (ghasl), yang bermakna mengalirkan air pada sesuatu. Apabila dibaca dengan dhammah (ghusl), istilah ini digunakan oleh mayoritas ahli fikih untuk merujuk pada aktivitas mandi itu sendiri serta air yang digunakan untuk mandi. Adapun secara syar’i, mandi wajib didefinisikan sebagai mengalirnya air ke seluruh tubuh (secara merata) yang disertai dengan niat tertentu.
Hal-Hal yang Mewajibkan Mandi (Mujibat al-Ghusl)
Kapan seseorang diwajibkan untuk melaksanakan mandi besar? Berdasarkan teks Asna al-Matalib, terdapat lima hal yang menjadi penyebab wajibnya mandi (Mujibat al-Ghusl).
1. Kematian (Mawt)
Penyebab pertama adalah kematian seorang Muslim yang bukan dalam kondisi mati syahid.
قوله: (موت) لمسلم غير شهيد… والموت عدم الحياة ويعبر عنه بمفارقة الروح الجسد
Kematian dimaknai sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Bagi Muslim yang wafat secara wajar (bukan syahid di medan perang), fardu kifayah bagi kaum Muslimin yang hidup untuk memandikan jenazahnya sebagai bentuk pembersihan (tanzhifan) dan penghormatan (ikraman).
2. Berhentinya Darah Haid dan Nifas
Bagi kaum wanita, keluarnya darah haid atau nifas mewajibkan mandi junub. Kewajiban mandi ini jatuh pada saat darah telah benar-benar berhenti (inqitha’). Bagi muslimah yang membutuhkan rincian aplikatif mengenai hal ini, Anda dapat mempelajari panduan khusus mengenai tata cara mandi wajib haid yang benar menurut Islam.
قوله: (وخروج حيض أو نفاس بانقطاعه) أي معه لآية {فاعتزلوا النساء في المحيض} [البقرة: ٢٢٢]… وإذا أدبرت فاغسلي عنك الدم وصلي
Syarat sahnya wanita untuk kembali menegakkan shalat dan ibadah lainnya adalah dengan mandi wajib setelah darah dipastikan terputus. Nifas sendiri secara hukum diqiyaskan dengan haid, karena pada hakikatnya nifas adalah darah haid yang terkumpul selama masa kehamilan.
3. Melahirkan (Wiladah)
Proses persalinan mewajibkan seorang wanita untuk mandi wajib, sekiranya proses tersebut tidak disertai keluarnya darah nifas sekalipun.
قوله: (و) خروج (ولد ولو علقة ومضغة) و (بلا بلل) لأنه مني منعقد
Kewajiban mandi tetap berlaku meskipun yang keluar dari rahim baru berupa segumpal darah (‘alaqah) atau segumpal daging (mudhghah), serta meskipun bayi lahir dalam kondisi kering tanpa adanya kelembapan atau cairan ketuban (bila balal). Hal ini didasarkan pada argumen bahwa janin pada asalnya bermula dari air mani yang menggumpal.
4. Masuknya Hasyafah (Jima’) Meskipun Menggunakan Penghalang
Kondisi junub (janabah) terjadi melalui persetubuhan, yang secara spesifik didefinisikan sebagai masuknya hasyafah (kepala alat kelamin pria) ke dalam farj (kemaluan).
الأول بإدخال حشفة ولو من ذكر أشل… أو بحائل كخرقة لفها على ذكره ولو غليظة لخبر الصحيحين «إذا التقى الختانان فقد وجب الغسل» وفي رواية لمسلم «وإن لم ينزل»
Redaksi di atas sangat tegas menyatakan bahwa mandi wajib mutlak harus dilakukan apabila terjadi pertemuan dua kemaluan (iltiqa’ al-khitanain), meskipun persetubuhan tersebut:
- Tidak disertai keluarnya air mani (in lam yunzil).
- Menggunakan penghalang (ha’il) seperti kain yang dililitkan, atau dalam konteks modern menggunakan pengaman/kondom, sekiranya kain atau pengaman tersebut tebal sekalipun (wa law ghalizhatan).
- Dilakukan tanpa adanya syahwat, atau alat kelamin dalam kondisi lumpuh (asyal).
Peringatan: Persetubuhan dengan binatang atau mayat (meskipun merupakan dosa besar dan penyimpangan yang diharamkan) secara teknis fikih tetap mewajibkan pelaku untuk mandi besar.
5. Keluarnya Air Mani (Khuruj al-Mani)
Keluarnya air mani mewajibkan mandi junub, baik keluar dalam keadaan sadar maupun saat tidur (mimpi basah), dan baik keluar dari pria maupun wanita.
الأمر الثاني خروج المني أي مني الشخص نفسه الخارج أول مرة من رجل أو امرأة (ولو بعد غسل) من جنابة
Jika seseorang telah mandi junub, lalu sisa air maninya keluar kembali, maka ia diwajibkan untuk mengulang mandinya, berdasarkan sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya air (mandi wajib) itu disebabkan karena air (mani).”
Lantas, apa ciri air mani yang membedakannya dengan cairan lain seperti madzi? Teks Asna al-Matalib menyebutkan karakteristik spesifik berikut:
قوله: (ويعرف) المني (بتدفق)… (أو تلذذ) بخروجه… (أو ريح طلع أو عجين رطبا و) ريح (بياض بيض يابسا)
Karakteristik Air Mani:
- Keluar dengan cara memancar (tadaffuq).
- Disertai rasa nikmat (taladzdzudz) saat keluar, dan diikuti dengan melemasnya dzakar.
- Memiliki bau khas: seperti bau adonan roti atau mayang kurma (‘ajin/tala’) ketika basah, dan seperti bau putih telur (bayadh baydh) ketika telah mengering.
Apabila seseorang ragu apakah cairan yang keluar adalah mani atau madzi, hukumnya dikembalikan pada pilihannya:
قوله: (كمن شك هل الخارج من ذكره مني أو مذي) فإنه يخير بينهما (ويعمل بمقتضى اختياره) فإن جعله منيا اغتسل أو مذيا توضأ وغسل ما أصابه
Orang yang ragu tersebut bebas memilih. Jika ia menganggapnya mani, maka ia wajib mandi. Jika ia menganggapnya madzi, maka ia tidak perlu mandi wajib, melainkan cukup mencuci kemaluannya, membersihkan pakaiannya yang terkena najis madzi, dan wajib berwudu.
Rukun dan Syarat Sah Mandi Wajib

Agar mandi junub dinilai sah di sisi syariat, seseorang harus memenuhi rukun-rukun (kewajiban asas) berikut ini:
1. Niat Mengangkat Hadats Besar
Niat adalah rukun pertama. Niat di dalam hati harus dihadirkan secara bersamaan dengan basuhan air pertama ke bagian tubuh mana pun.
قوله: (وأقل الغسل) شيئان أحدهما (نية رفع الجنابة) أو نية رفع الحدث عن جميع البدن… (ويجب قرنها) أي النية (بأول فرض)
Seseorang dapat berniat dengan lafaz: “Saya berniat mengangkat janabah” atau “Saya berniat mengangkat hadats besar dari seluruh tubuh”. Jika seseorang berniat secara sengaja hanya untuk mengangkat hadats kecil (wudu) saat ia sedang junub, maka janabahnya tidak terangkat. Niat ini mutlak harus dibarengi (muqaranah) saat air menyentuh permukaan kulit atau rambut pertama kali. Jika niat diucapkan sebelum air menyentuh badan, lalu niat itu luput dari hati saat air disiramkan (‘uzub an-niyyah), maka mandinya tidak sah.
2. Meratakan Air ke Seluruh Tubuh (Ta’mim al-Badan)
Rukun kedua adalah memastikan air suci menyentuh seluruh rambut dan kulit luar manusia.
قوله: (و) الشيء الثاني (تعميم البدن بالماء شعرا) وإن كثف (وبشرا) وما ظهر من صماخ وأنف مجدوع… وما تحت قلفة
Air harus mengalir merata membasahi:
- Seluruh kulit luar (basyaran).
- Seluruh rambut, baik tipis maupun tebal/lebat (sya’ran wa in katsufa).
- Bagian luar lubang telinga (shimakh).
- Kulit di bawah kulup kelamin pria yang belum dikhitan (ma tahta qulfah).
- Bagi wanita, area yang tampak saat ia duduk untuk buang hajat (mima dzhahara min tsayyib qa’adat liqadha’ hajah).
Adapun bagian dalam rambut yang dikepang (dijalin), apabila air bisa masuk ke bagian dalamnya tanpa harus diurai, maka ikatan rambut tidak wajib diurai (wa la yajibu naqdhu dhufrin yashiluhu al-ma’). Berkumur dan memasukkan air ke hidung (madhmadah wa istinsyaq) hukumnya tidak wajib, melainkan sunnah.
Tata Cara Mandi Wajib Sesuai Sunnah (Kaifiyah al-Ghusl)

Bagi seorang Muslim yang ingin mengejar derajat kesempurnaan ibadah, hendaknya tidak mencukupkan diri pada rukun semata, melainkan mengamalkan tata cara mandi wajib sesuai tuntunan sunnah Nabi ﷺ. Urutan tata cara mandi yang paling sempurna (akmaluhu) adalah:
- Menghilangkan Kotoran: Terlebih dahulu membersihkan kotoran yang tampak pada tubuh, seperti sisa mani atau benda najis (izalah qadzarin wa najasin).
- Berwudu: Melaksanakan wudu secara sempurna sebagaimana wudu untuk shalat (tsumma al-wudhu’ kamilan).
- Menyela-nyela Tubuh: Menggosok lipatan-lipatan tubuh dan menyela-nyela pangkal rambut dengan air (ta’ahhud ma’athif wa ushul sya’r).
- Menyiram Kepala: Mengguyur bagian kepala sebanyak tiga kali (tsumma yafidhu ‘ala ra’sihi).
- Membasuh Tubuh Bagian Kanan dan Kiri: Mengguyur air ke tubuh bagian kanan, dilanjutkan dengan sisi tubuh bagian kiri. Setiap basuhan disunnahkan untuk diulang sebanyak tiga kali (tsumma syiqqahu al-ayman tsumma al-aysar bitatslits).
- Menggosok: Disunnahkan untuk menggosok anggota tubuh dengan tangan (dalk).
Terkait volume air, dianjurkan agar air yang digunakan untuk mandi wajib tidak kurang dari satu Sha’ (sekitar empat Mudd, atau setara dengan porsi standar ukuran tubuh Nabi ﷺ), sebagaimana sabda beliau. Mandi di dalam genangan air yang diam (air rakid) hukumnya makruh, dan sangat dianjurkan untuk mengambil air dengan gayung atau wadah dari genangan tersebut.
Anjuran Khusus bagi Wanita Pasca Haid dan Nifas
Kitab Asna al-Matalib memberikan panduan spesifik bagi wanita yang bersuci dari haid dan nifas untuk menggunakan wewangian (misk) pada sisa-sisa darah.
وأتبعت… أثر الدم مسكا… وإلا فطيبا وإلا فطينا والماء كاف
Dianjurkan menggunakan kapas yang diberi minyak wangi (misk) pada area kewanitaan untuk menghilangkan aroma tidak sedap dari sisa darah menstruasi. Jika tidak ada misk, dapat menggunakan parfum lain. Jika tidak tersedia parfum, wudu dan air yang bersih sudah mencukupi (wal ma’u kafin).
Larangan bagi Orang yang Sedang Junub dan Haid

Seseorang yang sedang menanggung hadats besar (junub, haid, atau nifas) terikat oleh beberapa ketentuan syariat yang mengharamkan aktivitas tertentu.
Larangan Membaca Al-Qur’an
Orang junub diharamkan membaca Al-Qur’an apabila ia secara sengaja berniat untuk membaca ayat-ayat suci (qishd al-qira’ah).
قوله: (يحرم على الجنب ما يحرم على المحدث وشيئان أحدهما القراءة) للقرآن (بقصدها ولو بعض آية)… (فلا يضر قراءة بنية الذكر) ك {سبحان الذي سخر لنا هذا} [الزخرف: ١٣] . الآية للركوب
Larangan ini sangat ketat, bahkan meskipun ayat yang dibaca hanya sebagian kecil. Namun, larangan ini gugur apabila bacaan tersebut diniatkan mutlak sebagai zikir, doa, atau wirid pelindung diri, bukan dengan niat membaca Al-Qur’an. Sebagai contoh, membaca doa naik kendaraan yang lafaznya diambil dari Surat Az-Zukhruf ayat 13 adalah diperbolehkan. Orang junub juga diperbolehkan membatin Al-Qur’an di dalam hati, memandang mushaf, atau menggerakkan lidah tanpa mengeluarkan suara (ihms).
Larangan Berdiam di Masjid
Berdiam diri atau menetap di dalam area masjid (mukts) merupakan larangan mutlak bagi orang yang junub.
(الثاني المكث والتردد في المسجد) لا عبوره لقوله تعالى {لا تقربوا الصلاة} [النساء: ٤٣] الآية قال ابن عباس وغيره أي لا تقربوا موضع الصلاة
Sekadar berjalan melewati dalam masjid atau melintas di dalamnya (‘ubur) diperbolehkan jika ada keperluan yang mendesak, seperti jalan tersebut adalah rute terdekat, tanpa diiringi kemakruhan. Akan tetapi, menetap di dalam masjid dilarang. Diberikan pengecualian bagi individu yang terkunci di dalam masjid atau takut atas ancaman terhadap jiwa maupun hartanya jika ia keluar. Dalam kondisi darurat ini, ia wajib bertayamum dengan debu masjid (jika bukan debu wakaf masjid semata).
Adapun hukum tidur di masjid, pada dasarnya diperbolehkan (wa la ba’sa binaumin fihi) asalkan tidak mempersempit ruang atau mengganggu orang yang shalat. Namun jika ia mengalami ikhtilam (mimpi basah) ketika tidur di masjid, maka ia wajib segera keluar melalui pintu yang paling dekat.
Etika Sebelum Makan, Minum, Tidur, dan Mengulang Jima’
Bagi individu yang sedang junub dan hendak makan, minum, tidur, atau mengulang kembali persetubuhan istrinya, sangat disunnahkan baginya untuk membasuh kemaluannya terlebih dahulu dan melakukan wudu persis seperti wudu untuk shalat.
قوله: (وسن) للجنب (غسل فرج ووضوء لجماع ولأكل وشرب ونوم كحائض بعد انقطاعه) أي الحيض
Hikmah dari anjuran berwudu ini adalah untuk meringankan kadar hadats pada tubuh, menjaga kebersihan asasi manusia, serta memberikan kesegaran fisik dan motivasi agar ia segera menunaikan mandi wajibnya.
Tabel Perbedaan Air Mani dan Madzi

Untuk memudahkan identifikasi cairan yang mewajibkan mandi junub, berikut ringkasan perbedaan cairan berdasarkan teks otoritatif:
| Indikator | Air Mani (Mewajibkan Mandi) | Air Madzi (Tidak Wajib Mandi) |
| Cara Keluar | Memancar/Tersendat (Tadaffuq). | Keluar halus tanpa disadari. |
| Sensasi | Disertai rasa nikmat syahwat puncak (Taladzdzudz) yang diikuti lemasnya kelamin. | Keluar saat syahwat mulai timbul tanpa diakhiri kondisi lemas. |
| Aroma (Basah) | Mirip adonan roti basah / mayang kurma (‘Ajin / Tala’). | Tidak memiliki aroma tajam yang spesifik. |
| Aroma (Kering) | Mirip bau putih telur kering (Bayadh Baydh). | Tidak memiliki aroma tajam. |
| Kewajiban | Mengharuskan Mandi Wajib / Mandi Junub. | Membatalkan wudu, harus dicuci (najis), tidak wajib mandi junub. |
Tanya Jawab Seputar Mandi Wajib (FAQ)
Berikut adalah kompilasi masalah fikih seputar mandi junub yang sering ditanyakan di masyarakat, dijawab murni dari teks Asna al-Matalib:
Apakah berhubungan badan memakai kondom mewajibkan mandi?
Teks fikih menyatakan bahwa hukum mandi wajib tetap jatuh ketika kepala kemaluan (hasyafah) masuk ke dalam kemaluan wanita, meskipun dibungkus oleh penghalang kain atau benda pelapis tebal sekalipun (aw bi ha’ilin wa law ghalizhatan). Karena syarat junub adalah bertemunya dua alat kelamin (iltiqa’ al-khitanain), bukan sekadar menempelnya kulit.
Apakah saya harus niat berwudu saat melakukan mandi junub?
Jika mandi yang dilakukan ditujukan untuk mengangkat janabah (hadats besar) secara keseluruhan, maka di dalam Madzhab Syafi’i (menurut pendapat yang paling sahih), hadats kecil akan otomatis ikut terangkat secara tadaakhul. Menyengaja wudu sebelum mandi sangat disunnahkan untuk meraih kesempurnaan. Apabila Anda batal berhadats (misal buang angin/kencing) di pertengahan mandi wajib, Anda cukup menyempurnakan sisa basuhan mandi, lalu ditutup dengan mengambil wudu secara terpisah di akhir mandi.
Bagaimana jika saya menemukan sisa air mani kering di pakaian setelah shalat?
Berdasarkan keterangan Syaikhul Islam Zakariyya al-Anshari, barangsiapa yang melihat bekas mani di pakaian atau tempat tidurnya dan tidak ada kemungkinan mani tersebut milik orang lain, ia wajib segera mandi junub, serta ia wajib mengqadha (mengulang) seluruh shalat yang telah ditunaikan sejak waktu tidur terakhirnya yang ia yakini belum disucikan darinya.
Apakah air sisa basuhan orang yang mandi junub menjadi najis?
Tidak. Teks menegaskan: (وفضل ماء جنب وحائض طهور); sisa air dari wadah yang digunakan oleh orang yang junub atau haid tetap berstatus suci dan menyucikan (Thahur), serta tidak makruh dipergunakan, dengan syarat air tersebut tidak berstatus air musta’mal (air sisa basuhan yang telah menetes dari tubuh).
Kesimpulan
Menjaga kesucian melalui mandi wajib bukan sekadar membersihkan raga, melainkan syarat fundamental diterimanya berbagai ibadah mahdah seperti shalat dan thawaf. Dengan berpegang pada panduan kitab Asna al-Matalib dalam Madzhab Syafi’i, kita dibimbing untuk melaksanakan ibadah ini secara presisi—mulai dari meluruskan niat hingga memastikan air membasahi seluruh anatomi tubuh. Mengamalkan tata cara ini dengan tertib sesuai sunnah tidak hanya menggugurkan kewajiban syar’i, namun juga mendatangkan ketenangan batin dan kesempurnaan ibadah di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Referensi
Zakariyā al-Anṣārī, Asnā al-Maṭālib fī Sharḥ Rawḍ al-Ṭālib, dengan ḥāsyiyah oleh Aḥmad al-Ramlī, disunting oleh Muḥammad az-Zuhrī al-Ghamrāwī (Kairo: al-Maṭbaʿah al-Maymānīyah, 1313 H; repr. Dār al-Kitāb al-Islāmī), juz 1, hlm. 64-71.




